
Saat ini, Dhea tengah duduk bersantai didepan televisi dengan secangkir susu putih hangat yang baru saja dia buat.
Detik kemudian, dia terkejut kala mendengar suara Ray yang berteriak memanggil namanya.
"DHEA!" teriak Ray dari depan kamarnya, ia berjalan kearah Dhea dan duduk di samping gadis itu.
"Gak usah teriak teriak bisa gak sih kak?!" sahut Dhea malas.
"Kamu nya sih, aku panggilin gak nyahut nyahut."
"Aku dengar Kak, cuma malas aja jawabnya," ujar Dhea santai. "Emang mau ngapain?"
"Ini!" menunjuk dasi yang ada dilehernya, "Pasangin dulu donk, aku gak bisa masangnya."
"Eh, bentar deh... Emang kakak mau kemana rapi rapi gini?" ujar Dhea meneliti pakaian yang dikenakan oleh Ray.
"Teman sekelas aku ngadain acara ulang tahun, jadi aku diundang donk. Secara Kakak kan cowok tertampan di kampus kita," ucap Ray percaya diri.
Dhea berdecih, "Cih, kepedean!"
"Pasangin donk, ntar aku telat lagi." sungut Ray.
"Iya, iya...siniin!" Dhea menyuruh Ray untuk semakin mendekat kepadanya.
Namun, entah dari mana datangnya, secara tiba tiba Tyo datang dan duduk ditengah tengah mereka.
"Mau apa kamu pegang pegang istri saya? Masih tau batasan yang pernah saya katakan kan?" tanya Tyo tak suka. Dia juga memasang wajah dinginnya ketika menatap Ray.
"Pinjam bentar doank kak buat pasangin dasi aku, nih, nih!" Ray hendak mendekat kearah Dhea namun terus dihalangi oleh Tyo.
"Gak boleh!" tegas Tyo.
"Over protektif banget sih."
"Hmm," Tyo dengan santainya melipat tangan didepan dada dan menunjukkan wajah datar.
"Pasangin donk de, nanti kakak telat," Ray bersungut memelas.
"Biarin donk Uncle, bentar doank." mohon Dhea karena Tyo merentangkan tangannya agar Ray menjauh.
"Sini, biar saya aja yang pasangin." kata Tyo santai.
Ray pasrah dan berdiri dihadapan Tyo, "Terpaksa!"
Dengan telaten, Tyo memasangkan dasi Ray rapi. Setelah siap, dia mendorong Ray dan memaksa adiknya itu untuk pergi menjauh.
"Iya iya, aku pergi," Ray yang dengan sabarnya memilih pergi meninggalkan kedua pasangan suami istri itu.
Tetapi, ketika hendak sampai di pintu, Ray berbalik badan dan berkata, "Kak, malam ini Ray nginap di rumah teman Ray ya. Jadi Ray gak pulang!"
"Iya," sahut Tyo.
Setelah kepergian Ray, ruangan itu menjadi hening. Dhea malas membuka pembicaraan, begitupun dengan Tyo.
Karena apa malas? sebab Dhea sedang merajuk kepada Tyo, yang tidak mau menemaninya menonton televisi. Bukan keinginan Tyo tidak mau menemani Dhea, hanya saja ada beberapa berkas berkas yang harus ditandatangani malam ini.
"Masih ngambek nih?" tanya Tyo memecah keheningan diantara keduanya.
Dhea tak menyahut dan berpura pura sibuk dengan acara Tv di depannya.
"Jangan ngambek donk, ntar aku gak dapat jatah lagi," ucap Tyo mencoba melawak namun gagal karena Dhea masih diam dan fokus ke arah depan.
Entah inisiatif dari mana, tiba tiba Tyo mengambil remot dan mematikan siaran Televisi agar Dhea mau menjawabnya. Dia bosan didiamkan terus menerus.
Tyo kira dengan cara itu Dhea akan berbicara kepadanya. Namun nyatanya, TIDAK. Sebab wanita itu masih diam dan meminum susu putihnya hingga tandas.
"Sayang, jangan marah donk. Kan kasian saya nya "
"Bodo amat!"
"Yes...kamu udah maafin aku kan?" senang Tyo karena akhirnya Dhea mau menyahut.
"Emm"
__ADS_1
"Makasih sayang," Tyo memeluk erat tubuh Dhea dan menenggelamkan wajahnya didepan dada Dhea. Pria itu bersikap layaknya anak kecil yang meminta susu kepada ibunya.
"Emang yang udah maafin, siapa?" tanya Dhea.
"Kamu...tadi kan kamu bilang iya."
"Mana ada!" elak Dhea, "Aku cuma bilang emm doank kok"
"Emm itu kalau dalam bahasa wanita, artinya adalah 'iya'." ucap Tyo sok serius.
"Iyain aja ih, biar cepet."
"Hahah, kamu emang terbaik deh." Tyo yang gemas langsung mengecup kedua pipi Dhea.
"Makasih ya sayang."
"Untuk? " tanya Dhea tak mengerti.
"Karena kamu sudah menjadi istri yang baik untuk aku," ucap Tyo menatap intens manik mata Dhea.
Sedangkan yang ditatap berusaha untuk menahan tawa ketika melihat wajah suaminya yang sangat serius.
"Sama sama, Uncle."
"Sayang!" panggi Tyo.
"Hmm," sahut Dhea sambil memijit kepala Tyo.
