
Sekarang mereka sedang berkumpul dimeja makan untuk menikmati makanan yang tadi dimasak oleh Oma, Dhea, dan Lia. Mereka berenam makan malam diselingi perbincangan dan tawa ringan oleh semua orang.
Ketika sedang menikmati makanannya, Tyo hampir tertawa karena melihat Ryan yang terus saja menatap Lia yang berada di hadapanya.
Mata pria itu tak pernah lepas memandangi sahabat Dhea tersebut. Sedangkan yang ditatap hanya berbincang bincang dengan Ray dan tak tahu kalau dirinya sedang ditatap.
Sebenarnya Ryan kesal melihat kedekatan Lia dan Ray.
"Ehemm!" Tyo berdehem dan membuat semua orang disana menatap ke arahnya.
"Aku sudah selesai dan menunggu diruang televisi," ucapnya yang menyadari kalau dirinya sedang ditatap. Kemudian ia berlalu dan diikuti oleh Ryan dibelakangnya.
"Yasudah kalau begitu aku juga." ucap Ray meminum habis airnya lalu menyusul Tyo dan Ryan.
"Oma akan buatkan susu coklat hangat dan camilan untuk kita semua." kata oma yang hendak beranjak dari duduknya.
"Kami bantu ya oma." tawar Lia.
"Gak usah sayang, kalian langsung ke depan saja."
"Gak ah, masa kami biarin oma yang kerja trus kami santai santai, gak baik itu oma." terang Lia.
"Iya oma, biar kami saja yang melakukanya," kata Dhea yang membenarkan ucapan Lia.
"Yasudah kalau begitu oma duluan ya," ucap oma yang akhirnya mengalah lalu meninggalkan dapur.
"Kuy de, kita buat!"
"Eh lu aja yang buat ya, biar gua yang cuci piring." katanya yang hendak mengangkat piring piring kotor namun ditahan oleh Bik Nur.
"Eh gak usah non, biar saya aja yang cuci. Non bantu non Lia saja non." katanya kemudian mengambil alih piring kotor ditangan Dhea.
"Bener gak repot ni bik? "
"Iya non."
"Yaudah makasih ya bik, Dhea buatin buat bibik juga ya. Dan Dhea gak terima penolakan,"
Bik Nur hanya bisa mengangguk angguk saja, ia tahu kalau istri Tuanya itu keras kepala dan tak mau dibantah.
****
"Dhea sama Lia nya mana mi?" tanya Ray saat sang mami mendudukkan diri disampingnya.
"Di dapur, mereka maksa biar mereka berdua yang buatin minum sama camilan buat kita." kata oma lalu memfokuskan diri menonton film action yang sedang ditayangkan di televisi.
Ray hanya ber'oh ria saja dan ikut menonton.
Tak lama kedua gadis itu datang dengan membawa 6 gelas susu coklat beserta beberapa camilan.
"Silahkan dinikmati tuan dan nyonya." canda Dhea lalu meletakkan apa yang tadi mereka bawa di atas meja.
"Terima kasih dayang, sumbing. Hahah," ucap Ray yang akhirnya membuat mereka semua tertawa, kecuali Tyo dan Ryan.
Tyo hanya menatap sinis Ray yang duduk di hadapanya. Kesal sekali ia karena Ray mengatakan istrinya dayang sumbing.
Ryan berusaha menahan tawanya melihat bosnya yang sedang emosi.
"Sabar bos." ucapnya berbisik.
__ADS_1
"Diam kau!" balas Tyo sinis dengan berbisik juga.
Usai meletakan nampan di dapur, Dhea kembali dan duduk di samping Tyo.
"Uncle capek ya, biar Dhea pijitin." ucap Dhea yang mulai memijit pelan lengan kekar Tyo.
"Semangat sekali kamu rupanya ya?" ucap Tyo kepada Dhea.
"Tentu, itu karena kita semua sudah lengkap."
Dhea memang senang saat mereka semua sedang berkumpul seperti ini. Meskipun bukan keluarga tapi Dhea sudah menganggap Ryan dan Lia saudaranya.
"Wow benarkah?"
"Heem!"
Dhea tersenyum menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan pijatannya.
"Lia, kamu udah lama banget ya temenan nya sama Dhea?" tanya Ray yang sudah mulai akrab kepada Lia.
Pria itu sangat senang dengan sahabat Dhea itu karena orangnya yang humoris dan cantik tentunya.
