
Pagi ini, mereka semua sarapan penuh dengan canda tawa. Dan tentu saja Dhea yang menjadi bahan candaan mereka.
Dhea tak marah, justru ia merasa senang karena akhirnya anggota keluarganya lengkap kembali. Meski tak ada Mami dan Papi mertua Dhea.
"De, kamu berangkatnya sama aku kan?" tanya Ray yang sudah lebih dulu menghabiskan sarapannya.
"Ya!" jawab Tyo dan bukan Dhea.
"Iyain, biar cepet," kesal Dhea.
Dia sebenarnya agak malas berangkat ke kampus bersama Ray, karena semua idola Ray mengira bahwa dirinya adalah pacar Ray.
"Harus sayang, biar Ray bisa jaga kamu. Kalau pulang baru bisa sama Lia," terang Tyo memperingati.
"Heem," bangkit dari duduknya, "Kalau gitu kami pergi dulu yah." ucap gadis itu kemudian menyalami tangan kedua orangtuanya diikuti dengan Ray.
Beda dengan Tyo, karena pria itu akan mengecup lama kening Dhea dan baru boleh mempersilahkan Dhea setelah memeluknya.
Seperti itulah kira kira salam berpamitan menurut mereka berdua.
"Udahan peluknya, ntar kita telat. Lagi pula nanti kan bisa disambung lagi," Ray dengan nada menyindirnya membuat Bastian dan Lisa tertawa.
"Yehh, sirik!"
"Makanya kamu menikah!" balas Tyo mengejek.
"Bodo amat!" katanya santai lalu keluar dari rumah.
"Hati hati sayang, jangan nakal nakal ya." peringat Tyo yang memperlakukan Dhea layaknya anak kecil yang masih duduk di bangku sd
"Iya. Dhea pergi ya bun yah, Uncle. Byee!" Dhea berjalan menyusul Ray yang sudah ada di mobilnya, takut-takut jika Ray akan meninggalkannya.
"Udah?" tanya Ray ketika Dhea sudah ada disampingnya.
"Hem."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, mereka berdua tidak mau terburu buru dan memilih bergosip tentang dosen yang ada di kampus mereka. Mulai dari yang killer, yang baik, sampai yang masa bodoh.
Entahlah, itu hanya urusan pribadi mereka mau mengomentari tentang macam macam sikap dosen yang mengajar di kampus mereka. Lagipula, manusia tidak dilarang untuk menilai dan berkomentar bukan? Selagi masih di batas kewajaran.
***
Disaat mata kuliah sudah habis, Lia mengajak Dhea untuk makan di Cafe favoritnya. Dia sudah lama tidak berkunjung ke Cafe tersebut dikarenakan sibuk mengurus suami.
"Mari kita turun nyonya." ajak Lia ketika mereka sudah sampai disalah satu cafe favorit Lia.
"Yuk!" semangat Dhea.
Mereka terus melangkahkan kaki masuk kedalam cafe, namun saat sudah memasuki cafe, Dhea terkejut dan menghentikan langkahnya ketika melihat Tyo yang saat ini sedang bersama dengan Tania.
__ADS_1
Dhea terdiam. Seperti merasakan sesuatu yang sesak di dalam dadanya.
Tak terasa air mata Dhea turun begitu saja ketika melihat Tania dengan santainya duduk dipangkuan Tyo dan memeluk pria itu erat. Lebih parahnya lagi, Tyo sama sekali tak menolak dan malah membalas pelukan Tania.
Kemudian Tania mencium bibir Tyo meski Tyo tak membalas. Tapi, tetap saja kenapa pria itu mau menerimanya.
Sumpah demi apa! hati Dhea benar benar sakit menyaksikan itu didepan matanya sendiri.
Hampir saja ia jatuh jika Lia tidak menangkapnya dan memeluknya erat. Kemudian Lia membawa Dhea keluar dari cafe itu. Jujur saja, Lia juga sama terkejutnya dengan Dhea ketika menyaksikan hal tersebut.
"Sabar De, sini peluk." ucap Lia menenangkan ketika mereka sudah ada didalam mobil.
Dhea menerima pelukan Lia dan menangis sejadi jadinya di pelukan sahabatnya itu, "Hiks hiks, Uncle Tyo jahat!"
"Sabar ya de, mungkin kita hanya salah paham." Lia sengaja mengucapkan itu agar berusaha meyakinkan Dhea. Dia juga mengelus lembut punggung Dhea.
"Hiks, hiks, sak-it Li." Dhea menekan dadanya kuat berharap bisa menghilangkan rasa sakit yang teramat didalam sana.
"Tenangkan dirimu de, jangan menyakiti dirimu hanya karena masalah itu. Coba nanti kamu tanyakan kepada paman Tyo apa maksud mereka melakukan itu." Lia menjeda sebentar,
"Mungkin apa yang kita lihat tidak seperti kenyataannya. Bisa saja kan paman Tyo melakukan itu hanya karena terpaksa atau karena unsur lainnya?" lanjutnya lagi.
