Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Biasa biasa saja


__ADS_3

Kruk, kruk, kruk.


Suara perut yang sedang mode ribut minta diisi itu berbunyi ketika pelayan cafe sudah mengantarkan makanan pesanan mereka bertiga.


Dhea dan Lia sontak menoleh kearah Ray, karena yang apa yang barusan mereka dengar itu berasal dari perut Ray.


"Segitunya ya kak."


Ray mengangguk dan menunjukan cengiran khas miliknya. "Heheh, maklum masi tahap pertumbuhan."


"Hahah, ada ada aja kak Ray." Ucap Dhea.


"Lo biasanya juga gitu ya de."


"Gak tau deh," elak Dhea.


"Uda udah, mending kita langsung makan aja. uda lapar banget ini," ucap Ray tak sabaran.


Ray hendak memakan makanannya namun seketika terhenti ketika melihat Tyo dengan sang asisten berjalan mendekat kearah mereka bertiga. Lia dan Dhea tak melihat karena memang mereka membelakangi pintu masuk restorant, dan hanya Ray yang mengetahuinya.


"Kenapa kak?" tanya Dhea heran melihat Ray yang tak jadi makan. Padahal kan pria itu sangat bersemangat.


"Itu," tunjuk nya ke depan menggunakan dagunya.


Dhea menoleh kebelakang dan terkejut melihat sudah ada Tyo dibelakangnya.


"Astagfirullah!" ucap Dhea memegangi dadanya yang terkejut.


"Sumpah deh yah, uncle itu uda kayak dedemit aja ya main muncul tiba tiba," ucapnya kesal lalu memukul pelan lengan Tyo.

__ADS_1


"Sedang apa kalian disini?" tanya Tyo yang tak menghiraukan ocehan Dhea.


"Seperti yang Kak Tyo lihat." ucap Ray.


"Hmm,"ucap Tyo. Kemudian mata elangnya meneliti setiap makanan yang berada di atas meja.


"Siapa yang makan pedas pedas begini?" tanya pria itu lalu mendudukkan diri di samping kiri Dhea. Kemudian ia menatap tajam kearah semua orang disitu karena tak ada yang menjawab pertanyaannya.


"Kamu?" tanyanya kepada Dhea.


Dhea mengangguk polos lalu menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah menyeramkan Tyo.


Terdengar Tyo menghela nafas kasar dan menutup mata berusaha menenangkan diri agar tidak emosi.


"Kamu kan baru sembuh, dan sekarang mau makan yang pedas pedas." ucap pria itu lalu mengangkat kepala Dhea agar menatap kearahnya.


"Aku yang mengizinkannya kak," ucap Ray yang tak mau Dhea disalahkan. Ia rela berbohong agar Dhea tidak kena marah Tyo.


"Maaf kak, aku tidak tau kalau Dhea tidak boleh makan pedas."


"Un-" ucapan Dhea terhenti karena jari telunjuk Tyo sudah ada didepan bibir mungilnya.


"Jangan banyak bicara!" potong Tyo cepat.


"Pelayan!" panggil Tyo kepada salah satu pelayan wanita yang ada.


"Iya pak, ada yang bisa saya bantu."


"Saya pesan steak nya 1 dan salad sayurnya juga."

__ADS_1


Pelayan mencatat pesanan Tyo dan pamit undur diri untuk menyiapkan pesanannya.


"Akan sampai kapan kau berdiri disitu Ryan?" tanya Tyo yang melihat Ryan tak kunjung duduk. Sebenarnya bukan tanpa alasan Ryan tidak duduk, ia hanya menunggu perintah bosnya agar ia bisa duduk.


"Baik bos," ucap Ryan yang mengambil posisi di samping Ray dan berhadap hadapan dengan Lia.


Sebenarnya belakangan ini Ryan sudah mulai mengakrabkan diri dengan Lia. Dia sering berjumpa secara tak sengaja dengan Lia ditempat tempat tertentu. Misalnya dijalan, di supermarket yang tak jauh dari rumahnya, atau taman kompleks perumahannya ketika ia sedang joging.


Dia sangat menyukai lesung pipi Lia yang terlihat ketika sedang tertawa atau tersenyum. Ia juga kadang merutuki dirinya sendiri karena bisa bisanya tertarik dengan gadis remaja yang masih polos.


"Kenapa kalian begitu tegang," ucap Tyo melihat tak ada seorang pun yang berbicara kecuali dirinya.


"Apakah aku termasuk golongan iblis sehingga membuat kalian takut?" tanya Tyo lagi.


Mereka semua menggeleng dan kembali bersikap biasa.


"Silahkan dinikmati." ucap pelayan ketika sudah menaruh pesanan Tyo di atas meja.


"Terima kasih mba," ucap Dhea mewakilkan Tyo yang tak mau mengucapkan terima kasih.


"Hmm, kenapa cafenya tiba tiba sepi ya?" tanya Lia yang baru menyadari keanehan disekitarnya. Ia melihat tak ada seorangpun pengunjung kecuali mereka berlima.


"Bos Tyo sudah memesan tempat ini," ucap Ryan yang mulai memakan makanannya.


"Bukankah itu berlebihan." Kata Ray.


"Biasa saja," ucap Tyo.


"Aish sudahlah, sebaiknya kita makan saja." ujar Dhea.

__ADS_1


Mereka pun mulai menikmati hidangan dengan sesekali perbincangan ringan dan diselingi tawa tawa kecil.


__ADS_2