
lanjuttttt!!!
jangan lupa untuk tetap dukung authornya ya.
makasih buat yg masih setia dengan novel kedua ku ini, hehhehe.
Hari ini adalah Hari yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Tyo. Hari dimana pernikahannya dengan Tania akan dilangsungkan. Tyo saat ini masih gugup, ia takut salah dalam mengucapkan ijab kabul nanti.
Seluruh keluarga pengantin pria sudah siap dengan pakaian yang rapi dan lengkap tentunya, tak lupa juga dandanan yang menambahkan kesan indah di wajah mereka masing-masing. Terkhusus bagi Dhea dan Lisa, ibunya. Wajah mereka tampak begitu sempurna dengan polesan make up.
Tyo memakai Tuxedo putih, sedangkan Bastian memakai jas berwarna hitam. Berbeda dengan Lisa dan Dhea, mereka memakai baju kebaya dengan rok batik berwarna seragam. Baju itu adalah baju yang dibelikan oleh Tyo kemaren dan ternyata Lisa Juga memesan baju yang sama untuknya.
"Gimana dek, udah siap?" tanya bastian kepada Tyo.
Tyo mengangguk dan berusaha tersenyum. Ia masih berusaha mengontrol degub jantungnya yang berdetak tidak karuan. Karena kegugupannya itu, setetes keringat mulai turun dari dahinya.
Dhea yang melihat raut wajah kegugupan pamannya lantas menghampiri Tyo dan menggenggam erat tangannya.
"Dhea peluk dulu sini, biar Uncle jadi tenang." Ujar Dhea langsung memeluk Tyo untuk menenangkannya.
"Makasih Dhea sayang." ujar Tyo setelah Dhea melepaskan pelukannya.
"Uncle tenang aja ya. Dhea yakin kalau Uncle pasti bisa!" ucapnya menyemangati.
Tyo mengangguk. kemudian ia tersadar dan menatap Dhea dari atas sampai bawah.
"Kamu kok cantik banget sayang." katanya mencoba menggoda Dhea.
Bastian dan Lisa tersenyum mendengar ucapan Tyo barusan.
"Uncle lebih tampan." Tidak bisa Dhea pungkiri bahwa pamannya itu, memang saat ini terlihat sangat tampan.
"Hahah, kamu bisa aja." Tyo mengecup sekilas pipi Dhea.
"Sudah-sudah, Mari kita berangkat. Kita juga belum melihat atau sekedar mengecek pengantin wanitanya, nanti kita terlambat." Bastian memperingati.
Mereka memang belum mengetahui bagaimana keadaaan sang pengantin wanitanya. Sedari tadi Tyo sudah mengubungi Tania, namun tidak ada jawaban. Tyo berpikir kalau Tania pasti sedang dirias, jadi tidak sempat untuk mengecek ponselnya.
"Baiklah, mari kita berangkat!" kata Dhea dengan semangat. Ia memegang tangan Tyo untuk jalan bersama.
__ADS_1
Mereka kemudian berjalan keluar rumah dan memasuki mobil. Pelan tapi pasti, mobil berjalan meninggalkan pekarangan luas rumah Bastian, ayah Dhea.
25 menit berlalu, sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di Hotel Garden, tempat dimana pernikahannya akan dilaksanakan.
Mereka melihat sudah banyak tamu berdatangan. Tak butuh waktu banyak, mereka berempat juga ikut bergabung untuk menyambut kedatangan para tamu undangan.
Tyo sempat melirik ke segala arah berusaha mencari keberadaan Tania, sang pengantin wanita. Namun hasilnya nihil.
Walau begitu, Tyo tetap berusaha berpikir positif, kalau Tania saat ini masih sedang merias. Karena yang Tyo tau, Tania adalah seorang wanita yang sangat mementingkan penampilan. Menurutnya, penampilan adalah segala-galanya.
Berbeda dengan Tyo, saat ini Dhea justru lebih memilih duduk di bangku yang sudah disediakan untuk para tamu undangan. Gadis itu membiarkan ayah dan ibunya berbincang dengan tamu yang ramai berdatangan. Tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar karena saat ini ia sedang menunggu Lia yang sedari tadi tidak menampakan batang hidungnya.
Ponsel Dhea bergetar dan menunjukan panggilan dari Lia. Dhea pun mengangkatnya.
"Lo di mana woy?! pening gua cari lu dari tadi mah." Lia mulai ngegas di sebrang sana. Dia juga memang sudah sampai sedari tadi, namun masih tak menemukan dimana keberadaan Dhea. itu semua diakibatkan banyaknya para tamu dan luasnya Aula Hotel tersebut.
"Ini gua lagi duduk dekat bangku para tamu." Katanya sambil celingak-celinguk.
