
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Happy reading,
"Wish ada apa tu kok rame rame?" tanya Lia ketika melihat banyak murid perempuan mengerumuni sesuatu yang Dhea dan Lia tak tahu itu apa.
"Bagi bagi skincare kali," jawab Dhea asal.
Mereka masih terus berjalan menuju luar pagar, tapi kerumunan itu menghalangi langkah mereka.
Lia melihat salah satu temanya disana dan langsung memanggilnya "Rin, emang ada apaan kok rame rame gini?" tanya Lia penasaran.
"Lo gak liat ada abang abang cakep pake mobil mahal lagi."
Dhea dan Lia saling lempar pandang dan sama sama mengedikkan bahu.
"Kayak gak pernah liat orang cakep aja lo rin, abang lo kan juga cakep," kata Lia sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ah elah, itu mah abang gua li bukan cowok gua. Gua duluan yah, masih mau liat pemandangan indah nih," ujar Rina kemudian pergi meninggalkan Dhea dan Lia.
"Siapa si? " tanya Lia yang mulai penasaran. Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Gadis itu berusaha menembus kerumunan untuk melihat siapa yang sebenarnya sudah menarik perhatian kaum hawa satu sekolah mereka.
Seketika ia terdiam ditempat ketika melihat lelaki yang menjadi dalangnya, dan sialnya lelaki itu malah melihat Dhea.
Dhea hendak kabur namun Tyo langsung menarik tangannya masuk kedalam mobil. Tentu itu membuat banyak tanda tanya kepada wanita wanita genit yang sedari tadi memandang takjub kearah Tyo.
Bagaimana mereka tidak takjub dengan wajah dan tampilan Tyo yang semakin menawan kala mengenakan celana jeans selutut dipadukan kaos polos berwarna putih.
Dan lebih santainya, lelaki itu dengan gaya cool berdiri di jendela mobil dengan melipat tangan didepan dada.
Wanita mana coba yang tidak tertarik dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna seperti Tyo. Tentu mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
"Mau kemana tadi kamu?" tanya Tyo yang sudah melajukan mobilnya di jalanan.
"Emm, gak kemana mana," balas Dhea sambil menggeleng lalu mengangguk dan menggeleng lagi.
"Yang benar mau kabur kan? "
"Hah, gak ah! orang aku gak mau kabur kok," kata Dhea tak mau kalah.
"Gak usah bohong, saya tahu." ucap Tyo dengan pandangan lurus ke depan.
"Tau ah, Lupain."
Tiba tiba gadis itu teringat sesuatu, "Emm, uncle tau gak?" tanyanya memiringkan badan dan menatap Tyo yang sedang fokus menyetir.
"Enggak" jawabnya jujur lalu melirik Dhea. "emang kenapa? "
"Dhea juara 2 lo uncle," katanya sumringah.
__ADS_1
"Masa sih?"
"Iya!" serunya bahagia lalu mengambil lengan Tyo lalu memeluknya. "Dan itu semua berkat uncle yang udah ngajarin Dhea."
Ia mengingat betapa sabarnya Tyo mengajarinya ketika ingin melaksanakan ujian. Hampir setiap malam Tyo mengajari dan jadilah sekarang.
"Makasih ya uncle." ucapnya sambil menampilkan senyum manisnya.
Saat ini mereka sudah sampai dihalaman rumah Tyo, dan Pria itu sudah memarkirkan rapi mobilnya.
Tyo tersenyum penuh arti dan memandang intens mata Dhea.
"Saya gak terima ucapan terima kasih seperti itu," ucap Tyo.
"jadi?"
"Kamu mau berterima kasih kan dengan uncle?"
Dhea mengangguk polos. "Jadi kamu harus mengabulkan permintaan saya sebagai tanda terima kasih kamu."
"Iya Dhea mau,"
"Apapun itu? "
Dhea mengangguk.
"Janji?" tanya Tyo.
"Janji!"
"Uncle mau apa? " tanya Dhea bingung dan gugup dengan posisi mereka sekarang.
Tyo diam dan menatap lekat di manik mata Dhea.
"Saya mau ini," kata pria itu cepat dan sekarang sudah melahap rakus bibir Dhea.
Dhea hanya bisa mematung dan tak berniat membalas. Ia masih bingung kenapa Tyo melakukan hal tersebut kepadanya.
