
Hari ini adalah hari dimana semua mahasiswa melakukan pendaftaran di universitas pilihan mereka masing masing.
Tak terkecuali dengan kedua gadis ini yang memang sudah mempersiapkan segalanya sedari pagi. mereka sengaja datang lebih awal agar tidak kelamaan mengambil antrian nomor. Sebab menunggu adalah sebuah pekerjaan yang paling membosankan bagi semua orang, betul tidak?
Dhea dan Lia memilih jalur SBMPTN yaitu jalur seleksi masuk perguruan tinggi melalui tes/ ujian tertulis.
mereka berdua juga memilih paket ujian TKD Shosum (60 soal | 75 menit) karena memilih jurusan ekonomi.
Mau dikata apa lagi, sangking semangatnya ya jadi seperti itu. Mereka tidak sadar kalau saat ini mereka telah siap melakukan daftar mendaftarnya dan tinggal menunggu nasib apakah mereka berdua lolos seleksi SBMPTN tersebut.
Kedua gadis itu kemudian memutuskan untuk segera melangkahkan kaki menuju parkiran, namun detik kemudian ponsel Lia berbunyi. Dengan cepat dia mengambil benda pipih itu dari dalam tas selempang nya dan langsung menjawab panggilan telpon tersebut.
"Bentar de, gua angkat telpon dulu deh." mengentikan langkahnya. Ia heran kenapa Tantenya itu menelponnya, padahal kan rumah mereka berdekatan.
"Hallo Tan," sapa Lia ketika telponnya sudah tersambung.
📞"Hallo Li, sekarang kamu ada dimana ya? " tanya Tante Lia atau adek dari ibunya.
"Hmm, ini lagi di kampus Tan, tapi uda mau pulang kok."
"Siapa?" tanya Dhea penasaran.
"Tante Ririn," balas Lia menggerakkan bibir namun tidak bersuara.
📞"Sebenarnya tante mau minta tolong sama kamu Li, bisa gak? "
"Bisa Tan, emang bantuan apa tan?" tanya balik Lia.
📞"Tante mau minta tolong buat biar kamu ngegantiin Tante jadi walinya Rizal untuk mendaftar disekolah nya, Li." ucap Tante Ririn dengan suara lembut seperti orang memohon pada umumnya.
***Rizal adalah anak dari Tante Ririn yang berarti itu adalah sepupunya Lia. Rizal saat ini akan menduduki bangku kelas 10.***
"Emang Tante ada urusan apa sehingga tidak bisa mendampingi Rizal? "
📞"Mertua Tante masuk rumah sakit Li, jadi gak ada yang jagain makanya Tante suruh kamu jadi walinya Rizal, kamu mau kan? " tanya Tante Ririn sekali lagi.
"Okedeh Tan, Lia mau." menggaruk tengkuk dan menoleh kearah Dhea.
📞"Makasih ya Li."
"Yaudah, Sekarang aku harus kemana dulu ni Tan?"
📞"Kamu langsung ke sekolahnya aja Li, soalnya Tante sudah ada disini sekarang."
"Sekolah mana Ya Tan? "
📞"Alumni sekolah kamu Li, yasudah Tante tutup dulu telponnya ya."
"Asiap Tan!"
Lia masuk ke mobil dan diikuti Dhea yang sudah duduk manis disampingnya. Menyalakan mesin mobil lalu pergi meninggalkan kampus tersebut.
"Lama bener ngomongnya," ketus Dhea.
"Maklumin donk, kan emak emak lagi minta tolong."
"Eh eh, kita mau kemana nih?" Dhea bertanya ketika melihat Lia melajukan mobil yang memutar arah dari jalan rumahnya.
"Ke sekolah kita." balasnya tenang.
"Mau ngapain Maemunah, kita kan uda tamat dan pengambilan ijazah masih 2 bulan lagi."
"Yang bilang kita mau ambil ijazah emang siapa?"
"Lah trus " tanya balik Dhea.
"Yang tadi Tante Rini nelpon aku itu, maksudnya dia minta tolong buat aku wakilin mendaftar Rizal dan lo harus nemenin gua donk." terangnya.
__ADS_1
Dhea mengangguk paham "Oooh, gua kirain apaan tadi."
"Emang apa?" Lia memarkirkan mobilnya yang sudah masuk ke pekarangan sekolah.
"Gada!"
Mereka berdua turun dari mobil dan langsung bisa melihat Tante Rini beserta Rizal disebelahnya yang sedang melambai lambai kearah mereka.
"Kok gua jadi pengen sekolah lagi ya. Gua kangen sama temen temen barbar, guru gurunya, plus mang edoh si tukang bakso urat." ujar Dhea mengingat betapa indahnya masa masa SMA mereka.
"Iya De, gua juga kangen. Apalagi waktu kita dihukum waktu mau cabut." mereka tertawa mengingat betapa bokisnya kejadian itu.
Dimana waktu itu, Dhea beserta ke tiga sahabatnya mencoba cabut melewati pagar belakang sekolah. Namun, baru saja Lia sampai di atas pagar yang tidak terlalu tinggi itu, tiba tiba seorang guru BK datang menhgampiri mereka dengan membawa rol panjang.
Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka berlima harus mendapat hukuman atas sikap mereka yang telah melanggar peraturan sekolah.
Sepenggal kisah yang menyenangkan, bukan?
"Hai Kak Lia, Hai Kak Dhea." sapa Rizal kepada kedua gadis itu.