"Mana si De, kok gua gak liat dah?" Lia mulai kesal.
"Tapi gua uda liat lu, lu di pintu masuk aula kan?" Mata Dhea dapat melihat Lia yang saat ini sedang berada di depan pintu masuk aula. Berdiri seperti orang bingung saat mencari keberadaan Dhea.
"Coba lu putar badan kearah timur, nah lurus aja ke depan. Gua bisa liat lu dari sini, okeh." ucapnya menginstrupsi.
"*Ok*e fiks gua uda liat." Lia pun mematikan sambungan teleponnya dan berjalan menghampiri Dhea.
"Pening gua de, rame bener orangnya. Dan lagi mereka semua ini pasti dari kalangan atas." ucap Lia setelah duduk di samping Dhea.
"Ya gitulah, secara uncle Tyo termasuk ke jajaran pengusaha muda sukses di Indonesia ditambah aunty Tania model papan atas."
"Ngomong-ngomong soal kekayaan, yang lebih kaya itu ayah lu atau paman Tyo?" tanya Lia penasaran.
"Ya uncle Tyo lah. Gua bener-bener salut sama beliau karena dengan mudahnya ngembangin perusahaan almarhum kakek gua dalam jangka waktu 7 tahun." Jelas Dhea begitu bangga terhadap pamannya.
"Wih ajigile bener dah tu orang. Secepat itu guys." Lia terkagum. "Btw yang nikahnya mana ya, ijab kabulnya bentar lagi juga mau mulai kan?" tanya Lia karena begitu penasaran dengan pasangan Tyo.
"Uncle Tyo lagi menyambut semua tamu, tapi kalau aunty Tania, emm, kayaknya gua belum liat dari tadi deh." Jujurnya. Faktanya ia memang sedari tadi belum melihat pengantin wanitanya.
"Aelah, uda mau ijab kabul juga."
__ADS_1
"Mungkin dandan kali ya, kan aunty Tania model, jadi fisik itu diutamain banget sama dia."
"Iya kali."
Mereka hening sesaat, kemudian setelahnya ibu Dhea datang dengan tergesa mengajak Dhea menuju kamar Rias. Dhea tak menolak dan ia juga membawa Lia bersamanya. Dhea bingung kenapa ibunya menarik paksa dirinya.
Ketika sudah sampai di kamar Rias pengantin wanitanya, Dhea dan Lia dibuat heran dengan apa yang mereka lihat. Mereka berdua dapat melihat Bastian sedang duduk di kursi panjang dengan wajah frustasi sambil mengacak kasar rambutnya. Sedangkan Tyo, sepertinya Tyo sangat emosi sehingga ia memecahkan cermin yang ada didalam kamar tersebut.
Dhea dan Lia dibuat sangat kebingungan dengan keadaan ini. Dhea kemudian menoleh menatap sang ibu untuk meminta penjelasan.
Namun sang ibu memilih bungkam dan tidak menjawab, Lisa hanya menampilkan wajah sedihnya. Seperti sedang menahan air mata agar tidak terjatuh ketika menatap sang putri.
Lelah berpikir, akhirnya Dhea memutuskan untuk menanyakan langsung kepada sang ayah.
"Ayah, apa yang terjadi? kenapa kalian terlihat sangat aneh?"
Bastian tersadar dan menatap lembut sang putri.
Bastian melambaikan tangannya bermaksud menyuruh Dhea mendekat kepadanya. Dhea menurut, dan berjalan menghampiri sang ayah. Kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Bastian.
Bastian memegang tangan Dhea dan menarik nafas dalam-dalam, kemudian berucap...
"Dhea, berjanjilah untuk menuruti permintaan Ayah kali ini?" Pinta Bastian membuat Dhea mengernyitkan dahi dan menautkan kedua alisnya.
"Selama ini ayah tidak pernah meminta sesuatu dari Dhea kan, tapi Ayah mohon kali ini tolong Dhea kabulkan permintaan Ayah." lanjutnya sambil memandang lekat manik mata putrinya itu.
"Apapun itu, selagi Dhea mampu, Dhea bakal melakukanya karena yang terpenting ayah bisa senang." ucap Dhea lembut. Sungguh, sepertinya perkataan ayahnya begitu serius.
"Karena kamu sudah berjanji jadi kamu juga harus menepatinya sayang." ucap Bastian, kemudian melirik Tyo yang memang sedari tadi ikut mendengar perbincangan mereka.
Bastian kembali memandang wajah hangat sang putri lalu setelahnya menghela napas panjang. Ia kemudian berkata...
*
*
O****ke oke aku bakal lanjut, tapi jangan lupa like, komen,dan vote nya ya..... 😉
semoga yg berbaik hati selalu dilimpahkan rezeki dan kesehatan... amin.🙏
__ADS_1