
"Uncle ngapain disini? " tanya Dhea ketika melihat Tyo sedang duduk manis sambil memainkan ponsel di atas tempat tidurnya.
"Gak ngapa ngapain," balasnya seraya meletakkan ponsel di atas nakas. Beralih, memfokuskan pandangan untuk menatap ke arah Dhea yang sedang bertolak pinggang.
"Yaudah sana gih, ntar Oma sama Kak Ray tau lagi." ucapnya ketus.
"Emang gak boleh ya?"
"Nggak!" jawab Dhea cepat.
"Lah kenapa? ini kan kamar istri saya, jadi apa salahnya coba?"
"Tapi kan, masih ada Oma sama Kak Ray di rumah ini."
"Berarti nanti kalau mereka uda gak ada, saya bisa donk minta hak saya."
"Aish, nggak boleh!" bantah Dhea. Sangat kesal dengan kata kata Tyo yang membuatnya jengkel.
"Gak ada penolakan!"
"Udah ah, ayo biar Dhea anter keluar," kata Dhea hendak menarik tangan Tyo namun malah Tyo yang menarik tangannya. Hal itu justru malah membuatnya jatuh ke pelukan Tyo.
Dhea terkejut karena saat ini dirinya berada di atas tubuh Tyo. Ia menahan malu dengan memalingkan wajahnya kearah lain.
"Hye, kau kenapa malu sayang?" goda Tyo, "Pipimu sangat menggemaskan," ucapnya mencium pipi merah gadis itu lalu memeluknya erat.
Dhea tak menjawab dan mencoba bangkit dari pelukan Tyo namun ditahan oleh pria itu.
"Uncle awas, Dhea mau turun," Dhea masih berusaha memberontak agar Tyo melepaskan pelukannya. Namun, Tyo tetaplah Tyo, sangat keras kepala.
"Gak usah banyak gerak, nanti junior saya bangun dan kamu yang harus bertanggung jawab."
__ADS_1
Seketika ucapan Tyo mampu membuat gadis itu terdiam dan menutup mulutnya rapat rapat.
"Saya mau cium," pinta Tyo, nadanya di buat selembut mungkin agar Dhea mau menurutinya.
Dhea hendak menolak namun Tyo sudah lebih dulu menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka.
Tyo mulai menggerakkan bibirnya untuk ******* benda kenyal milik Dhea. Namun sedetik kemudian, kegiatannya terhenti kala pintu terbuka dan seseorang menerobos masuk kedalam kamar Dhea. Menyaksikan pemandangan yang seharusnya di sensor.
"ASTAGA!" teriak Oma syok dengan pemandangan yang ada di depannya.
Mendengar suara itu, membuat Dhea langsung bangkit dari tubuh Tyo dengan tangannya yang menekan dada bidang Tyo sedikit keras, bisa terdengar suara Tyo yang mengerang kesakitan.
Dhea tak memperdulikannya sekarang. Ia lebih memilih untuk menghampiri oma dan meminta maaf.
"Oma maaf, ini tidak seperti yang oma pikirkan." kata Dhea bertekuk berlutut di bawah kaki oma.
"Dhea sekarang kamu berdiri!" perintah Oma tegas, membuat Dhea segera bangkit. "Sekarang Mami mau minta penjelasan kamu Tyo."
"Seperti yang sudah mami lihat," ucap pria itu berjalan kearah Dhea lalu memeluk erat tubuh gadis itu.
"Jadi, apa benar dengan rumor yang mengatakan jika kalian sudah menikah?" tanya oma dengan suara yang mulai meninggi.
Dhea sudah menangis dalam pelukan Tyo karena mendengar bentakan oma yang cukup keras.
"Apakah kau masih memiliki akal sehat, Tyo? " Tanya oma sekali lagi masih dengan suara lantang.
"Emang kenapa? tidak salah juga kan?"
Pria itu mengusap lembut punggung Dhea untuk menenangkannya. "Sudah sayang, kamu jangan takut, okeh! Kan ada uncle," katanya tepat ditelinga Dhea.
"Tidak salah kau bilang?!" Bentak oma semakin geram.
__ADS_1
Tiba tiba, Ray datang menghampiri mereka setelah mendengar suara keributan dari kamarnya. Ia penasaran dengan apa yang terjadi, dan lebih penasaran lagi ketika melihat apa yang ada didepannya saat ini.
"Dhea itu keponakanmu, bisa bisanya kau memperistrikannya. Dimana letak pikiranmu, hah?!"
"Mami lupa ya kalau Dhea itu bukan keponakan kandungku, jadi apa salahnya dia menjadi istri Tyo?" Tyo berkata santai. Seperti tidak ada beban hidup.
"Oma maafin kami." Dhea ikut memohon.
"Kamu tidak salah Dhea, yang salah itu Tyo. Jadi berhenti meminta maaf!" balas oma berusaha meredam kemarahnnya. Ia lebih dulu menarik nafasnya dalam lalu membuangnya kasar, kemudian ia berkata,
"Tyo, Coba kau jelaskan bagaimana semua ini bisa terjadi?"
"Sebenarnya, awalnya aku juga tidak menyangka jika harus menikah dengan Dhea, namun karena Tania berselingkuh tepat dihari pernikahan kami, Kak Bastian malah menyarankan aku menikahi Dhea." Terang Tyo mengecup kening Dhea.
Ray syok mendengar penjelasan Tyo tetapi memilih diam dan mendengar kelanjutannya.
"Dulu aku terpaksa menikahi Dhea, tapi sekarang aku sudah mencintainya mi dan pernikahan kami akan tetap berlanjut sampai ajal memisahkan." ucapnya bangga.
"Mami tak habis pikir denganmu, Tyo." Oma yang begitu kecewa lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka semua.
"Huwa, uncle Dhea takut," ucap Dhea menjatuhkan dirinya dilantai dan menangis sejadi jadinya.
Tyo mengusap kasar wajahnya dan mendudukkan dirinya dilantai bersama dengan gadisnya. Dia memeluk erat Dhea lalu mengusap lembut punggungnya.
"Tenang sayang, ini memang sudah waktunya mami untuk tahu. Mau sampai kapan juga kita harus menyembunyikan tentang status pernikahan kita dari Mami?" tanya Tyo lembut, ia mencium pucuk kepala Dhea dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Hiks, hiks, uncle lepas. Dhea harus menjelaskannya kepada oma." ujar gadis itu.
"Penjelasan apalagi. Bukankan aku sudah menjelaskan semuanya?"
"T-tapi oma masih salah paham uncle. Jadi tolong lepaskan Dhea, hiks hiks."
__ADS_1
Tyo melepaskan pelukannya, membuat Dhea berjalan keluar kamar diikuti Ray dibelakangnya. Dhea sudah bertekad harus membuat Oma paham, dengan begitu dirinya tidak dihantui oleh rasa takut yang ia rasakan selama ini lagi.