Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Kecewa


__ADS_3

Dengan tidak bosan bosannya aku mengingatkan untuk selalu memberi like ya readers,dan itu akan berlanjut sampai seterusnya.


Malam ini Dhea bertekad untuk meminta izin kepada Tyo agar dia bisa melanjutkan pendidikannya. Ia berniat mencoba menanyakan apakah dirinya boleh kuliah diluar negeri. Siapa tahu diperbolehkan.


Tadi siang sesuai janji Dhea, ia menghubungi ayahnya dan Bastian setuju setuju saja tetapi ayahnya mengatakan agar dirinya meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya. Bagaimana pun tanggung jawab atas dirinya sudah berada pada Tyo.


Dengan berani ia mengetuk pintu dan terdengarlah suara Tyo dari dalam.


"Masuk!" ucap Tyo.


Gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Tyo.


Ia bisa melihat kalau saat ini Tyo sedang duduk bersantai di sofa yang memang tersedia di kamar pria itu.


"Sepertinya kau ingin berbicara serius kali ini." tebak Tyo yang ternyata itu benar.


"Iyah Uncle," kata gadis itu kemudian mendudukan dirinya di kursi yang ada dihadapan Tyo.


"Hmm uncle, Dhea ingin kuliah," ucapnya hati-hati, lalu memilih menunduk.


"Terus?"


"Dhea pengen kuliah di Inggris."


"Hah?" kata Tyo terkejut.


"Iya Dhea pengen kuliah di Ingris."


"Kamu serius?"


Dhea mengangguk.


Seketika wajah Tyo berubah menjadi dingin dan sedikit menyeramkan.


"Kamu mau ninggalin saya disini? " tanyanya dengan nada ketus.


Mendengar ucapan Tyo, Dhea mengangkat kepalanya dan menggeleng kuat.


"Jadi?" tanyanya menatap tajam kearah retina Dhea.


Dhea sedikit takut dengan tatapan tajam Tyo sekarang. Sangat bigung harus menjawab apa. Sejujurnya ia sangat ingin berkuliah di Inggris, oleh sebab itu ia berharap Tyo menyetujuinya.

__ADS_1


"Jika kamu tanya saya mengizinkannya atau tidak, maka jawabannya adalah tidak!" ucapnya dengan tegas.


"Hmm baiklah. Kalau begitu Dhea kuliah di Universitas di dalam negri saja," tawarnya.


Tyo tak menjawab tapi ia menggelengkan kepalanya.


"Jadi mau uncle gimana sih?" tanya Dhea yang sudah mulai emosi. Bahkan gadis itu sekarang sudah berdiri dari duduknya.


"Saya ingin kamu menjadi istri yang baik."


"Aku hanya ingin berkuliah, bukan menikah lagi, Cih." ucap Dhea sambil mendecih malas diakhir kalimatnya.


"Apa?" tanya Tyo tak percaya.


"Ya, kuliah saja tidak uncle perbolehkan, bagaimana nanti jika aku menikah lagi?!" tantang Dhea.


Tyo sudah berdiri dari duduknya dan hendak menutup bibir Dhea dengan bibirnya, namun dengan segera ditepis kasar oleh gadis itu.


"Jangan sembarang menyentuhku karena belum tentu kau jodohku!" ujarnya sambil berusaha menahan tangisnya.


Suasana menjadi sangat asing.


"Kenapa Hah?!" tantang Dhea. "Apa uncle pikir, Uncle bisa semena-menanya sama Dhea karena status Uncle yang udah jadi suami Dhea, gitu?!"


Sungguh, dirinya sangat kesal karena Tyo tak mengizinkannya kuliah. Padahal kan awal mereka menikah, Tyo setuju setuju saja untuk hal ini.


"Dhea!" teriak Tyo yang hendak mengangkat tangannya, namun segera digagalkannya. Saat ini ia masih bisa berpikir jernih dan tidak akan menampar gadisnya itu.


"Kenapa? Mau menampar? Sini sini." katanya lagi dengan suara yang tak kalah menantang sambil menunjuk nunjuk pipinya.


"Belum 2 bulan saja uncle sudah se posesiv ini, bagaimana jika bertahun tahun?" ucapnya tersenyum hambar.


"Ada baiknya aku mengetahuinya sekarang supaya aku bisa mencari pengganti yang baru." ujarnya lagi lalu meninggalkan Tyo yang saat ini sudah syok dengan perkataan gadis itu.


Pria itu benar-benar tidak menyangka kalau Dhea akan mengatakan hal itu. Padahal dirinya hanya mau menguji Dhea. Tapi malah berujung seperti ini.


"Dhea!" teriaknya yang hendak mengejar Dhea namun gadis itu malah membanting kuat pintu kamar Tyo.


Pria itu masih terduduk lemas ditempatnya. Hatinya merasa sakit saat Dhea mengatakan akan mencari pengganti yang baru.


Itu berarti Dhea akan meninggalkannya, bukan?

__ADS_1


****


Dhea POV.


Saat ini aku benar benar merasa sedih. Aku sedih karena ucapan ku kepada uncle Tyo, tapi disisi lain aku juga sangat marah terhadap uncle Tyo.


Aku berlari menuju kursi taman belakang dan menangis sejadi jadinya disana.


"Hiks hiks ayah, bunda." ucapku dengan air mata yang masih saja mengalir.


Secara tiba tiba aku merasakan seperti ada seseorang di belakangku. Dan benar saja, ketika ku tolehkan kepalaku kebelakang, kulihat Kak Ray yang saat ini menatapku bingung.


"Kamu kenapa?" tanyanya kemudian duduk di sebelahku.


"Hiks hiks dia, dia jahat." kataku masih sambil terisak.


Kak Ray mendekatkan dirinya dan membuatku masuk kedalam pelukannya. Ia membiarkanku menangis dalam pelukannya sambil mengusap lembut punggungku.


Setelah puas menangis, aku melepaskan pelukanku dan bersandar pada sandaran kursi. Ku tatap kosong kearah bintang bintang yang bersinar terang di atas sana.


"Kamu kenapa?" tanya Kak Ray penasaran.


Aku menoleh sebentar lalu memandang kembali kearah langit yang gelap dihiasi beberapa bintang.


"Aku baru putus karena dia selingkuh." ucapku berbohong.


Tidak mungkinkan kalau aku memberitahu kalau suamiku melarang ku untuk kuliah, dan tidak bisa dibayangkan reaksi apa yang akan diberikan oleh Kak Ray. Dan lagipula ini masalah pribadiku dengan suamiku, aku tidak akan memberitahu kepada orang lain.


"Ooh." dia mengambil tanganku lalu menggenggamnya.


"Cowok kayak gitu gak perlu di pertahanin. Mulai sekarang kamu harus melupakannya." ucapnya menasehati dan hanya ku balas anggukan saja.


Kak ray kemudian menarik ku kembali masuk kedalam pelukannya.


Jujur aku memang sangat butuh pelukan hangat yang mampu menenangkan ku saat ini, tapi lebih berharapnya aku jika itu uncle Tyo.


Namun, lihatlah sekarang, suamiku itu bahkan tidak mengejar ku atau bahkan memperdulikan ku.


***


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang menatap setiap pergerakan mereka dari balik pohon yang ada di taman tersebut. Setelah puas, lelaki itu kembali masuk ke rumah dan membiarkan gadisnya menenangkan diri terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2