
"Assalamualaikum!" ucap mereka bertiga serempak.
"Syifa, Syifa, main yok!" teriak Lia menggedor gedor pintu yang ada di hadapannya.
Lia memang orang yang tak sabaran dalam segala hal. "Syifa, aku bawa Rey mbayang loh." teriaknya lagi.
"Wa'allaikumsalam, sebentar!" jawab seseorang dari dalam sana.
"Ray woi, bukan Rey mbayang." ralat Ray yang tak terima namanya diubah ubah oleh gadis cabe rawit disebelahnya.
"Sama aja kak."
"Beda goblok," bela Dhea.
"Bodoh ah." jawabnya masa bodoh.
Detik kemudian, pintu terbuka yang menampilkan seorang gadis cantik yang seumuran dengan mereka tapi bedanya dia memakai hijab sedangkan Lia dan Dhea tidak.
"Hye ifa, apa kabar?" ucap Lia ber cipika cipiki dengan Syifa.
Ray terkejut melihat wanita yang yang namanya Syifa itu. Terkejut karena ia pernah secara tak sengaja berjumpa dengan gadis berhijab itu.
"Kamu?" ucap Ray tak percaya akan berjumpa lagi dengan gadis cantik tersebut.
"Egh, ini Kakak yang kemaren itu ya?"
Fllasback on
Malam itu adalah malam.....malam apa ya, kok aku yang lupa. Oke kita buat aja malam jum'at ya. Ini malam dimana Tyo mengadakan pesta perusahaanya.
Waktu itu Ray hendak kembali pulang ke rumah karena hari memang sudah larut. Namun saat masih ditengah perjalanan, ia tak sengaja menabrak seseorang yang hendak menyebrangi jalan.
Sebenarnya bukan sepenuhnya Ray yang salah, hanya saja wanita itu yang kurang hati hati. Disebabkan lampu penerangan jalan yang masih minim.
"Kamu gak kenapa kenapa?" tanya Ray meneliti setiap inci tubuh wanita itu, dia melihat telapak tangan wanita itu sedikit berdarah yang disebabkan goresan aspal.
"Gak papa kok." menarik tangannya yang dipegang oleh Ray.
Ray heran karena wanita itu melepaskan tangannya padahal kan niat Ray hanya ingin mengobati lukanya saja.
"Yahh, botol obatnya pecah. Aduh gimana ini, kan jalanya jauh. Gak mungin aku balik lagi, ini uda malam banget lagi." cerocos wanita itu dengan suara kecil agar Ray tak mendengarnya.
Namun perkiraannya salah, Ray ternyata mendengarnya karena telinga pria itu masih bersih.
__ADS_1
"Maaf. Gimana kalau aku antar kamu beli obatnya lagi?" tawar Ray. Disini niatnya hanya ingin membantu wanita itu, bukan untuk hal yang lain.
"Gak usah deh."
"Biar aku yang bayar," Ray mengira wanita itu menolak karena tak mampu membeli obatnya kembali.
"Gak usah, aku belinya besok pagi aja." tolak halus wanita itu.
"Egh jangan, kan aku yang udah buat obatnya rusak. Jadi aku juga yang harus tanggung jawab."
Wanita itu tampak berpikir lalu mengiyakan tawaran Ray. Ia memilih mementingkan kesehatan ibunya dari pada egonya.
"Yaudah, mari kak."
"Yuk berangkat!" ajak Ray lalu menyalakan mesin motornya. Dia juga membantu wanita itu naik keatas motornya yang memang agak tinggi itu.
"Terimakasih."
Fllasback Off
"Iya, ini aku," ucap Ray tersenyum lalu menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Syifa.
"Kenalin aku Ray."
Ray menarik tangannya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Heheh, maaf ya."
Jangan tanyakan apa ekspresi Dhea dan Lia sekarang. Karena mereka sebagai penonton hanya bisa tertawa lucu melihat kedua si joli dihadapan mereka saat ini.
"Masuk yuk," ajak Syifa mempersilahkan.
"Makasih." ucap Dhea.
Dhea tersenyum melihat bentuk rumah Ryan dari dalam seperti sekarang. Desain rumah yang indah pikirnya. Tapi bila di pikir-pikir, melihat dari bentuk rumahnya, sepertinya Ryan dan Tyo memiliki selera yang sama.
"Silahkan diminum." kata Syifa meletakan minuman dan camilan dihadapan ketiga orang itu.
"Makasih banyak." serempak mereka.
"Fa, kenalin ini Dhea sahabat aku," kata Lia mulai memperkenalkan Dhea yang ada disebelahnya.
"Hye, aku syifa." ucapnya ramah.
"Hye, aku Dhea."
__ADS_1
"Kamu tau gak, Dhea ini siapa?" tanya Lia membuat Dhea menyenggol kuat lengannya.
"Enggak." jawab Syifa jujur karena memang ia tak pernah berjumpa dengan Dhea sebelumnya.
"Dia ini istri dari bos Kak Ryan, loh. Pak Tyo yang tampan itu." goda Lia membuat Dhea merasa tak enak. Dhea takut Syifa menjadi segan kepadanya.
"Wah, enak donk." ucap Syifa tersenyum senang meski dihatinya ada sedikit rasa sakit mendengar kenyataan itu.
Sedikit info, Syifa juga menyukai Tyo yang merupakan bos kakaknya.Dia menyukai pria itu sebab Tyo pernah beberapa kali pernah berkunjung kerumahnya untuk sekedar menjemput atau mengantar berkas berkas pekerjaan dengan Ryan.
Mulai dari situlah Syifa menyukai Tyo. Selain ketampanannya,Tyo juga pria yang sukses dalam segala bidang. Meski sedikit angkuh dan dingin, tapi itu semua di karenakan ia malas mengakrabkan diri dengan 'orang lain' termasuk Syifa yang walaupun adek dari sahabat sekaligus asistennya.
"Hehehe, Lia nya lebay. Gak usah didengerin," bantah Dhea.
"Heem. Tapi kamu beruntung banget ya bisa dapetin Kak Tyo, hehe." Kata Syifa membuat Ray menatap heran gadis di hadapannya itu.
Ray berpendapat kalau Syifa itu menyukai kakaknya juga.
"Iya." ujar Dhea malu malu.
"Ekhem, Aku gak dikenalin nih?" ucap Ray seraya memakan beberapa camilan. Ia sengaja berdehem untuk menyadarkan ketiga gadis itu bahwa masih ada dia juga di ruangan tersebut.
"Egh iya, hampir gak lupa kan." canda Dhea,
"Kenalin Sif, ini Kak Ray. Dia adik Kak Tyo yang berarti adik ipar aku. Aku sengaja manggilnya kakak karena lebih tuaan dia." kata Dhea memperkenalkan Ray. Senngaja tidak mengatakan kalau Ray adalah pamannya.
"Owhh, adek Kak Tyo toh."
"Iya, ganteng kan?" pede Ray menaikturunkan alisnya.
"Hehehe, iya." jawab Syifa malu malu.
"Idih, pede amat Kak." Lia berdecih.
"Realita emang begitu kan?"
"Iyain, kita gak tau umur orang."
"Hahaha!" Dhea dan Syifa tertawa dibuatnya. Sedangkan Ray, ia kesal dengan ucapan Lia.
"Doain nya yang baik baik donk!"
"Hmm"
__ADS_1