"Iya."
Lia baru bisa menjalankan mobilnya ketika keadaan Dhea sudah tidak menangis lagi. Dalam perjalanan ke rumah Dhea, tak ada perbincangan diantara mereka berdua.
Lia sibuk mengendarai mobil, sedangkan Dhea hanya menatap kosong kearah luar jendela, Pikirannya saat ini masih melayang tentang apa yang dilihatnya di Cafe tadi.
Lia hanya memakluminya dan membiarkan Dhea menenangkan diri terlebih dahulu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya bunda ketika melihat Dhea memasuki rumah dengan mata sembab.
"Gak kenapa kenapa bun, tadi dijalan ada kecelakaan makanya Dhea nangis liatnya." ucap Dhea yang tentunya berbohong.
"Owhh, kalau gitu kamu mandi trus istirahat ya. Badan kamu kayaknya lelah banget itu."
Dhea mengangguk dan masuk kedalam kamarnya. Ralat, kamarnya dan kamar Tyo.
Setelah sampai di kamarnya, Dhea segera menjatuhkan diri di atas kasur.
"Hiks, hiks, Uncle jahat!" Dhea terisak sambil memukul keras guling yang ada ditempat tidur.
Dia melampiaskan semua kekesalannya kepada si guling. Setelah puas, barulah dia melakukan aktifitas mandi.
4 jam berlalu setelah kejadian tadi, kini saatnya semua anggota keluarga makan malam. Dhea turun kebawah terlebih dahulu setelah melihat Tyo masuk ke kamar. Entah kenapa, ia jadi malas untuk bersitatap dengan suaminya.
Sepulang kerja, Tyo membersihkan diri dan ikut bergabung dengan mereka dimeja makan.
"Maaf menunggu," ucap Tyo kemudian duduk disamping Dhea.
__ADS_1
"Selamat makan!" ucap Ray mewakilkan Dhea. Karena memang biasanya gadis itu yang mengucapkannya.
"Selamat makan!" balas mereka semua terkecuali Dhea.
Gadis itu hanya mengaduk aduk makanannya tanpa berniat memakannya. Dia menatap kosong kearah piring dan berusaha menahan air mata agar tidak jatuh lagi dan lagi. Cukup sudah ia menangis, Dhea sudah lelah dengan semuanya.
"Kamu kenapa sayang?" kata Tyo hendak memegang tangan istrinya dan langsung ditepis oleh Dhea.
Tyo merasa sangat aneh dengan perubahan sikap Dhea yang sekarang.
Tentu saja itu mengundang banyak pertanyaan oleh mereka semua, tak terkecuali Tyo yang sudah menyadari perubahan wanitanya semenjak memasuki kamar.
Kalau biasanya ketika Tyo sudah pulang kerja, maka Dhea akan menyambutnya dan menyalami tangannya. Sangat berbeda dengan tadi, karna Dhea mengabaikanya dan berjalan begitu saja meninggalkannya.
"Kamu kenapa nak?" tanya Bastian.
"Emm!" menaikkan kepalanya dan bisa melihat tatapan bingung dari semua orang. "Gak kenapa kenapa yah, Dhea cuma ngantuk," katanya berdiri dari duduknya.
"Dhea tidur duluan ya."
"Tapi makananmu belum habis." teriak Tyo karena Dhea sudah melenggang begitu saja.
Setelah menghabiskan makanannya, Tyo juga ikut berpamitan kepada Bastian dan Lisa untuk menyusul Dhea ke kamar.
Pria itu naik keatas ranjang dan memeluk Dhea dari belakang.
"Kamu kenapa?"
"Gak kenapa kenapa!"
"Ooh."
"Hanya ooh saja?" tanya Dhea kemudian membalikan badannya agar bisa berhadapan dengan Tyo.
"Heem."
"Tumben gak minta jatah?"
"Lagi gak pengen." jawab Tyo singkat padat dan jelas.
Ucapan Tyo membuat Dhea semakin yakin kalau suaminya itu telah berselingkuh dan akan pergi meninggalkannya.
"Bosan?" tanyanya berusaha melepaskan tangan Tyo dari pelukannya.
"Enggak akan pernah sayang, cuma saya lagi capek."
"Ooh." tutur Dhea kemudian tidur membelakangi sang suami. Hatinya kembali sakit karena Tyo membiarkannya begitu saja.
"Bodoh sekali aku yang mudah percaya dengan mulut manisnya."
__ADS_1
"Kau memang perempuan bodoh Dhea!"
Dhea terus merutuki diri dan menangis dalam diam. Dia bahkan sampai menggigit keras bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara tangisan.