
Saat ini, Dhea dan Lia sedang asik menonton sambil berbincang ria, bahkan anak kucing tetangga saja mereka bicarakan. Mulai dari teman teman sekelas Dhea, Mantan teman Lia, bahkan nama ayah ibu Teman teman mereka aja sampai diperbincangkan.
Ya begitulah kalau sesama wanita kalau sudah berbincang, tak pernah ingat waktu dan tempat.
Sampai sampai mereka tak menyadari kalau jam sudah menunjukan pukul 18:30 dan drakor mereka baru saja selesai.
"De, gua lapar kayaknya." Ucap Lia dengan wajah memelas.
"Gua juga deh," melirik jam di tangannya. "Yaudah kalau gitu kita masak makan malam ya, uncle Tyo pasti juga belum makan." Katanya mengingat Tyo yang sedari tadi belum makan. Jangankan makan, keluar kamar saja tidak.
Mereka akhirnya memilih memasak untuk makan malam, sangat kebetulan jika Dhea dan Lia sama sama pintar memasak, membuat keduanya bisa saling membantu.
Setelah semua makanan selesai, mereka berdua mulai menata makanan tersebut di atas meja.
"Huh akhirnya siap juga." Lia menatap puas hasil kerja keras mereka yang ada di atas meja.
"Kalau gitu gua panggil uncle Tyo dulu ya," ucap Dhea sambil melepas celemek nya kemudian berjalan ke kamar Tyo dilantai atas.
Lia juga melepas celemek nya dan menaruhnya di gantungan, gadis itu hendak mendudukkan diri di kursi namun bel rumah berbunyi.
Dengan malas, Lia melangkahkan kakinya menuju kearah pintu dan melihat siapa yang bertamu malam malam begini.
"Iya, bentar, bentar!" teriak Lia kesal dengan seseorang yang berada dibalik pintu yang tak henti hentinya membunyikan bel rumah.
"Nih orang gak sabaran banget sih," kesalnya sambil membuka kunci pintu rumah.
Ceklek
"Cari Siap-" ucapan Lia tiba-tiba saja terpotong setelah melihat siapa yang bertamu ke rumah Tyo.
"Maaf saya ingin bertemu Tuan Tyo," ujar Ryan datar kepada wanita dihadapannya.
"Ehem," Lia berdehem untuk menetralkan kegugupannya. "Ada kok, ada, masuk saja," Lia kemudian memberikan jalan agar Ryan masuk kedalam rumah.
Ryan yang dipersilahkan pun langsung masuk, ngapain juga dia berlama lama diluar.
"*Busyet dah, ganteng banget tuh orang,"
"Udah macam lee min ho aja, meski mukanya datar amat sih, sedatar aspal,"
"Huwaa gua mau dia, gak mau yang lain."
"Eh tapi dia siapa ya?, udah punya pacar belum? atau istri? atau anak? "
"Kalau dia uda punya pacar atau istri, bisa hancur harapan gua,"
"Ah nanti gua tanya Dhea aja deh*"
Batin Lia.
Setelah puas berperang dengan batinnya, Lia menyusul Ryan yang sudah berbincang dengan Tyo. Lia kemudian mendekati Dhea yang berada di samping Tyo.
"Woy, siapa tu cogan?" tanya Lia berbisik di telinga Dhea. Takut takut jikaTyo mendengar pertanyaannya. Bisa malu nanti dia bila ketauan.
"Asisten pribadi uncle Tyo," jawab Dhea dengan berbisik juga.
"Ehem," Dhea berdehem untuk menyadarkan Tyo dan Ryan yang sibuk berbincang masalah bisnis didepan mereka.
"Udah ya bisnis bisnisan-nya, kebetulan ada kak Ryan, ada baiknya kita makan malam bersama." Dhea tanpa disuruh sudah lebih dulu menarik Lengan kokoh Tyo.
__ADS_1
Saat ini Dhea tak mau menerima jawaban apapun, yang terpenting adalah urusan perutnya yang sudah membeludak minta diisi.
Sementara Ryan, lelaki itu hanya ikut saja. Kebetulan, dia juga belum makan malam dan ada baiknya ikut ikutan. Selagi ada gratisan, pikirnya.
"Selamat makan!" seru Dhea dan Lia secara bersamaan.
Mereka akan sangat antusias dengan yang berhubungan makan memakan. Asal jangan makan hati saja, kedua orang itu pasti menolak.
Mereka berempat makan dalam keadaan hening. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring saja yang terdengar.
Usai menghabiskan makanannya, Tyo Dan Ryan beranjak dari kursi mereka menuju ruang kerja Tyo.
Sedangkan Dhea dan Lia langsung mencuci piring bekas makan mereka berempat.
"De, gua pamit pulang ya, udah malem banget soalnya," izin Lia setelah menyelesaikan kegiatan mencuci piringnya.
"Okedeh, bentar gua anterin." tawar Dhea sambil mengelap air sisa pencuci piring.
Mereka beranjak keruang televisi untuk mengambil tas Lia. Setelah mengambilnya, Dhea dan Lia berjalan menuju pintu.
Namun, Dhea malah menghentikan langkah Lia. "Bentar bentar, lu bawa mobil kagak?"
