
Tyo POV
Hari berganti hari, waktu terus berjalan tanpa dipinta. Terkadang waktu datang membawa kebahagiaan dan pergi dengan sebuah luka.
Tak terasa, pernikahanku dengan Dhea sudah menginjak usia 6 minggu, dan selama itulah aku mulai mencintainya. Entah mengapa aku bisa dengan mudah melupakan Tania dan berpindah hati dengan istri kecilku itu.
Aku tak tahu ia juga mencintaiku atau tidak, aku juga masih bingung harus menegaskan keseriusanku dengan hal apa.
Apakah aku harus menyatakan cintaku layaknya seperti anak anak muda jaman sekarang. Atau kah kubiarkan begitu saja rasa ini semakin terpendam dalam.
Urusan itu biarlah waktu yang menjawab, karena aku tahu Dhea masih bingung juga tentang hubungan kami yang sekarang. Ia bingung harus bersikap seperti apa kepada ku. Ia juga bingung harus menjadi keponakan atau istri yang baik terhadapku.
Jujur sebenarnya aku sangat menginginkan seorang anak hadir diantara kami, karena memang itu sudah menjadi keinginanku sebelum aku menikah dulu.
Tapi melihat kondisi Dhea yang masih belia, aku sebenarnya tidak tega. Tapi disisi lain hati ini berkata menginginkannya.
Aku akan memberikan Dhea sedikit lagi waktu agar dia bisa benar benar bisa mencintaiku dan menganggap bahwa aku ini suaminya.
Selama menjadi suaminya, aku memang menafkahinya. Tapi nafkah lahir bukan batin.
Sebenarnya aku ingin meminta hak ku, tapi belum di perawanin saja Dhea sudah takutnya gak ketulungan.
Tapi sampai kapan aku bisa menahan semua itu, kita juga tidak tahu kan kalau bisa khilaf.
Aku bisa tidur di kamar Dhea saja sudah sangat bersyukur, apalagi bersetubuh dengannya itu pasti, Arghhhh sudahlah. Mengingatnya hanya membuatku semakin frustasi.
Oke mari kita tinggalkan itu dulu, sekarang aku ingin bercerita tentang....
Yap, hari ini adalah hari sabtu. Hari dimana setiap orang menunggu untuk libur dan menenangkan saraf mereka yang bersitegang dengan pekerjaan selama beberapa hari sebelumnya.
Termasuk aku yang saat ini juga bersantai di rumah.
Tadi pagi aku sudah mengantar Dhea ke sekolahnya karena ia akan melihat hasil kelulusannya.
Dan sekarang aku akan menjemputnya kembali. Tetapi baru saja aku turun dari tangga, aku dibuat heran dengan sesosok Pria yang kira kira sebaya dengan Dhea sedang duduk bersantai dengan mamiku.
"Siapa dia?" batin ku penasaran.
Aku penasaran siapa orang tersebut. Bagaimana bisa ada orang yang masuk ke rumahku tanpa seizin ku. Sudah seperti lelucon saja.
Dengan langkah pelan tapi pasti, ku dekati mami dan orang tersebut.
__ADS_1
"Dia siapa mi?" tanya ku yang sudah berdiri di samping mami.
"Egh,Tyo." melirik Tyo "Kenalin nak, ini Reyhan dia adik tiri kamu," ucap mami memperkenalkan sesosok pria tersebut.
Aku mengerutkan kening ku pertanda aku bingung dengan ucapan mami.
"Begini Ti, Rey sedang liburan sekolah dan mami memintanya untuk datang ke rumahmu agar bisa berkenalan denganmu nak," ujar mami menerangkan.
"Hye kak," sapa pria itu yang bernama Rayhan.
Aku tak menjawab namun mengangguk pertanda setuju.
Sebenarnya aku ingin marah, tapi demi hormatku kepada mami, mau tidak mau aku menyetujuinya. Toh kamar di rumah ini masi ada yang kosong, jadi dari pada banyak basa basi, lebuh baik aku biarkan saja.
