Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Satu sendok berdua.


__ADS_3

Hye! Am comeback


apa kabar? semoga sehat semuanya ya.


Thanks buat yang masih setia...


okeh lanjuttt..


maaf aku Up nya agak lama...


Pagi pagi sekali Tyo sudah terbangun dari tidur. Lelaki itu tersenyum melihat Dhea yang tertidur disampingnya dengan posisi memeluk guling. Bukan memeluknya. Kenyataan pahit di pagi hari, membuat Tyo hanya tersenyum miris.


Setelah puas memandangi wajah Gadisnya, Tyo segera bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi.


Merasa ada pergerakan, Dhea membuka matanya dan melihat Tyo berjalan ke arah kamar mandi. Ia masih malas beranjak dari posisi ternyaman nya sekarang.Toh, hari ini akhir pekan, jadi Dhea bisa bersantai santai ria.


Gadis itu terus memandangi pintu kamar mandi yang masih tertutup. 7 menit kemudian pintunya terbuka dan menampilkan Tyo yang sedang menatapnya.


"Loh, kok sudah bangun?" Tanya Tyo.


"Hmm"melirik tangan Tyo, "Tangan uncle masih sakit gak?"


"Enggak lagi dan mungkin sore nanti perban nya sudah boleh dibuka karena lukanya sudah kering."


Dhea ber'oh ria. "Baguslah, Lain kali uncle kalau bawa mobil itu harus hati hati." Katanya memperingati.


"Iya Dhea sayang uncle janji gak bakal ngulangin."Ujar Tyo sambil membentuk V dengan kedua jarinya.


"Bagus, bagus, Kali ini Dhea ampuni."


Dhea beranjak dari tidurnya, "Kalau gitu Dhea mau mandi dulu ya uncle, abis itu kita sarapan yah?"


"Baiklah, uncle tunggu dibawah." Dhea mengangguk dan berjalan keluar dari kamar Tyo.


Tyo hendak melangkah keluar kamar, namun detik itu juga ponselnya berbunyi. Ia segera mengambil benda pipih itu dari atas nakas. Dapat melihat nama Bastian tertera dilayar ponsel tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaikum yah," ucapnya setelah panggilan teleponnya tersambung.


"Wa'allaikumsalam yo, gimana kabar kalian disana?"


"Emm, baik. Maafin Tyo karena tidak bisa mengantar kalian ke bandara semalam." ucap Tyo menyesal.


"Gak papa, asal kamu menjaga Dhea dengan baik baik."


"Itu pasti yah." katanya mantap.


"Hmm yo, sebenarnya saya mau kasih tau barusan ibu kita nelpon saya dan katanya 2 minggu lagi dia bakal berkunjung ke indonesia dan pengen menginap di rumah kamu."


Tyo tampak berpikir sejenak, dan berkata, "Biarkan saja dia datang, aku tidak akan melarangnya. Bagaimana juga dia tetap ibu kandungku."


"Kamu betul yo, jadi tidak masalah kan kalau ibu menginap sebentar di rumahmu kan?"


"Tidak masalah yah."


"Tapi ayah mohon, kamu tidak usah memberi tahu dulu ke ibu kalau kamu dan Dhea sudah menikah. Nanti saya takut ibu marah kepada Dhea karena masalah itu."


Untung saja Bastian pintar mengelola perusahaan peninggalan ayahnya,yang sudah sempat hampir bankrut hingga menjadi seperti sekarang.


Tyo bisa menjadi seperti sekarang itu adalah berkat sang kakak laki lakinya yang mau mengajarinya hingga menjadi Tyo yang sukses dalam segala hal.


Sebenarnya ia muak dengan ibu nya itu, tapi mau tidak mau, suka tidak suka, dia tetap akan menjadi ibu Tyo. Karena dialah yang telah melahirkannya.


"Iya baiklah, demi kebaikan Dhea aku akan melakukan apapun."


Bastian tersenyum di sebrang sana. Dia bangga dengan sikap Tyo yang bertanggung jawab dengan Putri semata wayangnya.


"Terima kasih, kalau begitu ayah tutup telponnya dulu, titipkan salam ku pada Putri kecilku"


"Oke, Assalammualaikum yah,"


"Wa'allaikumsalam yo."

__ADS_1


Telepon pun terputus, ia segera meletakan kembali ponsel miliknya itu ditempat semula dan melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Lelaki itu duduk di kursi meja makan sambil menunggu Dhea turun. Tak lama kemudian, orang yang ditunggu pun akhirnya tiba.


"Maaf telat," kata gadis itu setelah mengambil posisi disebelah Tyo.


Ia mulai menyendok kan nasi kedalam piring, diikuti oleh lauknya.


"Aak," kata Dhea sambil mengarahkan sendok berisi nasi beserta lauk ke mulut Tyo.


"Pintar," Dhea tersenyum setelah Tyo menerima suapannya.


"Kamu?" ujar Tyo karena melihat Dhea tidak ikut makan.


"Nanti setelah siap nyuapin Uncle" katanya hendak memberi suapan kepada Tyo, namun Tyo menolaknya.


"Enggak!" Pria itu kemudian mutar sendok yang ada dihadapannya dan menyuapkannya kepada Dhea.


"Kamu juga harus ikut makan, Dhea sayang. Nanti kalau kamu gak makan, kamu bisa sakit."


"Ih uncle mah lebay, kan Dhea bakal makan setelah Dhea nyuapin uncle."


"Gak boleh, kita makannya harus sama." ucapnya tegas tak mau dibantah.


"Iya iya." ucap Dhea pasrah.


Tyo tersenyum melihat Dhea tak menolak. sebenarnya ia sengaja melakukanya agar ia dan Dhea bisa satu sendok bersama.


**penulis amatir.


Afrida nainggolan.


Follow aku ya, Auto follback kok.


aku janji loh. ☺**

__ADS_1


__ADS_2