
Like, komen,dan vote.
aku tunggu vote nya ya.. biar aku semakin semangat!!!
Hari ini adalah hari senin, dimana semua orang harus melakukan aktifitasnya kembali setelah akhir pekan.
Sama halnya dengan Dhea, pagi ini dia akan berangkat ke sekolah untuk mempersiapkan segala kelengkapan saat perpisahan untuk beberapa minggu lagi.
Ketika dia turun ke lantai bawah, ia sedikit terkejut melihat Tyo yang sudah duduk manis di meja makan.
"Uncle kok uda kerja?" Tanyanya setelah mendudukkan diri dihadapan Tyo.
"Kan uncle uda sehat." balas pria itu sambil menggoyang goyangkan tangan kanannya ke arah kanan dan kiri.
"Bagus donk, tapi kalau masih sakit uncle langsung istirahat aja ya."
Tyo mengangguk. "Nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Tyo sambil mengoleskan selai kacang ke roti bakarnya.
"Hmm, mungkin jam 11-an," tebak Dhea sambil meneguk segelas susu putihnya.
"Biar nanti supir saya yang jemput kamu."
"Okeh!"
Setelah menghabiskan sarapannya, Dhea dan Tyo pergi berangkat bersama sama. Awalnya Dhea menolak ketika Tyo ingin mengantarnya ke sekolah, namun apalah daya bila sudah diancam jadi istri durhaka bila tak menuruti kemauan suaminya.
"*Enak banget ya, ngancem ngancem gua,"
"Pake bawa bawa istri durhaka lagi,"
"Apalah daya diriku bila tampa syurga*"
Batin Dhea masih kesal.
"Kamu marah?" Tanya Tyo setelah mereka berada di dalam mobil.
"Enggak." Dhea menjawab acuh.
"Gak baik diemin suami kayak gini, bisa bisa kamu jadi ist-"
"STOP!" potong Dhea.
"Udah ya uncle, gak usah sosoan pake ngancam segala, iya iya aku gak marah nih." Ucap gadis itu sambil menampilkan senyum Pepsodent nya.
Tyo tersenyum setelah menjahili istrinya. Semakin sayang saja ia dibuatnya.
Tidak butuh waktu lama saat mobil Tyo sudah memasuki pekarangan luas sekolah Dhea. Ia hanya bisa mengantar gadisnya itu sampai disini.
"Ya sudah, Dhea pamit ya uncle." Dhea berpamitan sambil menyalami tangan Tyo.
__ADS_1
"Kamu baik baik belajarnya,"
"Udah mau lulus kalau uncle lupa."
Tyo tampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bisa bisanya ia lupa kalau Dhea sudah menyelesaikan ujiannya dan tinggal perpisahan saja.
"Heheh, uncle lupa." ucap Tyo dengan cengiran kudanya.
"Iyah, Assalamualaikum."
"Wa'allaikumsalam sayang."
Dhea keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Ia akan bertemu teman temannya, karena sebentar lagi mereka akan lulus.
***
Bel sekolah telah berbunyi, menandakan seluruh siswa kelas 12 diperbolehkan untuk pulang kerumahnya mereka masing masing.
Dhea dan Lia berjalan bersama ke area pagar sekolah, diselingi perbincangan tentang kejahilan Dhea tadi sewaktu dikelas.
"Eh De, gua kayaknya udah dijemput deh." Kata Lia sambil menunjuk sebuah mobil berwarna hitam.
"Yaudah, pergi sono, gua juga udah dijemput nih." ujar Dhea ketika melihat supir pribadi Tyo yang hendak datang menghampirinya.
Setelah berdada ria dengan Lia, Dhea masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil pun berjalan meninggalkan area sekolahan.
Ia bingung akan dibawa kemana, karena jalan yang saat ini dia lalui bukan jalan menuju rumah Tyo dan dirinya.
"Tuan Tyo mengatakan kalau saya harus mengantar nona ke kantor saja."
"Hah?"
"Tuan Tyo mengatakan, ingin mengajak nona untuk makan siang bersama."
Dhea membalas dengan hanya ber'oh saja.
Setelah sampai dilobi kantor Tyo, Dhea dibuat takjub dengan gedung yang menjulang tinggi dihadapannya.
