Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Rindu Dengan Bunda


__ADS_3

"LIA, TUNGGUIN GW!" teriak Dhea disepanjang koridor.


Lia berhenti dan menoleh kebelakang, dilihatnya Dhea sedang berlari ke arahnya.


"Hah hah, gw pulang bareng lu ya, hah!" ucapnya sambil ngos ngosan dan berusaha mengatur nafasnya.


Setelah nafasnya kembali normal, Dhea melirik Lia yang sedari tadi diam. Gadis itu mengikuti arah pandang Lia, dan mendapati seorang guru killer bernama Bu Rina sedang berdiri didepan kelas 11 tepat di samping kedua wanita sekarang.


"Heheh, maaf buk mengganggu, pendengaran Lia agak sedikit berkurang buk makanya saya teriak teriak." ucap Dhea beralasan sambil nyengir nyengir gak jelas.


"Iyakan?!" tanya Dhea kepada sahabatnya itu dengan memelototkan mata.


"Heheh iya buk." jawab Lia akhirnya.


"Kalian itu sudah mengganggu murid kelas 11 yang sedang belajar, kalian mah enak enggak belajar, tapi adik adik kalian. Kalian berdua juga harus kasih contoh yang baik, supaya adik kelas kalian bisa mengikutinya, dan kamu( Menunjuk Dhea), sekali lagi saya dengar kamu teriak teriak, bakal saya suruh kamu bersihin seluruh koridor ini. Mengerti?" ceramah buk Rina panjang lebar.


"Mengerti buk!" jawab mereka berdua secara bersamaan.


"Yaelah, gitu amat sibuk. **Le**bay banget deh." Batin Dhea kesal.


"Yasudah kalau begitu kalian boleh pergi," ucap Buk Rina kemudian masuk kedalam kelas dengan menutup pintu secara kasar.


Dhea mengelus dadanya yang terkejut dengan suara pintu tadi, kemudian menarik tangan Lia menuju parkiran.


"Yawloh, kok gitu amat sih punya guru," ujar Lia mengingat nasehat buk Rina.


Dhea bergidik, "Tau ih, serem gua liatnya."


"Tapi tenang aja, kita kan udah mau lulus, jadi gak bakalan jumpa lagi tu sama buk rina."


"Ntar rindu loh."


"Gak bakal."


Kemudian kedua gadis itu masuk kedalam mobil, dan segera melajukan mobil meninggalkan parkiran sekolah.


"Li gua ke rumah lu ya?"


"Hmm."


Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Lia.


Lia memberi kunci mobilnya kepada satpam dan mengajak Dhea masuk kerumahnya.


"Assalamualaikum," ucap mereka serentak.


"Wa'allaikumsalam," Jawab seorang wanita cantik yang seumuran dengan ibunya Dhea, yang tak lain adalah Mirna ibu dari Lia.


"Hye mami, apa kabar?" tanya Dhea, lalu berpelukan manja dengan Mirna.

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat, sayang."


Dhea melepaskan pelukannya dan melirik Lia yang sedang fokus kepada ponselnya.


"Mam, dede bolehkan main bareng sama Lia?" tanya gadis itu sambil tersenyum lebar. Dhea memang sudah menganggap ibu dari sahabatnya itu sebagai ibunya juga.


"Boleh donk, sayang."


"Makasih mam." ucap Dhea tersenyum riang.


"Lebay lo!" ujar Lia sambil memasukan hpnya kembali kedalam tasnya.


"Yaudah mi kami ke kamar dulu ya," ajak Lia yang dibalas anggukan dari sang mami.


"Eh eh, kalian udah pada makan belom? " Tanya mirna memastikan. Ia tidak mau anak anaknya itu sakit hanya karna terlambat makan.


"Tadi disekolah uda makan kok mi."


"Baguslah, nanti mami anterin cemilan sama minumnya ke kamar kamu ya Li?" tanpa menunggu jawaban, Mirna kemudian berjalan kearah dapur.


Lia dan Dhea pun berjalan kelantai atas tempat kamar Lia berada. Dhea berjalan duluan didepan karena memang ini bukan pertama kalinya ia datang ke rumah Lia.


Bahkan ia sudah hapal dengan semua isi rumah Lia.


