
"Gua antar lo pulang langsung ke rumah lo kan?" tanya Lia ketika mereka sudah berada di mobil.
"Enggak deh, gua ke kantor uncle aja."
"Ngapaen?"
"Gua lagi kepengen buat gangguin Uncle Tyo."
"Saraf lo de."
"Eh Li."
Lia menoleh sekilas lalu kembali fokus menyetir, "Apa?"
"Lo gak ikut gua aja, sekalian buat jumpa suami lo. Mau gak?" tawar Dhea.
"Gak ah, males gua. Mending gua masak masak di rumah aja." terang Lia Lia karena setelah menjadi istri Ryan ia berniat belajar semua masakan yang Ryan sukai.
"Songong lu!"
"Biarin!"
Dhea terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu setelahnya bertanya kepada Liam
"Ayah Kak Ryan masih ada ya Li?" tanya Dhea yang memang tak pernah melihat ayah dari suami sahabatnya itu.
"Menurut informasi yang beredar, ayah Kak Ryan uda meninggal waktu Kak Ryan umur 20 tahun." terang Lia.
"Oh berarti cuma ibu Kak Ryan yang masih ada ya?"
Lia mengangguk dan menatap lurus ke depannya, "Lu tau gak de?"
"Enggak."
"Kemaren kemaren Kak Ryan cerita ama gua, dia bilang kalau hidupnya itu dulu susah banget. Gak kayak sukarang yang udah punya semuanya."
"Bahkan Kak Ryan dulu pernah jadi pelayan disebuah di Restoran dan akhirnya bisa berjumpa dengan paman Tyo."
"Mereka berjumpa bermula ketika ibu Kak Ryan masuk rumah rumah sakit dan kebetulan ada paman Tyo disana."
__ADS_1
"Jadi karena gak ada dana buat Ibu Kak Ryan yang sakit, Paman Tyo lah yang membantu semua biaya pengobatannya. Dan Kak Ryan memaksa akan membalas semua kebaikan paman Tyo dengan cara selalu mengabdi kepada suami Lo. " jelas Lia panjang lebar.
"Terharu banget deh." kini Dhea sudah menitikkan air matanya karena terbawa suasana dengan cerita Lia.
Menurut author, ceritanya Biasa aja deh. Tapi kenapa si Dhea pake nangis segala.
"Aish, pakai nangis pulak." Lia gelagapan saat mengetahui bahwa Dhea sudah benar benar terisak dengan keras.
"Lo kenapa de?" Lia langsung memeluk tubuh Dhea erat.
"Hiks, hiks, sedih banget perjalanan hidup Kak Ryan."
"Iya sedih. Tapi gak pake nangis juga." Lia melepaskan pekukannya lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Nih, dimakan!" gadis itu memberikan permen mint ke mulut Dhea, "Biar suara lo gak serak, ntar gua dibunuh lagi sama paman Tyo gara gara buat istrinya nangis."
"Hiks, hiks, i-iya!"
Dengan telaten, Lia menghapus bekas air mata Dhea dari pipinya. Kemudian menyuruh Dhea turun dari mobil.
"Hati hati!" kata Dhea setelah keluar dari mobil Lia. Menatap kepergian mobil Lia yang perlahan menjauh dari pandangannya.
Dengan langkah cepat, Dhea berjalan dengan tidak sabaran menghampiri Tyo di ruangannya.
Sepertinya Dia merindukan suaminya itu.
"Uncle!" teriak Dhea histeris ketika memasuki ruangan Tyo.
Sontak Tyo yang sedang fokus menandatangani berkas, seketika dibuat terkejut, untung saja berkasnya tidak salah coret.
"Astaga sayang, kau hampir membuatku terkena serangan jantung."
"Hehe." cengir Dhea kemudian mendudukkan diri dipangkuan Tyo.
Gadis itu mencubit cubit gemas kedua pipi Tyo. "Uncle udah makan belum?"
"Udah sayang." balasnya lalu fokus menatap wajah Dhea karena gemas dengan tingkah lucu wanita itu.
"Sakit gak?" tanya Dhea dan dibalas gelengan dari Tyo. Tentu saja itu membuat Dhea menjadi kesal. Padahal dirinya sudah sangat keras mencubitnya tapi Tyo malah tidak merasakan apapun.
__ADS_1
"Kalau gini?" mencubit keras pipi Tyo hingga membuat pria itu meringis kesakitan.
"Aww, sakit sayang." Tyo meringis kemudian memeluk Dhea erat dan meletakan kepalanya di bahu istrinya.
"Aish, kok meluk meluk sih? Aku gak suka tauk."
"Hah? Kamu bilang apa barusan?"
"Iya gak suka, Uncle bau dan belum mandi!" Ucap Dhea santai membuat Tyo melepaskan pelukannya dan menatap nanar gadisnya itu.
"Bau ya?" tanyanya kemudian mencium kedua ketiaknya. "Enggak ah, mana ada bau sayang."
"Bau Uncle!"
"Gak ada!"
"Sudahl---" ucapannya terpotong karena Tyo langsung mendaratkan ciuman dibibir nya.
Pria itu ******* lembut bibir Dhea, hingga membuat gadis itu memberontak dan melepas paksa ciuman mereka.
Dhea turun dari pangkuan Tyo dan berlari kedalam toilet.
"Dia menolak ku!" Tyo berkata kepada dirinya sendiri. Menatap sedih kepada bayangan yang ada di depan laptopnya, itu adalah bayangan dirinya sendiri.
Padahal baru saja ia akan meminta jatah kepada gadisnya, namun ditolak mentah mentah oleh Dhea.
Ia merasa Dhea tak seperti biasanya, karena biasa ketika Tyo mencium Dhea maka gadis itu dengan senang hati akan membalasnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Tyo mendekat kearah Dhea yang baru keluar dari toilet.
"Bibir Uncle bau coklat, aku gak suka." terang Dhea sesuai dengan fakta. Entah kenapa, ia merasa ingin muntah ketika mencium bau coklat. Apalagi memakannya.
"Hah?"
"Iya, Uncle baru makan coklat kan?"
Tyo mengangguk polos, "Iyah."
"Itu sebabnya!"
__ADS_1