Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Kecelakaan Tyo


__ADS_3

Sementara di sekolah Harapan, Dhea masih menunggu Lia di depan pagar. Dhea sekarang sangat membutuhkan temannya itu sebagai tempat curhat.


Tak lama kemudian, mobil Alphard berwarna hitam berhenti tepat dihadapan Dhea. Dhea tersenyum melihat Lia turun dari mobil.


"DHEA, kenapa kau masuk sekolah?" tanya Lia.


"Lia, hiks hiks, gue gak tau harus berbuat apa?" Dhea memeluk Lia sambil menangis.


"Udah jangan nangis donk, gimana kalau kita pergi ke cafe deket sini, kita bolos aja ya? kan gak belajar." paksa Lia menarik tangan Dhea. Kemudian mereka pergi dari sekolah menggunakan taksi.


Kini mereka berdua sudah berada di salah satu cafe yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Untuk kali ini, tercatat dalam sejarah jika Dhea berniat bolos untuk yang pertama kalinya.


"Udah, sekarang lo boleh nangis." Dhea lalu mendekat kepada Lia dan mulai menangis dalam pelukannya.


"Gimana masa depan gua nanti, hiks hiks, apa kata orang kalau gua nikah sama uncle gua sendiri." ucapnya masih sambil terisak.


Lia termenung. Memikirkan jawaban yang tepat sambil mengelus lembut punggung Dhea.


"Soal masa depan lo, lo tenang aja, paman Tyo pasti gak bakal ngelarang lo buat kuliah. Dan soal lo nikah sama uncle lo, itu pasti ada alasan De. Mungkin paman Tyo itu bukan paman kandung lo, makanya nyokap sama bokap lo ngebiarin."


Iya juga ya, batin Dhea.


Seketika tangisnya mereda, ia baru sadar kenapa ia tidak menanyakan kepada orang tua nya perihal itu.


Bodohnya gua, kok gua baru paham si. batin Dhea lagi.


"Gimana? lu ngerti kan? " tanya Lia.


"Iya gua ngerti sekarang, nanti di rumah gua tanya sama ayah bunda."


"Hmm, bagus, bagus. Lain kali tu otak dipake ya, jangan lola masalah itu, giliran pelajaran aja lu pintar tapi masalah beginian gak paham, ckck." Lia berdecak sambil menatap Dhea sinis.


Dhea mengusap sisa air matanya lalu cengengesan di hadapan Lia. "Udah ah, mending kita nge-mall kuy." ajak Dhea yang sudah bersemangat.


"Kuy!"

__ADS_1


Mereka pun pergi meninggalkan cafe menuju Mall terdekat.


***


Tyo masih fokus dengan berkas di hadapannya. Kemudian ia mendengar seperti ada keributan dari luar ruangannya. Ia melihat Ryan, asisten pribadinya berjalan menghampirinya.


"Maaf pak, nona Tania memaksa masuk dan ingin bertemu dengan anda pak."


Tyo tampak berpikir. "Biarkan wanita jalang itu masuk."


Ryan membuka pintu ruangan Tyo, dan mebiarkan Tania untuk masuk. Wanita itu berjalan dengan gaya elegan nya menuju ke kursi kebesaran Tyo.


"STOP DISITU!" bentak Tyo. Namun Tania tak menghiraukannya, ia malah semakin mendekat ke arah Tyo.


"AKU BILANG STOP, YA STOP! KAU TULI APA?" pria itu semakin mengeraskan suaranya. Tania yang mendengar itu pun lantas membuatnya menjadi takut. Ia kemudian memilih berhenti dengan jarak 4 langkah dari hadapan Tyo.


Sedangkan Ryan, ia tersenyum puas melihat Tania yang dibentak oleh Bosnya tersebut. Ryan tahu betul masalah antara Tyo dan Tania. Sebenarnya ia sudah lama mengetahui jika Tania itu bukanlah wanita yang berahlak baik. Percuma saja memberi tahu Tyo yang sebenarnya karena pria itu tidak ingin mendengar keburukan tentang kekasihnya dulu. Catat, DULU!. Jika memberi tahu kepada Tyo, pasti dia tidak akan percaya.


"Katakan?!" Tyo menatap sinis Tania.


Mendengar Tania berbicara, membuat Tyo semakin jijik dengan wanita itu.


