
"Uncle, uncle bangun. Ini udah jam 8, uncle harus kerja nanti bisa telat." bisik Dhea tepat ditelinga Tyo. Namun tak direspon sama sekali oleh pria tersebut.
Yaps, semalam Tyo memaksa untuk tidur bersama Dhea dengan alasan takut terjadi apa apa dengan gadisnya.
Dhea memang menolak karena takut oma dan Ray tahu, namun karena Tyo yang terus memaksa jadilah mereka tidur bersama.
Gadis itu tak kehabisan cara untuk membangunkan Tyo. Akhirnya ia memilih mencubit hidung pria itu agar tidak bernafas.
"Bangun uncle, uncle harus kerja!" ucapnya sambil terus mencubit hidup mancung pria itu.
Bukanya bangun, Tyo malah semakin mengeratkan pelukannya. Alhasil, Dhea hanya bisa pasrah dan menunggu pria itu bangun sendiri.
"Udah rese nya?" tanya Tyo yang akhirnya bersuara.
Dhea mendongak dan melihat Tyo yang juga sedang menatapnya.
Cup
Tyo mengecup sekilas bibir Dhea.
"Ih uncle, bangun donk. Sekarang tuh udah jam 8 uncle, dan uncle harus kerja." Perkataan Dhea justru membuat Dhea semakin malas untuk bangun. Alhasil, Tyo tak kunjung beranjak dari tidurnya.
"Gak kerja."
"Lah kenapa?"
"Males." jawabnya lalu menenggelamkan wajahnya di curuk leher Dhea.
"Gak boleh males males, ntar kita gak makan, hehe."
"Biarin."
"Ih uncle geli, uncle ih, aww." ujarnya karena Tyo mengendus, mencium, lalu menggigit kecil leher gadis itu.
"Emm biarin begini, sebentar saja." pinta Tyo yang masih mengendus ngendus leher Tyo. Lalu menghirup dalam dalam aroma tubuh Dhea.
"Ih tapi geli!"
"Biar saja!"
Tyo melapaskan wajahnya dari curuk leher Dhea lalu beralih menatap bibir ranum gadis itu.
Dhea sudah tau apa yang diinginkan pria terebut, lantas ia langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa ditutup, emm?"
"Gak boleh, Dhea belum sikat gigi." ujarnya dengan mulut yang masih tertutup oleh kedua telapak tangannya.
"Tidak masalah, saya juga belum sikat gigi." ucapnya lalu membuka tangan Dhea yang menutupi mulutnya.
__ADS_1
Sebenarnya walaupun belum atau sudah menyikat gigi, bibir Dhea tetap beraroma Strawberry. Itulah yang Tyo suka dari gadisnya tersebut. Ia sangat menyukai seluruh yang ada ditubuh wanitanya itu.
Ia tersenyum menatap bibir yang sudah menjadi candu baginya itu. Lalu tanpa berpikir panjang, ia langsung menciumi bibir Dhea dengan penuh kelembutan.
Dia menggigit bibir bawah Dhea agar gadis itu mau membuka mulutnya.
"Mphh!"
Dhea membiarkan lidah pria itu masuk dan mengabsen setiap sudut rongga mulutnya.
Lama mereka saling bercumbu hingga Tyo melepaskan ciumannya ketika melihat gadisnya yang sudah kehabisan nafas.
Ia tersenyum lalu mengusap bibir Dhea menggunakan jempolnya.
"Ini milik saya, dan tetap milik saya! Saya gak akan biarin siapapun untuk menyentuhmu kecuali saya, mengerti?!" titah Tyo lalu di balas anggukan oleh Dhea.
Cup
"Yasudah, kalau begitu uncle mandi dulu, uncle akan kerja tapi hanya di rumah," ucapnya.
"Baiklah kalau begitu, uncle harus mencari uang yang banyak untuk kita nanti."
"Bersama dengan Tyo junior kan? " goda Tyo sambil menaik turunkan alisnya.
"Ish, ngomongnya kok mesum banget sih." ucap Dhea kesal.
"Kamu harus mau sayang."
"Yah kan memang begitu. Kalau hari ini saya memang masih bisa menahan, tapi gak tau kalau besok dan seterusnya," goda Tyo lagi lalu berlari keluar dari kamar Dhea.
"Aish, uncle mesum!"
"Pake acara ngomongin anak segala lagi,"
"Gak tau apa kalau aku tu masih kecil, trus disuruh buat bayi kecil,"
"Awh jadi ngeri sendiri deh." dumel nya terus menerus karena merasa kesal.
"Ngeri apaan dah lu?" ucap Lia yang datang tiba tiba dan mendengar sedikit dumelan Dhea.
Dhea terkejut dan berusaha mencari cari alasan. "Hah, ngeri, oh gak kok, ngeri liat kecoak terbang tadi."
"Masa sih ada kecoak, dimana? apa perlu gua bantu buat bunuh?" tanyanya yang pura pura bodoh.
Ia sebenarnya sudah tahu apa yang dimaksud ngeri oleh Dhea. Sebelum masuk ke kamar Dhea ia sempat melihat Tyo berlari keluar dari kamar sahabatnya itu.
"Gak papa lah, udah gua baku hantam tadi kecoaknya." ucapnya memperagakan diri yang seperti sedang beradu gulat.
"Eleh, sok kuat lu. Ditendang dikit aja udah ngeluh, apalagi gelut di ranjang ya pasti udah pingsan lo," ujar Lia meremehkan dan pastinya itu benar jika dilihat dari postur tubuh Dhea yang agak kecil. Tapi gak terlalu kecil sekali.
__ADS_1
"Idih ngomongin apaan dah lu?"
"Pura pura bodoh lu mah,"
"Aish, aku memang tak paham apa apa."
"Udahlah lupakan, sekarang gua mau tanya, kenapa lo bisa sakit?"
"Kok lu tau gua sakit?" tanya Dhea heran. Ia memang belum mengabari kalau dirinya sedang sakit kepada sahabatnya itu.
"Semalam gua telfon lo, dan yang jawab itu paman Tyo."
Dhea hanya ber'oh ria saja. Setelahnya ia dibuat terkejut oleh ucapan Lia.
"De, kayaknya tu makin besar aja yah." kata Lia sambil menunjuk dada Dhea.
"Hah, kok bisa? mana ada besar, malah makin kecil kok!" elaknya tak terima.
"Iyah gua serius. Lo gak liat apa, uda gedek makin gedek lagi, hahah."
"Idih mesum otak lo."
"Ayoloh, uda ena enaan lo pasti kan?" tuduhnya sambil menatap Dhea dengan tatapan mengintimidasi.
"Ena eanan palalu, ogah gua," ucap Dhea sambil menoyor kepala Lia.
"Aww, b aja kali gak usah pake toyor toyoran,"
"Udah ah puyeng gua liat lu."
"Eh de, lu uda sehat kan? "
"Udah donk, ni gua mau mandi," kata Dhea lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar mandi.
Lia hanya tersenyum senang karena telah mengerjai sahabatnya.
"Woi de, abis ini kita makan yah gua belum sarapan nih," teriaknya agar Dhea mendengar dari dalam kamar mandi.
"Iya!"
"Abis itu kita nonton drakor yah?" teriaknya lagi.
"Iyah!"
"Gua hari ini main disini ya?"
"Iyah!"
Hi! Jangan lupa Like , komen dan vote sebanyak banyaknya ya.
__ADS_1
Follow aku donk!!!hehehh