Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Rumah baru dan kehidupan yang baru.


__ADS_3

Hallo readers!!!


Jangan lupa kasih Like, komen dan vote ya.


gabolleh pelit pelit, ntar kuburan sempit.. canda.


Kalau gak mau kasih vote, like aja gapapa kok. tinggal pencet doank


Hari ini Tyo sudah diperbolehkan pulang dari Rumah sakit. Pria itu menyuruh asistennya untuk menjemputnya langsung di Rumah sakit.


"Emm bun,Tyo udah nyuruh Ryan buat jemput kami. Jadi ayah bunda tidak perlu repot repot mengantar kami, tidak masalah kan?" Tanya Tyo, merasa tak enak.


"Gapapa Tyo, nanti kalian langsung ke Aprtement kamu ya?"


"Enggak yah, kami akan langsung ke rumah baru yang sudah aku beli sebulan yang lalu. tadi aku udah nyuruh Ryan buat Beres beres rumah itu, jadi kami tinggal menempati." Ucap Tyo.


Dia memang sudah membeli rumah impiannya sebulan yang lalu. Tyo bermaksud setelah menikah, ia akan membangun rumah tangga yang harmonis di rumahnya itu.


"Ya sudah kalau begitu," melirik Dhea "Kamu mau kan nak?" Dhea mengangguk.


"Aku bakal ikut kata uncle aja." Tersenyum menatap Tyo. Tyo pun membalas senyum manis Dhea. Semanis madu.


Lisa mendekat ke putrinya dan menuntun Dhea duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Sang ibu menatap lekat lekat wajah putrinya, lalu berucap.


"Sayang sebelumnya kami minta maaf sama kamu." Menghela nafas berat.


"Karena sekarang kamu udah ada yang jaga, kamu tidak keberatan kan kalau ayah bunda meninggalkan mu untuk sementara waktu ini."


Dhea tampak berpikir, "Jadi Dhea ditinggal lagi nih?" tanyanya berusaha memaksakan senyumnya.


Lisa mengangguk. "Untuk beberapa Bulan ini kami masih harus ada di London sayang, sebab Proyek ayah kamu masih belum selesai. Kami percayakan kamu dengan Tyo, jadi kamu gak apa apa kan?"


"Ayah bunda janji ya sama Dhea, kalian gak bakalan menetap selama lamanya disana?"


"Janji sayang!" mereka kemudian berpelukan.


Untuk beberapa saat Dhea masih memeluk bundanya itu. Padahal mereka baru saja tiba di Indonesia, tapi harus pergi lagi. Namun Dhea hanya bisa memaklumi saja.


Usai Lisa mengangkat jempolnya ke arah Bastian, dan dibalas anggukan dari suaminya itu.


Sedangkan Tyo? dia hanya menyaksikan siaran langsung tersebut. Pria itu tersenyum ketika Dhea tidak sama sekali menangis. Biasanya kan Dhea cengeng, pikirnya. Tapi ya sudahlah, mungkin Dhea berusaha tegar didepan orangtuanya.


Tak lama setelahnya, bunyi pintu terbuka yang menampilkan sosok Ryan, berpakaian setelan jas rapi sambil membungkukkan badannya ke arah mereka.


"Tuan, Mobilnya sudah siap." Tyo mengangguk. Tyo turun dari ranjang dibantu oleh Dhea.


Kemudian, Dhea membereskan semua barang barang Tyo, dan pamit kepada Ayah bundanya.


"Ayah, Bunda, Dhea pamit ya." ucapnya menyalami kedua orangtuanya yang diikuti oleh Tyo.

__ADS_1


"Iya sayang, jangan lupakan tugasmu sebagai seorang istri." ucap Lisa menasehati Dhea, dan dibalas dengan anggukan.


"Tyo, Ayah titip Dhea sama kamu ya, awas aja kalau macam macam, saya gorok kamu." kata Bastian.


Tyo ngeri melihat ayah mertuanya itu. "Papa, Tyo jadi takut lah."


Detik berikutnya, tawa mereka semua, pecah begitu saja.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Sekarang mereka sudah sampai didepan rumah barunya Tyo.


Ryan keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Tyo. Dhea yang melihat itu, berdecih tak suka.


"*Mentang mentang dia bosnya, trus pake pake dibukain pintu segala."


"Lah gua turun gitu aja, gua kan cewe, jadi tolong peka, adek perlu diperhatiin bang, bukan di kacangin."


"Huwaa, cedih deh."


"Gua kenapa dah, gak jelas Banget*"


Batin Dhea.


Gadis itu pun turun dari mobil dengan perasaan sedikit kesal. Kemudian, ia terkagum dengan apa yang ada didepanya.


Sebuah rumah berlantai dua, Dengan kolam renang disampingnya dan taman yang tidak terlalu luas. desain rumah ini tampak elegant.