"Hai juga Ijal," kata Dhea mencolek manja dagu Rizal. Dia suka sekali menggoda remaja tampan itu, dan bodohnya Rizal malah baperan.
"Udah donk Kak, ntar aku suka loh," ujar Rizal.
"Uwuwu, adek kakak uda mulai genit nih?" goda Dhea membuat Rizal merona malu.
***Sekilas info: Dhea akrab ke seluruh kerabat kerabat Lia, karena memang dirinya sudah dianggap anak kandung oleh maminya Lia. ***
"Udah ah, langsung aja yuk," Kata Lia menengahi.
"Kuy!" serempak Rizal dan Dhea.
"Baiklah kalau begitu, Tante pamit dulu ya Lia, Dhea." pamit Tante Ririn lalu berdada kepada mereka.
"Kamu harus nurut ya sama kakak kakak kamu Zal!" nasehat Tante Rini sebelum memasuki mobilnya.
Setelah kira kira 3 jam lamanya menghabiskan waktu untuk mendaftarkan Rizal disekolah nya, Dhea benar benar kelelahan dibuatnya.
Gadis itu sedari tadi mengipasi diri menggunakan telapak tangannya sambil duduk di bangku taman depan sekolah.
Ia sudah benar benar bosan, ditambah teriknya matahari yang memberi kesan panas bagi kulitnya yang putih mulus itu.
Ia benar benar merutuki dirinya karena mau menuruti perintah Lia untuk menggunakan Rok payung di atas lutut, dipadukan dengan Baju sabrina yang menampakkan bahu serta leher jenjangnya.
Jadilah sekarang ia merasa sengsara saat terkena panasnya terik matahari. Dia menoleh cepat ke arah Lia yang dengan santainya meneguk minumannya tampa menawari kepadanya.
"Asidekemeh lo Li, minum kok gak nawar nawarin sih!" ucapnya heboh lalu menarik kasar botol minuman dari tangan Lia dan meminumnya sampai habis.
"Lo gak nitip tadi," ujarnya tenang "Yuk kita pulang!" menjulurkan tangannya untuk membantu Dhea berdiri.
"Hmm"
"Eh Btw si Ijalnya mana ya?" tanya Lia panik karena Rizal tak menampakkan wujudnya dihadapan mereka.
"Di mobil."
Dhea mengangguk paham, lalu mengikuti langkah Lia menuju ke tempat Rizal sekarang.
Mobil sudah melaju meninggalkan pekarangan sekolah menuju ke negeri antah berantah, eh maksudnya pulang ya.
"Li, anterin gua kekantor Uncle Tyo aja ya." katanya yang masih sibuk untuk push rank dengan Rizal.
"Loh kenapa?"
"Ya gak kenapa kenapa. Gua cuma mau liat babang gua kerja, itu aja sih."
"Berarti kita gak bisa Mabar lagi donk kak?" tanya Rizal cemberut.
__ADS_1
"Bisa donk dedek manis, kan kakak gak pergi ke Cina. Egh egh, itu matiin Jal, awas awas nanti kena"
"Iya kak, sabar donk!"
"Aduduh, sabar apanya Jal? Liat deh, kakak jadi mati kan," kesal Dhea lalu mematikan hpnya.
"Yah, gak lanjut nih?"
"Gak, uda males. Ntar malem aja mainya lagi."
"Aish, Kak Dhea merajuk nih ceritanya?" Rizal mencolek colek lengan Dhea yang memanyunkan bibirnya.
"Huh, bikin gemes aja deh, pengen tampol kan jadinya."
"Eh Ferguso, enak aja lu main tampol tampol adek gua," Lia ikutan kesal.
"Biarin, wlekk."
"Hahaha, dasar Kak Dhea. Nieh ya nieh," ucap Pria itu lalu mengapit wajah Dhea dibalik keteknya.
"Ishh, Jal bau tau!" berusaha memberontak namun tenaga Rizal lebih kuat darinya.
"Aish, aku uda habis nafas Jal!" serunya sesak membuat Rizal melepaskan wajah Dhea dari keteknya.
"Hahaha, muka kak Dhea merah banget." tertawa terbahak bahak diikuti Lia yang juga tertawa puas melihat wajah Dhea yang sudah memerah kehabisan nafas.
"Gak bisa nafas akutuh ya, malah ketek Ijal bau lagi." ucapnya mendelik tajam kearah pria itu.
"Enak aja. ketek aku harum ya."
"Bau!"
"Harum pokoknya!"
"Bau!"
"Udah woi, pecah kuping gua lama lama."
Telinga Lia rasanya hampir pecah menyaksikan pertengkaran kedua manusia beda kelamin ini.
"Turun lo de, udah nyampe nih."
"Ngusir nih?"
"Iyah,"
"Udah deh, gua pasrah deh." Dhea turun dari mobil dengan wajah jutek setengah mati.
"Bye kak De!" teriak Rizal.
"Bye Pakboy!"
**Okeh, ini uda 1500 kata.
Aku sungguh gabut, jadi rada rada bingung mikirin ide.
Tapi tenang, sesudah ini bakalan ada drama yang akan menguras segenap emosi jiwa dan raga kalian.
Jadi persiapkan ya, mwehehh
*tersenyum licik*
AKU MAU VOTENYA DONK, KOMEN NYA JUGA.... EH EH LIKE NYA HAMPIR LUPA.
Yaudah deh, itu aja kayaknya ya.
tunggu 2 jam lagi, aku bakal up kelanjutanya**.
__ADS_1