"Pernikahan apa yang kau maksud?"


"Pernikahan kita. Bukankah semalam itu adalah hari dimana kita akan melangsungkan acara pernikahan kita?"


Tyo berdecih "Cih. Hentikan panggilan menjijikanmu itu. Aku tidak mau di panggil sayang oleh mu."


"Sayang aku tanya kenapa kita tidak jadi menikah?". Masih belum merasa bersalah rupanya. Tidak tahu malu sekali kau Tania.


"Kau pergilah, sekarang aku sudah menikah dan jangan muncul lagi dihadapan ku. Aku benar-benar sudah jijik melihat wajah kotor mu itu." ucap Tyo sarkas.


Tyo sudah tidak peduli dengan perasaan Tania. Toh Tania yang lebih dulu berkhianat. Ia sudah tidak mencintai Tania lagi, barang sedikit pun. Sungguh muak dengan wajah wanita itu.


"Tapi dengan siapa? bukankah seharusnya kau menikah dengan ku, HAH." bentak Tania yang juga ikut emosi.

__ADS_1


"Hahah, jangan mimpi kau, setelah apa yang kau lakukan. Aku sangat sangat membencimu *****!"


"Tyo kau keterlaluan."


"Kau yang keterlaluan, Ryan seret dia keluar!"


Ryan menuruti perintah bosnya. Ia menyeret paksa Tania keluar meski Tania memberontak. Namun karena kekuatan Ryan jauh lebih besar, jadilah Tania mengalah.


Tapi bukan Tania namanya jika menyerah begitu saja. Ia akan menyelidiki dengan siapa Tyo menikah. Sangat tidak terima dengan kenyataan tersebut.


Setelah Tania keluar, Tyo menghancurkan semua barang yang ada di ruangannya tersebut. Sungguh ia sangat membenci Tania.


Setelah puas menghancurkan semua barang yang ada, Tyo mengambil kunci mobilnya dan keluar dari ruangannya. Ia turun menggunakan lift khusus Ceo perusahaan dengan pandangan lurus ke depan. Matanya tampak kosong, raut wajahnya begitu menampakkan kekecewaan dan emosi mendalam.


Tyo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sudah tidak memperdulikan orang orang disekitar yang terus memaki-maki nya karena ulahnya yang mengendarai mobil seperti orang kesetanan.


Ditengah sibuknya mengendarai, tiba-tiba saja ia melihat ada seorang anak kecil yang hendak menyebrang jalan. Otomatis membuat Tyo berusaha menghindar dan lebih memilih menabrak pohon didepannya.


Brakk


Mobil Tyo berhasil menabrak Pohon besar yang berada di pinggir jalan. Semua orang menyaksikan dengan segera menghampiri Tyo. Beberapa orang berusaha mengeluarkan Tyo yang sudah terluka dari dalam mobil dan langsung melarikan Tyo ke rumah sakit terdekat agar pria itu segera mendapatkan pertolongan medis dengan cepat.


Sementara di kantor Bastian, ia yang mendapatkan panggilan dari Tyo pun langsung mengangkatnya.


"Hallo selamat siang, apa benar ini anggota keluarga Tuan Tyo Ardiansyah?" ucap polisi di sebrang sana.


Seketika itu tangan Bastian yang sedang menggenggam pena langsung terjatuh. "Iya benar pak, saya saudara pria dari Tyo."


"Sebaiknya anda langsung datang ke Rumah sakit Harapan, karena saat ini adik anda sedang berada di rumah sakit sekarang. Kami mengetahui dari warga kalau Tuan Tyo menabrak pohon di pinggir jalan saat berusaha menghindari pejalan kaki yang sedang menyebrang," jelas polisi menerangkan.


"Baiklah pak saya akan langsung segera ke sana." Bastian memutuskan panggilannya. Mengambil kunci mobil hendak pulang ke rumahnya, ia harus menjemput istrinya terlebih dahulu.


Lisa kaget karena suaminya pulang lebih awal. kemudian setelah mendengar penjelasan suaminya, ia kemudian paham.


Mereka segera berangkat ke Rumah sakit bersama-sama.

__ADS_1


Masalah Dhea, Lisa sudah menghubungi Dhea dan menyuruhnya pulang. Dhea akan dijemput supir keluarga Bastian yang akan langsung membawanya ke Rumah sakit.


__ADS_2