Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Menerima


__ADS_3

Dhea tidak mengetahui kalau Tyo sedang berada di Rumah sakit, jadi dia bersantai santai. Sambil memainkan ponselnya di dalam mobil, ia mengecek sosial medianya, sampai ia tersadar bahwa mobil yang dinaikinya sudah berhenti.


Cepat sekali. Pikir Dhea.


Ia melihat sekeliling nya dari dalam kaca mobil, bingung. Kenapa dia dibawa ke Rumah sakit, dan kenapa tidak langsung pulang kerumahnya?


"Non, tadi pak Bastian mengatakan kepada saya, non harus meneleponnya ketika sudah sampai di Rumah sakit." ucap sang supir.


Dhea mengangguk. Kemudian menelfon ayahnya.


"Hallo yah, ini Dhea udah nyampe rumah sakit." katanya ketika sambungan telepon sudah tersambung.


"Hallo sayang, kamu tunggu di pintu masuk ya, bunda akan segera menjemputmu!"


"Baik yah," setelahnya sambungan telepon terputus.


Dhea keluar dari dalam mobil ketika melihat bundanya yang sudah menunggunya. Kakinya melangkah berjalan menghampiri sang bunda.


"Bunda sebenarnya ada apa sih?, siapa yang sakit? Ayah sakit? atau bunda? " tanyanya beruntun.


"Tidak sayang. Yang sakit itu suamimu, Tyo."


Dhea tercengang. "Uncle Tyo kenapa bun?" ia mulai panik.


"Tadi Tyo kamu kecelakaan, dan sekarang masih diperiksa oleh dokter." Dhea terdiam. Badannya lemas seketika.


Lisa menjamah tangan Dhea dan mengajaknya berjalan. Dhea tak menolak, hingga mereka sampai didepan pintu kamar inap Tyo.

__ADS_1


Dokter yang memeriksa keadaan Tyo belum keluar sedari tadi, membuat mereka bertiga khawatir dengan kondisi Tyo.


Dhea takut terjadi apa apa dengan pamannya, alias suaminya itu. Ia tidak mau jika harus menjadi janda diusia yang masih muda.


"Bagaimana dengan keadaan Tyo, Dok?" tanya Bastian ketika Dokter sudah keluar dari ruangan Tyo.


Dari name tag Dokter tersebut, mereka dapat mengetahui bahwa nama dokter muda dan tampan tersebut adalah Ziko purnama.


"Ada sedikit luka goresan di dahi sang pasien, dan yang parahnya adalah tangan pasien mengalami luka yang lumayan parah. Tapi itu bisa sembuh jika dirawat dengan baik." kata dokter sambil menunjukan hasil Rongsent tangan Tyo.


"Iya baiklah dok, apa kami sudah diperbolehkan masuk?"


"Silahkan Pak, karena sebentar lagi pasien akan siuman, kalau begitu saya pamit terlebih dahulu." Dokter pun berlalu.


Mereka bertiga memasuki ruangan dimana Tyo dirawat, melihat Tyo sedang berbaring diatas kasur dengan mengenakan pakaian khas rumah sakit dan Dahi serta tangan bagian bawah Tyo diperban.


Ia berlari keranjang Tyo dan langsung memeluk Tyo. Dia sangat sedih dengan kondisi Tyo yang seperti ini. detik berikutnya, tangisnya pun pecah.


"Uncle, hiks, hiks maafin Dhea. Dhea udah salah."


Ibunya menghampiri Dhea, mengelus pundak sang putri. Lisa tahu putrinya itu merasa bersalah karena belum bisa menerima kenyataan bahwa pamannya sudah menjadi suaminya.


"Sayang bunda mau bicara sebentar, bisa kan?" tanya Lisa. Dhea mengangguk dan melepaskan pelukanya dari Tyo. Ia mulai serius memandangi wajah bundanya.


"Bunda cuma mau kasih tau kalau Tyo itu bukan uncle kandung kamu, Ayahmu itu anak angkat dari almarhum kakek mu, sedangkan Tyo lah anak kandung mereka. Jadi kamu tidak memiliki hubungan darah dengan uncle Tyo mu."


"Berarti Dhea bisa jadi istri uncle Tyo?" Lisa mengangguk." Tapi Dhea masih mau kuliah, bagaimana jika uncle Tyo tidak membiarkan Dhea kuliah?" tanya Dhea sedih.

__ADS_1


Tiba-tiba Dhea merasakan seperti ada yang memegang lenganya. Dia berbalik dan melihat Tyo tersenyum ke arahnya. Tangan kiri Tyo yang sedang memegang lengan Dhea.


Ketika melihat tyo tersenyum, justru membuat tangis Dhea pecah.


"Uncle, hiks hiks jangan senyum, hiks," Tyo terkekeh. Tangan kirinya bergerak menghapus air mata Dhea.


"Gak usah nangis, Dhea jelek kalau lagi nangis!" katanya mengejek Dhea. Dhea memukul pelan bahu Tyo. "Aww" ringis Tyo berpura pura sakit.


"Dhea, uncle gak bakal ngelarang Dhea buat kuliah, apapun itu asalkan Dhea senang, uncle akan mengizinkannya," menatap lembut wajah Dhea.


Sontak itu membuat Dhea bahagia dan langsung Memeluk Tyo. "Makasih uncle"


"Aww, pelan-pelan Dhea, tangan kanan uncle sakit."


Dhea tersadar dan langsung melepaskan pelukannya, "Emm, maaf uncle, Dhea terlalu senang."


Perkataanya justru membuat seluruh orang yang ada di ruangan itu tertawa melihat ekspresi Dhea. Lucu sekali, pikir mereka.


"Jadi kamu mau menerima uncle kan?"


"Iya," jawab Dhea malu malu.


Mereka kembali tertawa melihat Dhea yang bersikap malu malu.


Bastian Dan Lisa senang melihat Dhea yang sudah mau menerima Tyo.


salam hangat author.

__ADS_1


Afrida nainggolan.


__ADS_2