"Enggak, ini gua baru mau pesen ojol."
Kebetulan pula, mata Dhea tanpa sengaja melihat jika Tyo dan Ryan turun dari tangga.
"Eh mending gak usah deh, lu simpan aja uang lu buat beli bakso kang Ujang besok," Dhea kemudian menarik tangan Lia mendekat ke arah Ryan.
"Hemm, kak Ryan mau pulang ya?" Tanya Dhea berbasa-basi. Melihat Dhea menanyakan hal itu, Tyo menatap tajam ke arah Dhea. Tentu saja Tyo cemburu.
Ryan mengangguk.
"Bawa mobil gak?" Tanya Dhea yang mengabaikan pertanyaan Tyo kepadanya.
Ryan mengangguk lagi.
"Yaudah kalau gitu, Lia nitip ya kak, please. Yaya," pinta Dhea mengijap-ngijapkan matanya seperti boneka besar.
Tyo semakin tak suka melihat Dhea menunjukan wajah manisnya di depan Ryan. Ia menarik tangan Dhea dan meletakkan tangan kekarnya di pinggang ramping istrinya tersebut.
"Ryan, turuti kemauan Dhea, jangan membantah!" titah Tyo tegas dan tak terima penolakan.
Sebenarnya Dhea akan emosi karena tangan Tyo yang secara tiba-tiba sudah berada dipinggangnya. Namun, senyumnya langsung terbit ketika mendengar ucapan Tyo barusan.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit." Ryan berkata singkat lalu berjalan terlebih dahulu.
"Aku pamit ya paman, Dhea," Pamit Lia, kemudian mengikuti langkah besar Ryan.
Lia mengikuti Ryan yang masuk ke dalam mobil. Ia sebenarnya tampak ragu harus pulang bersama dengan Ryan yang cueknya minta ampun. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak enak menolak permintaan Dhea yang sangat menyenangkan menurutnya.
Mobil yang ditumpangi Lia, kini berjalan meninggalkan kediaman Tyo.
Lia sangat canggung dengan keadaan seperti sekarang ini, bingung harus memulai percakapan terlebih dahulu.
"Emm, kakak namanya Ryan ya?" Tanyanya menatap Ryan yang sedang fokus menyetir.
"Ya." Jawab Ryan tanpa melihat Lia.
"*Idih, songong amat lu,"
__ADS_1
"untung ganteng,"
"Kalau gak, uda gua cincang cincang lu*"
Batin Lia.
"Asisten pribadinya paman Tyo ya?" tanyanya lagi.
"Hmm."
"Uda berapa lama kak?" tanya gadis itu yang masih memperhatikan Ryan saat sedang menyetir.
Ryan melirik sebentar kearah Lia, namun kembali fokus ke arah depan.
Setelah dilirik Ryan, Lia menjadi bergidik dengan tatapannya. "Maaf karena aku lancang bertanya kak." ucap Lia menunduk sedih.
"Sudah 5 Tahun," balas Ryan. Sebenarnya ia juga malu harus duduk berdampingan dengan seorang gadis cantik seperti Lia. Namun ia tidak ingin menunjukkannya.
Lia mengangkat kepalanya dan tersenyum manis kearah Ryan.
Ryan melirik dan membalas dengan tersenyum tipis. Lia menjadi salting setelah melihat senyum Ryan yang manis. Dengan cepat ia mengalihkan pandanganya kearah samping jendela.
"*Aih, pake senyum segala. Kan gua jadi baper."
"Ihh kak Ryan, aku tu jadi penyakit gula kalau liat senyum manismu itu,"
"Semanis cintaku padamu."
"Hahah*"
Batin Lia tertawa senang.
"Rumah kamu dimana ya?" Tanya Ryan setelah lama terdiam.
Lia tersadar dan melirik Ryan, " Di jalan melati no.37 kak."
"Owh rumah kamu disitu ya?". Lia mengangguk. "Kamu blok mana nya?" Ryan bertanya, penasaran.
"Blok M kak, emang kenapa kak?"
"Tidakada, soalnya rumah saya juga berada disitu, dan kebetulan blok m juga."
Sontak Lia terkejut , "Berarti kakak tetangga baru aku itu ya, yang baru pindah seminggu yang lalu?!"
Ryan mengangguk, "Iya, saya baru pindah, dulu saya tinggal di Apartement."
Lia mengangguk anggukan kepalanya mengerti "Wah asik donk, tapi kok Lia gak pernah jumpa Kak Ryan ya?" Lia merasa heran, karena selama Ryan membeli rumah itu, ia tidak pernah menunjukkan mukanya kepada tetangganya.
Selama seminggu Ryan pindah kedepan Rumah Lia, selama itu juga Lia tak pernah melihat wujud Ryan.
"Saya sibuk."
"Oohh."
Tak lama kemudian, mobil pun berhenti di depan kediaman Lia.
Setelah mengucapkan terima kasih, Lia pamit kepada Ryan.
"Bye kak, jangan lupa mampir ya." ucap Lia dan dibalas anggukan oleh Ryan.
__ADS_1
Setelah Ryan memutar setir, Lia memilih membuka pagar dan masuk ke rumah indahnya tersebut.