
Pukul satu siang Dhea baru siap menyelesaikan segala kegiatan belajar di kampusnya. Dia begitu terkejut saat melihat Tyo yang ternyata sudah menjemputnya dan menunggu tepat didepan pintu masuk kampus.
Otomatis itu membuat siapa saja yang tak sengaja melihat suaminya, maka akan singgah sebentar dan mengajaknya berbicara.
Dhea melipat tangan didepan dada sambil memandangi Tyo yang sesekali melempar senyum kepada para cabe cabean didekatnya. Yang Dhea yakini, perempuan perempuan centil itu merupakan kakak seniornya di kampus.
Sebenarnya senyum Tyo bukan senyum ramah, tapi senyum terpaksa agar cabe cabean itu pergi meninggalkannya.
"*Wow....ternyata kau playboy sekali."
"Untung dia suamiku, kalau tidak. Sudah aku cincang cincang tubuhnya itu*" kesal Dhea lalu berjalan santai menuju pintu depan kampus dengan pandangan lurus ke depan.
Dia berpura pura tidak mengetahui keberadaan Tyo, dan memilih melewatinya begitu saja. Dhea tak peduli. Ia sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan Tyo kepadanya.
Namun ketika hendak melewati Tyo, dia mendengar pria itu memanggil namanya.
"Dhea!" Dhea masih masa bodoh,
"Sayang!" Dhea masih tetap tidak peduli dan lanjut berjalan,
"Istri kecilku!" kalimat Tyo sukses membuat Dhea terhenti dan berbalik menatap sinis pria itu.
"*Apa? istri?"
"Tuh bocil udah married aja ya, gak nyangka gua. Padahal setau gue tuh muka nya polos beut deh."
"Mendingan sama gua aja dah, gua lebih bahenol."
"Kecil kecil, udah married aja lu tepos."
"Ngeri banget sumpah, suaminya sial banget dapetin dia yang model tepos begituan. Mana **** nya pas-pasan buat di remas, apalagi bokongnya. Pasti suaminya gak puas."
"Sama aku aja kak."
"Kak tolong lamar aku, udah gak tahan ini.*"
Suara para cabe cabean saling bersahutan untuk menyindir Dhea atau menggoda Tyo.
Tyo tak perduli dengan ucapan mereka dan memilih menarik tangan gadis itu masuk ke mobil.
Mobil melaju meninggalkan tempat itu, menuju tak terbatas dan melampauinya. skip.
"Kok kamu acuhin saya sih?" tanya Tyo.
Dhea masih terdiam dan menatap kearah luar jendela. Iaa tak memperdulikan pertanyaan Tyo, dan masa bodo tentunya. Anggap saja tidak ada orang, pikir Dhea.
"Dhea jawab!" kali ini nada suara Tyo naik dua oktaf. Tyo sudah merasa bosan di kacangi terus menerus oleh Dhea. Padahal dia tidak tau dimana letak kesalahannya.
__ADS_1
Pada akhirnya, Dhea mengalah dan menolehkan pandanganya kearah pria itu. Meski hanya terpaksa.
"Apa?" tanya dia ketus.
"Astaga sayang," Tyo benar benar frustasi dengan perubahan sikap Dhea, "Kamu kenapa sih, sikap kamu itu kok berubah banget."
Tyo hendak mengambil tangan Dhea tapi langsung ditepis oleh si pemilik tangan.
"Uncle yang berubah, jangan bawa bawa aku segala ya." ucap Dhea dengan penuh penegasan.
"Aku berubah? Berubah seperti apa yang kamu maksud?"
"Ntah." jawab Dhea acuh tak acuh.
"Huh!"
"Oke sekarang aku jujur, Dhea melakukan ini karena aku melihat Uncle berduaan dengan Kak Tania, dan bahkan kalian berciuman," menjeda sebentar kalimatnya, lalu menarik nafas dalam dalam dan membiarkan air matanya lolos kembali.
"Hiks, hiks, Awalnya Dhea gak nyangka, tapi bukti mengarah kalau Uncle uda selingkuh sama Kak Tania. Sekarang aku mau Uncle jujur sama aku, Uncle selingkuh kan sama Kak Tania? hiks, hiks."
"Astaga Dhea, ternyata kamu melihatnya."
Dhea mengangguk dan menghapus kasar air matanya yang terus saja keluar.
"Hiks, Dhea benarkan?"
"Tidak sayang, kamu sudah salah paham, karena cerita sebenarnya adalah....."
Fllashback On
Siang itu, Tyo baru saja menyelesaikan meeting nya disalah satu cafe ternama di kota Jakarta.
Saat hendak beranjak dari duduknya, dia terkejut karena dengan tiba tiba Tania datang dan berlutut dibawah kakinya.
"Mau apalagi kau?" tanya Tyo ketus.
"Hiks, hiks, Aku ingin kita kembali lagi seperti dulu yo, aku gak pengen kita pisah kayak gini. Dulu, hiks, kamu kan pernah pernah janji sama aku kalau kamu gak akan pernah ninggalin aku, yo."
Tyo tak menjawab dan memilih duduk kembali di kursinya. Dia memijit pelan pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa lelah.
"Jangan bercanda!"
"Aku serius, yo." Tania berhenti menangis dan menatap serius pria di hadapannya.
"Kau memang wanita gila," ucap Tyo sarkas.
"Jika kau memang tidak mau kembali denganku, maka biarkan aku memelukmu sebentar."
__ADS_1
"Cih, jangan mimpi kau! Jika kau memang tidak punya malu, setidaknya tau dirilah."
"Emm baiklah. Jika kau tidak mengizinkanku maka kau akan melihat Dhea secepatnya terkubur dibawah tanah," ancam Tania serius.
Tyo terkejut, dan menatap marah pada wanita gila itu.
"Apa mau mu, hah?!"
"Tenangkan dirimu Tyo," ujar Tania dengan nada menggoda, "Aku hanya ingin memelukmu, sayang."
Dengan sebisa mungkin, Tyo menahan emosi dan mengangguk tanda menyetujui.
"Cepat!"
Tania merasa sangat senang dan langsung duduk dipangkuan Tyo, dia memeluk erat tubuh mantan kekasihnya dan mencium bibir Tyo meski tak mendapat balasan sama sekali.
Tyo sengaja mengiyakan tawaran Tania, karena ia tahu Tania adalah gadis yang sama seperti psikopat.
Dia akan melakukan berbagai cara agar mengalahkan lawannya. Tania itu adalah wanita yang cerdik.
Fllashback Off
"Seperti itu ceritanya sayang," ucap Tyo diakhir cerita.
"Yakin itu benar?" tanya Dhea yang saat ini merasa senang karena suaminya tidak jadi selingkuh.
"Iya sayang."
Cupp
Dhea mengecup cepat bibir Tyo.
"Makasih uncle."
"Kau sudah menggodaku dan harus bertanggung jawab sayang." ujar Tyo yang kini tangannya sudah masuk menjelajahi kedua bukit kembar milik Dhea. Dia melepas satu persatu kancing kemeja yang gadis itu pakai dan langsung melahapnya rakus.
"Awhh." ringis Dhea karena Tyo menggigit kecil di bagian dadanya,
"Emmhh," lenguh Tyo lalu mengalungkan tangan Dhea ke lehernya.
Setelah puas dengan gundukan tersebut, Tyo menaikkan rok Dhea dan memasukan miliknya kedalam sangkar sesungguhnya.
"Ahh,"desah Dhea menikmati setiap sentuhan Tyo ditubuhnya.
"I love you, baby!"
"I love you to, uncle!"
__ADS_1