"Berapa hari?" tanyaku.
"Hah?" tanya mami tak mengerti.
"Tidak jadi." ucapku datar kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kau mau kemana Tyo? " tanya mami dengan sedikit berteriak, karena aku sudah melangkah agak jauh.
Aku harus lebih cepat agar Dhea tidak lama menungguku.
¤¤¤
"Yes gua lulus!" Dhea berteriak senang setelah melihat namanya yang terpampang pada kertas mading dan ada di deretan nomor 2.
Itu berarti Dhea sudah lulus dan bahagianya dia bisa mendapat juara 2, tentu itu membuat Dhea senangnya bukan main.
"Wish kok gua rangking 8 ya de. Kan gua udah belajar plus les dengan mati matian." kata Lia sedikit murung.
"Bersyukur Li, dibawah lu kan masih ada 142 lagi Li. Kadi sans aja."
"Iya juga sih," katanya semangat. "Eh lu mau kuliah dimana De?" tanya Lia.
Dhea mengeddikan kedua bahunya. "Ntah, nanti malam gua bakalan tanya sama uncle Tyo."
"Emang lo pengennya kuliah dimana de?" tanya Lia penasaran dengan pilihan sahabatnya itu.
"Pengennya sih Di Inggris, tapi kalau uncle gak bolehin mau gak mau gua kuliah di Universitas jakarta aja deh," ucap Dhea yang terdengar mendengus diakhir kalimatnya.
__ADS_1
"Senyum donk." kata Lia memberi semangat. "Gua ikut lo ya."
"Hah?"
"Gua ikut kalau lu kuliah di Universitas jakarta, sebenarnya gua pengen kuliah diluar negri. Tapi gua gak sanggup jauh dari papi mami, hehhe," cengir Lia sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dasar anak mami.
"Yaudah kalau gitu kita kuliah disitu aja ya," ucap Dhea meyakinkan.
Lia tersenyum lalu mengangguk, "Jurusan managemen bisnis kan?" tanya Lia.
"Heem, biar gua bisa kerja di kantor uncle Tyo"
"Asekk, saya mencium aroma aroma tumbuhnya benih benih cinta nih." ucap Lia memperagakan gerakan seperti Roy Kiyoshi.
Lia mendengus seperti anjing ditubuh Dhea.
Dan ketika gadis itu hendak mendengus di depan dada Dhea, dengan cepat sahabatnya itu menoyor kepalanya.
"Aww, sakit begok!" katanya sambil memegangi kepalanya yang mungkin akan benjol saat itu.
"Lo mau cium ini?" tawar Dhea menaik turunkan alisnya.
"Idih jijay gua, lagian gua juga punya ya. Mentang mentang punya lo agak montok, pamer pamer segala lu," katanya sambil berdecih.
Ya, memang tubuh Dhea lebih seksi dibanding tubuh Lia. Mereka memang sama sama kurus, tapi Dhea sedikit agak lebih montok dibanding sahabatnya itu.
"Idih, ngehina lo ya?!"
"Fakta woy, bukan ngehina."
"Auah gelap, mending kita gabung ama yang laen aja," ajak Dhea agar mereka bergabung dan merayakan hari kelulusan mereka saat ini.
Sebentar lagi perpisahan, padahal baru kemarin rasanya ia mendaftar sebagai siswi disekolah Terfavorit ini. Tapi lihatlah sekarang, bahkan mereka sudah menerima kelulusan dan beberapa hari lagi mereka akan berpisah.
Sedih sih, tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin juga kan kalau ia meminta untuk duduk dikelas 10 lagi.
Jangan lupa kasih aku Like, komen, dan Vote.
itu aja kok, gak perlu yang lain.. ☺
kalau mau Follow jugak gak papa, aku auto polbek loh.
__ADS_1