
"Assalamualaikum bunda" Dhea mengucap salam bersamaan dengan Lia ketika memasuki rumah orangtuanya. mereka berdua disambut hangat oleh Bunda dan disuruh masuk kedalam rumah.
"Wa'allaikumsalam sayang, masuk saja." teriak bunda sambil menuruni tangga.
"Bunda habis bersih bersih ya?" tanya Dhea karena melihat bundanya tampak agak berdebu. Memang pagi tadi, Bastian dan Lisa memutuskan untuk kembali ke rumah mereka karena tidak mau mengganggu rumah tangga putrinya.
"Iya nak, Egh ada Li. Kesini sayang, peluk bunda dulu donk?" Lisa merentangkan tangan membuat Lia masuk kepelukannya.
"Lia kangen bunda," ucap Lia memeluk erat tubuh Lisa.
"Bunda juga sayang. Ngomong ngomong, maafin bunda ya karena tidak bisa hadir diacara bahagia mu."
"Tidak apa apa bun, yang penting sekarang bunda sudah ada di dekat Lia. Lia sangat senang deh," ucapan Lia membuat Dhea tersenyum. Dhea berpikir bahwa bukan hanya dia yang merindukan Bunda, tetapi juga ada Lia yang sama sepertinya.
Lisa melepaskan pelukannya dan bangkit dari duduknya, "Tunggu disini ya, bunda ada sesuatu buat kamu." ucap Lisa lalu berjalan ke kamarnya.
"Aku juga gak tau," ujar Dhea mengedikkan bahu karena di tatapi oleh Lia.
Lima menit kemudian, bunda datang dengan membawa sebuah kotak kecil berwarna merah di tangannya "Ini dia!" kata Lisa memberikan kotak itu ke tangan Lia.
Lia dengan senang hati menerima dan langsung membukanya. dia tersenyum bahagia setelah melihat isi dari kotak tersebut yang tak lain adalah kalung liontin diamond blue.
"Makasih bunda!" ujar Lia senang karena mendapat hadiah terindah dari ibu keduanya. kalung itu memang sangat mahal, tapi Lia melihat ada ketulusan dan kasih sayang ketika Lisa memberi kepadanya.
"Sama sama sayang."
"Ekhem,, masih ada orang loh disini." Dhea berdehem membuat mereka tersadar dan menoleh ke arahnya.
"Oh iya sayang, bunda hampir lupa kan!" menepuk jidatnya, "Ini, buat kamu juga."
__ADS_1
"Cantik banget bun," katanya takjub. Bunda sengaja membeli 2 kalung tersebut hanya untuk putri putri tersayangnya.
"Cantik donk, sama kayak putri putri bunda ini."
"Ah, bunda bisa aja degh."
"Bunda ada ada aja."
***
Sesuai kesepakatan, kini mereka semua sudah berkumpul disebuah Restoran bintang 5 hanya untuk merayakan kemenangan Tyo.
Tyo mengatakan kepada mereka semua kalau makan malam ini dirayakan karena Tyo menang tender, dan bukan menang karena telah mengambil alih seluruh harta Tania.
"Apakah ini tidak terlalu berlebihan?" Dhea bertanya ketika sudah duduk disebelah Tyo.
"Tidak sayang. Malam ini kita bisa berkumpul dan makan malam bersama, jadi ini tidaklah berlebihan." Tyo berkata sambil menyuapi istrinya makan.
"Kamu mau disuapi juga tidak?" tanya Ray tanpa malu kepada Syifa.
"Eh?"
"Mau disuapi kayak mereka gak?" Ray mengulangi pertanyaannya.
"Tidak boleh!" tegas Ryan, "Kalian belum menikah, dan jangan pernah mencoba bermesra mesraan sebelum sah. Ingatlah Ray, kamu sama sekali belum berhak atas Adikku. Bukan begitu Ray?"
"Iya, iya!" Ray cemberut mendengar penuturan calon kakak iparnya itu.
Dhea berusaha menahan tawa kala melihat Ray memanyunkan bibir, "Kasian amat Kak," ejeknya.
__ADS_1
"Bodo amat!"
"Cih, dasar remaja sekarang memang lebay lebay," kali ini Tyo juga ikut mengejek. Dia senang menggoda adik tirinya itu.
"Ejek aja tros!"
"Hahah!" mereka semua tertawa karena berhasil memancing kemarahan Ray.
"Sudah sudah, kita lanjut makan saja," ucap Bastian menengahi.
"Iya!" balas Rino yang merupakan ayah dari Lia.
Tak tanggung tanggung, Tyo mengundang semua orang yang masuk dalam kategori keluarganya. Tyo senang karena akhirnya mereka bisa berkumpul bersama dan berbagi cerita satu sama lain.
"Jadi kalian kapan nikahnya Ray?" Bastian membuka suara terlebih dahulu setelah menghabiskan makanannya.
"Emm, kayaknya dua minggu lagi deh kak." balas Ray menatap Tyo untuk meminta persetujuan.
"Asal kamu siap, kami juga tidak akan melarang. Yang terpenting kamu harus bertanggung jawab dalam membina rumah tangga, dan tidak bermain main dalam pernikahan." terang Tyo menasehati.
"Pernikahan bukanlah sebuah permainan, yang mana bila kau bosan maka kau akan mencari pengganti yang baru. Jadi kau harus benar benar mempersiapkan diri untuk sepenuhnya membina keluargamu nantinya." ucap Bastian.
"Itu benar... Kamu harus benar benar serius mengenai ikatan pernikahan. Jika kamu sudah menikah, maka kamu harus berdoa kepada Allah agar dibimbing selalu untuk menjadi kepala keluarga yang baik dan selalu berada dijalan kebenaranya," terang Ryan yang ikut menasehati Ray.
"Ray paham Kak, dan Ray berjanji untuk selalu setia kepada Syifa." ucapnya mantap.
"Baguslah kalau begitu, kau harus serius dengan adikku Ray. Jika tidak, maka kau akan berhadapan denganku." ancaman Ryan kali ini tidak main-main.
"Iya kak."
__ADS_1
Setelah perbincangan serius itu, Mereka melanjutkan pembicaraan ke hal hal yang membuat mereka bisa tertawa semua.