"Sabar sikit napa de," kesal Lia dengan sahabatnya itu yang jalan dengan tergesa gesa.


"Capek gua." ucap Dhea sambil terus berjalan cepat menaiki tangga.


Setelah sampai di kamar Lia, Dhea langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur milik Lia, bahkan tak lupa pula melempar tasnya ke sembarang arah.


"Huh nyamanya"


Tak lama Lia masuk dan melihat sahabatnya itu sudah terkapar tak jelas di atas kasurnya.


"Sepatu tolong diamankan!" cerca Lia dengan nada menyindir.


"Hmm," masih belum beranjak.


"Sampai hitungan ke 3 kalau belum lo lepas juga tu sepatu gua smackdown lu!"


"1,"


"Iya iya gua lepas nih," Potong Dhea cepat.


Dengan malas ia bangkit dari rebahan indahnya dan melepaskan sepatu nya, kemudian menaruhnya di samping pintu kamar Lia.


Baru saja dia akan merebahkan tubuhnya, namun suara dering ponsel mengusik.


"Hape lo bunyi kayaknya de." ucap Lia memberikan ponsel yang tadi diletakan Dhea di atas nakas.

__ADS_1


Seketika wajah suram Dhea berubah ceria setelah melihat nama pemanggil yang tertera dilayar ponselnya.


"Hallo yah." ucapnya girang setelah panggilan terhubung.


"Hallo sayang, kamu apa kabar?" tanya bastian disebrang sana.


"Baik baik yah, kalau ayah sama bunda gimana?" tanya balik gadis itu sambil melirik Lia yang juga ikut mendengarkan perbincangannya.


Lia tersenyum senang melihat wajah bahagia Dhea. Ia juga tahu kalau sahabatnya itu sangat merindukan orangtuanya, namun gadis itu berusaha menyembunyikannya.


"*A*yah sama bunda baik baik sayang, sekarang kamu lagi dimana? " Tanya Bastian.


"Dhea lagi ada di rumah Lia yah, buat main bareng bareng."


"Okeh baguslah, ini bunda mau ngomong loh." ucap bastian karena sedari tadi istrinya negebet pengen ngomong dengan putri semata wayangnya.


"Hallo sayang, kamu uda makan belum? " Tanya Lisa disebrang sana.


Suara pintu terbuka berbunyi, menampilkan mirna dengan membawa nampan berisi 2 gelas jus mangga beserta cemilan. Wanita itu berjalan mendekat dan menaruh nampan tersebut di atas nakas, kemudian ikut duduk bergabung bersama kedua putrinya itu.


"Udah tadi bun, eh bun disini ada mami mirna loh, bunda gak kepengen ngomong ya? " tanya Dhea sambil melirik Mirna yang ada didepannya.


"Boleh sayang, kamu kasih handphone nya ya."


Dhea memberikan ponselnya kepada Mirna.


"Hai jeng Lis, bagaimana kabar kalian disana?"


"Hai jeng, kami disini baik baik aja. Kalian juga sehat sehat aja kan? " Tanya Lisa.


"Baik kok, Kamu kapan pulangnya?"


"Belum jelas jeng, aku titip putriku ya, kamu jaga dia juga ya jeng." ucap Lisa sedih karena rindu dengan putri kecilnya itu.


"Jeng tenang aja, Dhea juga kan anak aku, jadi aku bakal jagain dia." ujar Mirna meyakinkan.


"*Terim*akasih ya jeng, aku tutup teleponya dulu ya."


Telpon terputus kemudian Mirna memberikan ponsel itu kepada Dhea.


"Makasih mam." ucap Dhea.


"Sama sama sayang. Kalau kamu mau sesuatu, kamu jangan sungkan sungkan minta sama mami ya, kan mami juga ibu kamu."


Seketika Dhea langsung memeluk Mirna. saat ini ia benar benar merindukan sosok ibu disampingnya.


Mirna tak menolak, ia membalas pelukan Dhea dengan erat.


Sementara Lia, dia juga ikut ikutan minta dipeluk oleh ibunya itu. Jadilah mereka berpelukan ala teletabis.

__ADS_1


Please jangan pelit kasih like, juga Vote ya.


komen sebanyak banyaknya biar aku tambah semangat.


__ADS_2