
"Oma!" Teriak Dhea girang setelah melihat orang yang ada di hadapanya.
Seorang wanita yang lumayan masih cantik walaupun sudah kepala 5. Wanita tersebut bernama Hilda, yang tak lain adalah oma dari Dhea. Bukan kandung, tapi dia masa bodoh.
"Kesini!" ucap Hilda merentangkan tangannya.
Dhea masuk kedalam pelukan oma tersayangnya, sudah lama sekali ia tak berjumpa dengan oma nya ini. Mungkin terakhir mereka berjumpa adalah ketika umur Dhea sekitar 10 tahunan.
"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Hilda setelah melepaskan pelukannya.
"Baik baik saja, oma."
"Sungguh oma sangat merindukanmu."
"Aku juga oma."
"Baiklah, apakah kau tak berniat untuk mengajak oma mu ini masuk ke rumah?" tanya Hilda, karena sedari tadi Dhea tidak melontarkan kalimat untuk mengizinkannya masuk ke dalam rumah.
"Heheh, ayo masuk oma." ajak Dhea sambil memegang lengan Hilda.
Hilda berbalik dan berkata, "Lak bawa masuk saja barang barang saya." ucapnya kepada seorang satpam.
"Baik nyonya." ujar sang satpam kemudian membawa beberapa koper besar milik Hilda masuk kedalam.
Dhea mengajak Hilda untuk duduk di kursi ruang tamu, kemudian memanggil bik Nur untuk membuatkan mereka minuman.
"Oma datang kok gak kasih kabar dulu? " tanyanya sewot.
"Surprise donk sayang."
__ADS_1
""Bagaimana perjalan oma, menyenangkan kah?" Tanya Dhea berbasa-basi.
"Lumayan." jawabnya sambil meneliti seluruh ruangan yang ada. "Paman mu kemana? "
"Hah?"
Mendengar kata paman, Dhea teringat tentang kejadian dirinya bersama Tyo tadi. Ia menjadi malu sendiri mengingatnya.
"Dimana paman Tyo mu sayang?" tanya oma yang memang sedari tadi tidak melihat keberadaan putranya itu.
"Eh, itu uncle!" Dhea berseru sambil menunjuk Tyo yang sedang menuruni tangga dan berjalan mendekat ke arah mereka saat ini.
"Putraku, bagaimana kabarmu?" ucap Oma manja dan memeluk Tyo erat seperti anak kecil.
"Baik mi, mami sendiri? " tanya Tyo setelah melepaskan pelukannya.
"Hmm." balasnya singkat kemudian mendudukkan dirinya di sofa tunggal yang ada.
"De, antar oma mu ke kamarnya. Saat ini ia butuh istirahat," Katanya tanpa melirik Dhea.
"Iya uncle," melirik oma "Oma mari Dhea antarkan ke kamar oma."
Oma menghela nafas berat karena sikap Tyo kepadanya. "Baiklah sayang, oma mau langsung tidur"
Dhea membawa oma ke salah satu kamar tamu yang ada dilantai bawah, setelah mengantar omanya, Dhea pamit kembali ke kamarnya.
Dhea sempat melihat Tyo yang masih dengan posisinya sambil memejamkan mata di sofa ruang tamu, ia melewati pria itu begitu saja dan melanjutkan langkahnya.
Tyo tersadar kalau Dhea lewat dari dekatnya, namun ia berpura pura tidur. Setelah mendengar pintu tertutup, Tyo beranjak dari duduknya menuju kamar Dhea.
__ADS_1
Tok tok tok
Tyo mengetuk pintu, dan tak lama Dhea membuka pintunya dan menatap nya heran.
Tyo tak bersuara dan memutuskan masuk ke kamar Dhea tampa disuruh. Ia menduduk kan dirinya dipinggir ranjang dan menyuruh Dhea untuk duduk disebelahnya.
"Tutup dulu pintunya uncle mau ngomong sesuatu." ucapnya serius.
Dhea menuruti perintah Tyo untuk menutup pintu kamarnya dan duduk disebelah Pria itu.
"Ayahmu minggu lalu menyampaikan jika Oma Hilda datang, kita tidak usah memberi tahu tentang pernikahan kita. Biarlah itu menjadi rahasia, tunggu waktu yang tepat baru saya yang akan menjelaskannya secara langsung." terang Tyo panjang lebar menunggu jawaban dari Dhea.
"Jadi uncle udah tau kalau oma bakalan datang?"
"Sudah."
"Kok gak ngasih tau Dhea sih?"
"Lupa."
"jadi bagaimana? " Tanya nya memastikan pertanyaannya yang belum dijawab Dhea.
"Apanya?"
"Setuju kan tentang yang tadi?"
"Iyah uncle, Dhea bakal jaga rahasianya."
"Makasih." Ucap Tyo sambil mengacak gemas rambut Dhea.
__ADS_1