"Sayang!"
"Emm!"
"Dhea!" panggil Tyo lagi dan lagi.
"Apa sih Uncle?" kesal Dhea yang hampir menjambak rambut Tyo.
"Gak ada, cuma ngetes doank, heheh." Tyo terkekeh dengan wajah kesal istrinya.
"Sabar, sabar!" Dhea mengelus elus dada sabar dengan sikap Tyo.
Sontak perkataan Tyo membuat pipi Dhea merona karena malu, "Apasih, mesum amat."
"Mesum sama istri sendiri gak papa sayang," mengedipkan sebelah mata kearah Dhea.
"Uncle, Dhea malu, ih."
"Hahahha"
"Sayang!" panggi Tyo.
"Apa lagi?"
"Ubah donk panggilan buat aku, kan gak romantis kalau kamu manggilnya Uncle. Kalau misal kita lagi jalan ke mall nih, trus kamu panggil aku 'Uncle' pasti orang berpikir kalau kamu keponakan aku."
"Kan emang kenyataanya kalau Uncle itu paman aku."
"Ish, gak asik deh."
"Iya, iya. Emang Uncle mau aku panggil apa? "
"Gak tau?" balas Tyo mengedik kan kedua bahu.
"Kalau aku panggil nama, itu gak sopan."
"Heem."
"Mas, Kakak, abang, akang, Sayang, suami--"
"No, no, no!" Tyo memotong ucapan Dhea, "Gak ada yang bagus sama sekali"
"Emm" Dhea meletakkan jari telunjuk di kening, tampak sedang berpikir.
"Kalau Hubby aja, gimana?"
__ADS_1
Tyo mengangguk cepat, "Ide yang bagus... Coba kamu panggil sekali lagi."
"My Hubby tersayang,"
"Sangat indah." pria itu mengecup sekilas bibir Dhea.
Keduanya sekarang kembali diam saat sibuk dengan pikiran masing masing. Hingga suara perut yang keroncongan memecah suasana hening diantara keduanya. Hal itu membuat Tyo menoleh kearah Dhea yang sudah menampakkan deretan gigi putih bersihnya.
"Kamu lapar?" tanya Tyo karena memang yang barusan berbunyi adalah perut sang istri.
Dhea mengangguk, "Iya, Dhea mau makan lagi Hubby."
"Bukankah kita baru saja makan malam?"
"Heem, tapi entah kenapa belakangan ini perut Dhea lapar terus."
Dhea juga tak mengerti, kenapa belakangan ini ketika malam hari dia selalu kelaparan. Bukanya tidak makan, hanya saja perut Dhea yang tak kenal waktu.
Pernah sekali, gadis itu terbangun pada jam 2 dini hari karena perutnya yang terus berbunyi minta diisi. Mau tidak mau, dia harus turun dan memasak untuknya sendiri. Dia sengaja tidak membangunkan Tyo karena tidak mau mengganggu tidur suaminya itu.
"Yaudah...kamu mau makan apa, biar aku pesanin." ucap Tyo yang sudah mengeluarkan ponsel dari saku celana.
"Tapi Dhea gak mau makan yang begituan."
"Jadi?"
"Dhea lagi pengen makan mangga muda, Hubby."
"Hah?" Tyo melongo tak percaya dengan ucapan istrinya.
"Mangga muda?" tanya pria itu memastikan membuat Dhea mengangguk.
"Malam malam begini kamu mau makan mangga? "
"Iya...emang kenapa. Salah ya?"
"Apa jangan jangan?" Tyo menggantung ucapannya.
"Jangan jangan apa, Hubby?" tanya Dhea pemasaran.
"Kamu hamil?" Tyo histeris dan langsung memeluk tubuh Dhea. "Kamu hamil sayang?" ucapnya senang.
"Benarkah?" tanya Dhea tak percaya. jika memang itu benar, maka dia akan merasa sangat bersyukur.
"Iya," pria itu mengambil tangan Dhea lalu mengecupnya lama, "Kamu ada merasa sesuatu yang berubah gak dari diri kamu?"
"Ada. Belakangan ini Dhea selalu lapar kalau malam hari, dan Dhea merasa kalau Dhea juga semakin cengeng, Hubby."
"Benarkah?"
Dhea mengangguk, "iyah!"
"Arghhh", teriak Dhea karena Tyo mengangkat tubuhnya dan memutar mutar tubuhnya melayang di udara.
"Akhirnya aku bakalan jadi ayah, sayang."
"Iya Hubby...Kita bakalan jadi orangtua!" Dhea ikut senang dengan kebahagian Tyo.
Sungguh, Dhea merasa sangat senang kala melihat wajah Tyo yang berseri seri seperti sekarang. Pria itu terus mengecup tangan, wajah, serta perut Dhea yang masih rata.
"Makasih ya sayang."
"Hubby." lirih Dhea karena melihat mata suaminya yang sudah berkaca kaca. "Dhea janji bakal jaga anak kita baik baik," ucapnya
meyakinkan.
"Janji? "
"Janji!"
Tyo bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada Dhea untuk mengambil mangga muda pesanan istrinya itu.
"Hubby mau ngambil mangga nya dimana?"
__ADS_1
"Rumah yang ada didepan rumah kita, tadi sore aku liat mangga mereka lagi berbuah. Kamu mau kan?"
"Mau banget!"