
Tadi selesai acara pesta Ryan pulang bersama Lia. Namun Ryan tidak mengantar gadis itu terlebih dahulu, ia malah membawanya ke sebuah danau buatan yang tampak indah dimalam hari.
Lampu lampu yang berada dipinggir jalan menerangi sekitarnya dan menambah kesan romantis bagi siapa saja yang datang kesana.
Tempat ini tidak terbilang ramai, namun ada beberapa orang yang berkunjung hanya untuk berdua duaan atau berselfi ria dipinggir danau.
"Cantik banget kak!" seru Lia memandangi sekitarnya yang dapat menyejukkan mata.
Ryan tak menjawab dan malah memilih duduk sembarang di atas rumput dekat pinggir danau. Pria itu mengambil batu lalu melemparnya ketengah tengah danau yang tenang itu.
"Sini." ucap pria itu menepuk tempat disampingnya.
Lia ikut duduk di samping Ryan dan fokus memandang kearah depan meski tak ada yang harus dipandang. hanya air danau yang tenang.
"Umur kamu berapa?" tanya Ryan setelah berdiam cukup lama.
"Emm,18 tahun kak. Emang kenapa kak?" tanya gadis itu menatap Ryan yang masih fokus memandang ke depan.
"Kamu uda ada kepikiran gak tentang bagaimana masa depan kamu nantinya?" tanya Ryan menoleh kearah Lia yang juga sedang menatapnya bingung.
"Kalau masa depan aku cuma mau jadi perempuan yang berkarier dan setelahnya mencari suami yang mampu membina rumah tangga dengan nama Allah," katanya tersenyum tipis.
"Uda tau calon suaminya? "
Lia menggeleng, "Nggak."
"Ohh baguslah."
__ADS_1
"Bagus apanya ya kak? "
"Gak ada," ucap Ryan lalu fokus kembali menatap air danau yang tenang.
Mereka kembali terdiam dan hanya suara angin saja yang terdengar. Lia merasa kedinginan dan memeluk dirinya sendiri untuk mengurangi rasa dingin itu.
"Dingin ya?" tanya Ryan lalu membuka jasnya dan memakaikannya kepada Lia.
Ryan mengambil tangan Lia lalu menggenggamnya erat sambil menatap mata Lia intens.
"Lia, kamu mau gak kalau menikah diusia muda seperti ini?" tanya Pria itu.
"Insyaallah Lia siap kalau calon suaminya kakak, hahaha." ucap gadis itu tertawa renyah karena menganggap ucapan Ryan hanya sebagai candaan.
"Saya serius Lia!" ucapnya masih menatap dalam dalam manik mata Lia.
"Eh?"
"Hah?" Lia begitu syok dengan ucapan Ryan.
"Saya mau menjadikan kamu istri saya, Lia."
"Tapi kak, Lia kan masi pengen kuliah terus kerja terus-" ucapnya terpotong
"Saya gak bakal larang kamu untuk melakukan itu semua , saya hanya ingin hidup berdua dan menghalalkan kamu sebagai istri saya. Saya tanya sekali lagi, apa kamu siap? "
Lia tampak ragu namun mengiyakan saja. "Lia siap kak."
__ADS_1
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Ryan lalu memeluk Lia erat.
Sebenarnya Ryan ingin cepat cepat menikahi Lia bukan hanya karena cintanya, tapi ia juga mendapat amanah dari ibunya yang sudah sakit sakitan untuk membawakan menantu kepadanya.
Ryan sebagai anak yang berbakti lantas mengiyakan dan memilih Lia sebagai istrinya. Ia tahu kalau Lia bukanlah anak yang manja dan selalu patuh kepada orang tuanya. Terbukti meskipun gadis itu hidup dengan bergelimang harta, ia tidak pernah sedikitpun menyombongkan diri. Malah dengan kerendahan hatinya, ia sering memberikan donasi kepada anak yatim piatu.
"Emm, Lia boleh tanya gak kak?" tanya Lia setelah pelukan mereka terlepas.
"Tentu!"
"Kenapa kakak mau milih Lia dan bukan wanita wanita dewasa diluar sana. Kan banyak yang lebih sempurna dari Lia."
"Mereka memang sempurna Lia. Tapi sempurna secara penampilan bukan etika dan sikap. Sebenarnya kalau saya mau saya bisa menikahi sekretaris pak Tyo yang terkenal cantik itu."
"Trus kenapa gak jadi? "
"Karena ia sudah tidak lagi memiliki sikap yang baik dan lebih menyombongkan tubuhnya kepada semua orang."
"Emang aku gak sombong ya? "
"Kamu sendiri yang bisa menjawabnya," ucapnya berdiri dari duduknya, "Yuk pulang! nanti mami kamu khawatir kalau terlalu lama anak gadisnya pulang."
"Yuk!"
Heheh, kepo ya tentang kehidupan Lia dan Ryan nantinya.
Makanya harus tetap stay di novel aku yah. Aku bakal up banyak banyak deh pokoknya.
__ADS_1
Salam hangat author
Afrida nainggolan.