Gadis itu masih fokus ke arah depan, sampai tak sadar kalau tangan Kiri Tyo sudah menyatu dengan jari jari lentiknya.


"Gimana? kamu suka kan dengan rumah baru kita? " Tanya Tyo sambil memandangi wajah istri kecilnya itu.


Dhea tersadar dan menoleh kesamping. Dirinya dapat melihat Tyo saat ini sedang menatapnya lembut.


"Kita?" Tanya nya bingung.


Sepertinya ia sedang beroura-pura lupa jika sekarang statusnya sudah menjadi istri kecil Tyo.


"Iya, kita! Aku, kamu dan anak anak kita nantinya." Ucap Tyo dengan mengedipkan sebelah matanya.


Dhea kaget. Detik itupula wajahnya berubah merona. Ia menjadi Blushing setelah mendengan perkataan Tyo.


Dhea tersadar. "Maafin Dhea uncle, tapi Dhea belum siap. Tolong kasih Dhea waktu untuk menerima keadaan yang sekarang ya uncle."


Gadis itu menunduk sedih. Tyo yang melihat Dhea seperti itu hanya bisa tersenyum kecut. Pria itu mengangkat kepala Dhea, agar gadis itu bisa menatapnya.


"Uncle paham sayang, Uncle bakal setia nunggu kamu, dan tetap berjuang!" serunya menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Dhea tersenyum puas. Bagaimana pun, ia masih belum siap untuk menjadi seorang ibu diusianya yang masih terbilang muda. Bahkan gadis itu belum merasakan manis nya masa masa muda.


"Yasudah, mari kita masuk." Sebelum Tyo melangkah, ia kembali berbalik dan melihat Ryan masih setia didepan mobil.


"Kau pulang saja. Besok aku tidak bekerja," katanya pada Ryan. Ryan pun mengangguk, dan pergi meninggalkan rumah Tyo.


Tyo kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah barunya tersebut.


"Wih, akhirnya aku punya rumah juga." ucap Dhea memandang takjub seluruh isi rumah. Terdapat banyak sekali ruangan di dalamnya.


Dilantai atas terdapat 3 kamar, sedangkan dilantai dasar ada 4 buah. Ada dapur yang jendelanya langsung menghadap ketaman belakang. Ruang Televisi, Ruang Tamu, dan apalah itu.


Dhea berbalik, memandangi Tyo yang juga memperhatikan dirinya. Gadis itu berjalan mendekat, dan memeluk lengan kiri Tyo.


"Uncle, kamar Dhea yang mana ya?" Tanya nya dengan menampilakan senyum manisnya. Andalan untuk meluluhkan hati siapa pun


Tyo terkekeh dengan tingkah lucu Dhea. "Mau tau?" Dhea mengangguk.


"Kamar kita dilantai atas."


Seketika Dhea terdiam.


Tak lama, ia tersadar dan memukul pelan lengan Tyo. "Dhea mau pisah kamar uncle!"


Tyo menngngguk, dan memaksakan senyum nya. "Uncle bercanda sayang, Kamar kamu ada dilantai atas, disamping kamar uncle"


Dhea mengecup sekilas pipi kiri Tyo. "Makasih uncle."


Ia hendak melangkah untuk melihat kamarnya. Namun seperti ada yang mengganjal. Dhea berbalik, menoleh pada Tyo.


"Baju baju Dhea gimana uncle?" tanyanya. ia memang tidak sempat pulang ke rumah untuk mengambil bajunya.


"Semua barang barang kamu uda dipindahin kekamar baru kamu sayang."


Tyo berjalan mendahului Dhea yang masih kebingungan. Detik berikutnya Dhea tersadar, dan mengikuti Tyo yang juga hendak kelantai atas.


"Kamu lapar gak?" ucapnya pada Dhea.


"Enggak, Dhea masih kenyang, kan tadi baru makan di Rumah sakit."


"Oh oke, sebentar lagi bik nur sampai, dia juga bakal ikut tinggal disini, dan seminggu sekali pulang kerumahnya."


"Wow, bagus donk. Dhea jadi ada teman plus bisa masak masak bareng." tersenyum mebayangkan ia dan bik Nur memasak Brownies coklat kesukaanya.


Tyo tersenyum melihat Dhea bahagia. Dia tahu kalau istrinya itu suka memasak, jadi dia sengaja menyuruh bik Nur untuk tetap tinggal disini.


part selanjutnya aku bakal kasih visualnya ya. jadi tetap semangat buat dukung Author.


tinggalkan jejak, tapi jangan tinggalkan Bacaan nya.

__ADS_1


Btw konflik nya bakalan aku buat seseru mungkin, jadi tenang aja, tetap setia menunggu yah.


__ADS_2