Tyo menghentikan sejenak kegiatannya dan menggerakkan tangannya untuk mengambil tangan Dhea, lalu menaruh tangan kecil itu melingkar indah dilehernya.
"Saya mau ini sebagai balasan terima kasih kamu." Tyo berucap dengan suara serak.
Tampa sadar Dhea mengangguk dengan polosnya.
"Saya mencintaimu!" seru pria itu tepat ditelinga Dhea kemudian meniupnya untuk memberi sensasi yang berbeda.
Gadis itu terdiam mencerna ucapan Tyo barusan. Dan kemudian ia merasakan ada benda basah yang sudah merayap di bibirnya.
Awalnya Dhea tak membalas ciuman Tyo, tapi lama kelamaan ia membalas dan larut dalam suasana seperti ini.
Tangan Tyo pun tak hanya diam. Perlahan lahan tangan itu mengusap lembut paha mulus Dhea. Setelah puas di bagian tersebut, ia kemudian menggerakkan tangannya keatas untuk membuka kancing seragam Dhea.
__ADS_1
Dhea tak menolak dan malah menikmati setiap sentuhan yang Tyo ciptakan pada tubuhnya. Ada getaran yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Baju Dhea sudah terbuka dan nampak lah sebuah Bra berwarna putih yang menutupi kedua gundukan milik gadisnya.
Ia tersenyum dan bergantian memandangi antara kedua gundukan itu lalu wajah malu malu Dhea.
Dhea yang tanpa senagaja, seperti merasakan ada sesuatu yang sudah mengeras dibawah sana. Sungguh, saat ini gadis itu benar benar malu apalagi saat ini Tyo terus saja memandangi dadanya.
Karena malu, ia lantas menutupi wajahnya yang sudah merona dengan menggunakan kedua telapak tangannya.
Tyo tersenyum melihat tingkah Dhea yang malu malu itu. Kemudian ia menyingkirkan tangan yang menutupi wajah gadisnya lalu melahap kembali bibir ranum milik Dhea.
Puas dengan bibir ranum Dhea, pria itu turun mencium ke area leher jenjang milik Dhea. Tak lupa, menggigit pelan leher gadis itu dan tentu membuat Dhea mendesah secara tak sadar.
Usai puas mengecupi leher jenjang gadisnya, Tyo menaikan bra milik Dhea.
Sekarang ini terpampanglah kedua gundukan indah tersebut tanpa terhalang apapun. Tyo sudah sangat tidak sabar ingin merasakan sensasi nikmat itu.
Baru saja Tyo hendak melahap kedua benda itu, namun sebuah panggilan ditelpon Tyo menganggu kegiatan mereka.
Tyo sebenarnya ingin mengabaikannya, namun telponnya tak kunjung berhenti berbunyi.
Karena sudah bosan, akhirnya ia mengambil hp nya dan melihat nama Bastian tertera di layarnya.
Pria itu menarik nafas kuat lalu menghempaskannya. Mau tidak mau akhirnya ia menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan kakak lelakinya tersebut.
"Hallo,"
"Yo, Kamu sedang bersama Dhea gak?" Tanya bastian.
Tyo melirik Dhea di depanya yang sedang memasang kembali bajunya yang sudah berantakan.
Dhea menggeleng pelan dan kembali melanjutkan kegiatanya.
"Emm, Tyo lagi gak dirumah yah." ucap Tyo beralasan.
"Owh baiklah kalau begitu nanti jika kau sedang bersama Dhea, tolong kau hubungi aku kembali." kata Bastian
"Baik yah," telpon pun terputus.
Kemudian ia menatap Dhea yang juga sedang menatapnya. Mereka sempat berdiaman beberapa saat sampai Tyo berucap,
"Maafin saya De, saya khilaf." ucapnya kemudian menggenggam kedua tangan gadis itu.
Dhea tersenyum simpul, "Gak papa uncle, Dhea ngerti kok."
Mendengar itu Seketika membuat wajah Tyo kembali bersemangat "Kamu harus siap ya, karena tidak lama lagi saya akan meminta hak saya sebagai suami," ucapnya senang.
Seketika Dhea terdiam, hinga Tyo yang menyadarkannya dan mengajaknya keluar dari mobil.
Dia masih tak percaya dengan ucapan lelaki itu, namun dengan segera ia merubah sikapnya menjadi biasa biasa saja.
__ADS_1
**Salam hangat author.
Afrida nainggolan**.