"Hmm, sudah dari Smp kak." jawab Dhea sambil memakan camilannya.
"Wish lama amat ya?"
"Biasa aja kayaknya," potong Ryan yang memang sedari tadi ikut mendengarkan perbincangan karena memang Lia duduk disebelahnya.
"Terus kamu uda punya cowok gak?" tanya Ray yang tak menghiraukan ucapan Ryan.
Terlihat Lia malu malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jomblo akut si Lia tu kak Ray," kata Dhea.
"Diem lu de, songong lu." ucapnya kesal.
"Berarti kalau begitu aku boleh mendaftar donk?" tanya Ray.
"Hah? Mendaftar? " tanya balik Lia.
Dhea tertawa karena kebodohan dan ketidakpekaan sahabatnya itu.
"Iya mendaftar. Mendaftar sebagai imam kamu."
Tampak Lia yang malu malu dan pipinya sudah menjadi seperti udang goreng saja.
"Heheh, Kak Ray bisa aja."
"Aku serius!"
"Ekhem!" Ryan berdehem sengaja untuk menganggu perbincangan Ray dan Lia.
"Bos besok malam adalah hari jadi perusahaan kita. Apakah bos akan menghadirinya? " tanya Ryan kepada Tyo.
"Tentu."
"Wow, sepertinya uncle tak berniat mengajak kami ya? " tanya Dhea.
"Kayaknya gak usah."
__ADS_1
"Lah kenapa?" tanya Dhea tak terima.
"Gak tau."
"Aish, pokoknya kami harus ikut." ucap Dhea kesal dengan melipat tangan didepan dada.
"Heheh, iya iya kamu ikut." ujarnya lalu menarik Dhea untuk bersandar di dada bidangnya.
"Egh, Dhea maunya kita semua ikut."
"Iya iya, semua bakalan ikut tanpa terkecuali."
ucap Tyo mengalah.
"Uncle baik deh," katanya lalu memeluk erat tubuh Tyo dihadapan semua orang.
Oma hanya geleng geleng kepala melihat kedekatan antara anak dan cucunya itu, karena ia memang belum mengetahui kalau mereka berdua sudah menikah, hahah.
Ray hanya memaklumi kedekatan kedua orang tersebut. sedangkan Ryan yang memang sudah tahu,hanya biasa saja. ia berpikir bosnya sudah mulai tertarik dengan istrinya itu.
"Idih, ngotorin mata aja." gumam Lia pelan.
"Besok oma ikut kan?" tanya Dhea setelah melepaskan pelukannya.
"Kayaknya gak bisa deh sayang. soalnya oma ada arisan dengan teman teman oma," kata oma menolak permintaan Dhea.
Oma memang sudah membuat janji dengan teman teman lamanya untuk bertemu dan berbincang ria. Dan jangan lupakan gosip yang akan dikupas habis oleh emak emak tersebut.
"Yasudah deh, tapi kak Ray bisa kan?"
"Hmm, kayaknya aku gak bisa juga De."
"Ha, kenapa lagi?"
"Hehe, ada acara gitu sama teman aku yang kebetulan juga liburan di Indonesia."
"Yaudah deh kalau gitu Lia aja yah," mohonnya sambil mengedip ngedipkan mata.
"Ha, aku?" tunjuk Lia pada dirinya sendiri. "Bakalan jadi apa aku kalau hadir disana, tamu? karyawan? teman lo? atau CS? "
"Pasangan saya saja," potong Ryan.
"Iya betul itu." ucap Dhea girang.
"Aduh, gak kenapa kenapa emang ya? " tanyanya ragu.
"Lah emang kenapa, pemilik perusahaan aja gak ada sewot tuh, iyakan uncle?" katanya meminta pembelaan dari Tyo.
"Iya."
"Oke baiklah aku bakalan ikut, tapi Kak Ryan jemput aku yah." ucap Lia tersenyum manis kearah Ryan.
Ryan deg degan melihat senyum manis yang Lia berikan kepadanya. Ia berpikir andai saja wakti bisa dihentikan pasti ia bisa terus terusan melihat senyum manis gadis disampingnya ini.
"Tentu!" balasnya berusaha menyembunyikan senyuman.
Sementara Tyo? Ia senang melihat sahabat plus asisten pribadinya itu yang sepertinya sedang jatuh cinta.
"Terima kasih."
__ADS_1