"Kok lebih besar dari kantor ayah ya?" gumam Dhea.
Gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung. Dhea melihat seorang resepsionis wanita dan segera menghampirinya.
"Maaf dek, kamu sedang mencari siapa?" Tanya resepsionis itu. Dari name tag nya Dhea bisa tahu kalau namanya adalah Almira saraswati.
"Hmm, saya ingin bertemu dengan uncle Tyo kak." ucap Dhea ramah.
"Maaf kamu siapanya?" Tanya Almira lagi. Ia ragu dengan gadis dengan berseragam Sma dihadapannya itu.
"Saya?" Dhea tampak berpikir "Keponakanya, ia saya keponakanya uncle Tyo." ujarnya cepat.
__ADS_1
"Tapi sepertinya saya tidak pernah melihat kamu dekat dengan Pak Tyo."
"Gak harus juga kan kak, segala sesuatu itu buat dipamerin." kata Dhea sambil tersenyum sinis.
"Kalau begitu, saya telpon dulu ke asisten Ryan." Dhea mengangguk. Kemudian wanita itu memencet beberapa nomor dan telpon pun tersambung.
"Hallo asisten Ryan, saya ingin memberitahukan bahwa dimeja saya ada seorang gadis berseragam Sma mengaku sebagai Keponakanya pak Tyo," Almira berbicara panjang lebar setelah sambungan telponnya terhubung dengan asisten Ryan.
"Suruh saja masuk menggunakan Lift VVIP." ucap Ryan dari sebrang sana.
Almira menganga tak percaya dengan ucapan Ryan. Namun, dengan cepat pula ia merubah ekspresinya, "Oke baiklah." Telpon pun terputus.
"Nona silahkan masuk saja melalui Lift VVIP." Katanya ramah sambil menunduk.
Lift VVIP adalah lift khusus untuk CEO perusahaan Tersebut, dan hanya bisa digunakan oleh Tyo dan Ryan. Sedangkan untuk para rekan rekan bisnis dan para investor, akan melalui Lift VIP.
"Terima kasih, tapi ruangan uncle Tyo ada di mana ya?" Tanya Dhea. Dia memang baru pertama kali datang ke kantor Tyo.
Selama ini walau Dhea keponakan Tyo, dia tetap tidak pernah diajak kekantor Tyo. Alasannya, tunggu ia sudah besar barulah diperbolehkan terjun ke dunia bisnis.
Menurut Dhea itu hanya alasan belaka, sebab dia kan hanya ingin mampir, bukan untuk bekerja.
"Dilantai 27 nona, lift nya tinggal lurus dari sini kemudian belok kearah kanan." Almira menginstruksi menggunakan tangan kanannya.
"Okeh baiklah, saya permisi dulu."
Dhea melangkahkan kakinya meninggalkan meja receptions. Memutuskan untuk tetap berjalan lurus kedepan dan bukan belok ke kanan.
Gadis itu malas bila harus melewati Lift istimewa itu. Ia berpikir bahwa ia adalah orang baru, dan dia tidak ada istimewanya sekali pada Tyo.
Dhea masuk kedalam lift yang biasa digunakan oleh karyawan dan memencet angka dimana ruangan Tyo berada.
Setelah lama menunggu, Dhea akhirnya sampai dilantai teratas gedung tersebut, segera keluar dari Lift dan melangkahkan kakinya menuju ruangan Tyo.
Gadis itu bingung sendiri, kenapa ditempat yang luas seperti ini hanya terdapat 3 ruangan. Yaitu Ruangan yang paling besar adalah Ruangan Tyo. Disamping depannya ada ruangan asisten Ryan, dan di sebrang ruangan asisten Ryan ada ruangan sekretaris Tyo.
Ia terus melangkahkan kakinya menuju Ruangan yang paling pojok, yaitu ruangan Tyo.
Setelah sampai didepan pintu, Dhea menatap gagang pintu dan kemudian membukanya perlahan.
Ceklek
Okeh, besok aku bakal Up lagi.
jadi tetap setia terus ya dalam menunggu kehadiran diriku.
Hahah, ngarep aku ya. gapapa la sekali kali.
Jangan Lupa Follow aku ya, Aku auto Follback kok.
__ADS_1