
Malam ini adalah malam minggu. UAS baru saja selesai dilaksanakan. Teman-teman Dhea memutuskan untuk mengadakan makan malam bersama untuk mengakhiri UAS dan sesegera mungkin menyambut UN. Dhea pun tidak mau ketinggalan untuk acara tersebut.
Malam ini ia sudah rapi dengan mengenakan Dress berwarna navy, dan tak lupa pula tas selempang di lengan kirinya. Dengan cepat ia keluar dari kamarnya karena Lia sudah menunggu diparkiran apartement.
Ia sudah berada di depan tangga dan hendak turun ke lantai bawah, namun langkahnya terhenti sebentar kala melihat sang paman yang sedang berduaan dengan seorang wanita diruang tamu. Posisi mereka saat ini sangat intim, dengan si wanita berada dipangkuan Tyo sambil mencium mesra bibir Tyo, dan tak lupa pula tangan si wanita tersebut bertengger indah dileher sang paman. Wanita tersebut tak lain adalah Tania. Kekasih dari Tyo, ia baru saja mendarat di Indonesia dan langsung mengunjungi apartement sang kekasih.
"Wah wah, tidak tahu malu sekali mereka melakukan hal tersebut didepan anak kecil."
"Hadeuh....Mata gua uda gak perawan lagi setelah melihat adegan yg seharusnya disensor itu."
"Udah donk lepasin napa, jijik gua liatnya!"
"Iya iya gua tau kalian mau nikah, tapi kan belum waktunya ya,"
Batin Dhea.
Tyo menyadari kehadiran keponakanya pun lantas dengan cepat melepaskan pangutanya dengan sang kekasih. Pria itu berdiri dan merapikan jasnya yang sudah berantakan akibat ulah Tania.
Setelah dirasa aman, barulah Dhea berjalan menghampiri Tyo yang saat ini sedang menatapnya dari atas sampai kebawah.
"Uncle Dhea pamit bentar ya, Dhea sma teman-teman ngadain acara makan malam bareng."
"Perginya sama siapa?"
"Lia udah nunggu diparkiran, Uncle."
"Ohh yaudah kalau gitu, jangan pulang lama lama, kamu hati-hati ya sayang." Katanya sambil mengeluarkan dompet dari saku celananya dan memberikan beberapa lembar uang seratusan ke hadapan Dhea
Dhea bergantian menatap uang yang ada di tangan Tyo dan Wajah pria itu. "Ini uang buat kamu." Katanya yang menyadari kebingungan Dhea.
__ADS_1
"Untuk?" tanya Dhe sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas Selempang nya dan menunjukkannya di depan Tyo.
"Aku kan udah ada ini uncle."
Benda itu adalah Kartu ATM. Ya, memang sebelum Ayah Dhea pergi ke london ia sempat memberikan Dhea kartu ATM yang bisa Dhea gunakan untuk keperluan Dhea sehari hari. Sebastian tidak mau merepotkan Tyo sang Adik, karena ia masih mampu membiayai Dhea.
"Ambil saja, siapa tau nanti kamu membutuhkannya mendadak. Wanti-wanti Dhea, sayang." Tyo Menyerahkan uang itu ke tangan Dhea.
"Yaudah kalau uncle maksa." Dengan terpaksa Dhea mengambilnya dan memasukannya ke dalam tasnya.
"Kalau begitu Dhea pamit dulu ya uncle, aunty," sebelum pergi Dhea terlebih dulu menyalami tangan Tyo dan tak lupa juga tangan Tania.
"Bye uncle, bye Aunty Tania." ucapnya sambil melambaikan tangan ke udara. Tyo dan Tania tersenyum membalas lambaian Dhea. "Bye Dhea." Dhea pun berlalu dan menghilang dibalik pintu.
Kini tinggallah Tyo dan Tania berdua di dalam Apartement tersebut. Karena takut terjadi hal yang diluar akal, Tyo memutuskan untuk dinner berdua dengan Tania di salah satu Restorant langganan mereka.
Saat ini Dhea dan Lia sedang berada di sebuah pasar malam. Tadi, selepas acara makan malam mereka, Dhea dan Lia memutuskan tak langsung pulang. Kedua gadis itu singgah terlebih dahulu disebuah pasar malam. Pasar malam tersebut di bilang cukup ramai, karena memang sekarang malam minggu jadi wajar-wajar saja. Terutama kepada orang yang sudah memiliki pasangan.
"Lo liat mereka itu gak? berduaan sambil pangku-pangkuan segala," ucap Lia menunjuk sepasang kekasih yang tampaknya memojokkan diri dari keramaian pasar malam dan memilih duduk di bangku taman yang agak sepi.
"Oh itu, gada kerjaan banget tu orang pakai mojok mojok segala."
"Hmm, ya begitulah pacaran yang terlalu lebay."
"Eleh paling kalau uda dapat pacar elu juga kayak gitu." Kata Dhea mengejek Lia yang masih jomblo, padahal dirinya sendiri kan masi jomblo juga.
"Sorry ya, gua gak semurah itu every body," kata Lia memeletkan lidah.
"Auah gua mah bodo amat, si amat aja gak peduli, udah ah mending kita beli gula gula kapas." Ucap Dhea sambil menarik tangan Lia menuju ke tempat penjual gula-gula kapas.
__ADS_1
"Pak gula kapas nya 2 ya!". Sang penjual mengangguk dan memberikan 2 buah gula kapas ke tangan Lia, Dhea pun segera membayarnya.
Mereka berdua menikmati gula-gula kapas tersebut sambil berjalan mencari bangku kosong. Kebetulan mereka tak sengaja melihat ada sebuah bangku yang kosong dan tampa ba-bi-bu Lia dan Dhea pun langsung duduk.
"Woy de! Paman lu itu uda ada cewe blom?" Dhea menatap sekilas Lia dan kembali menikmati gula kapasnya.
"Gausah ngarep deh lo, Uncle Tyo tu uda ada cewe terus awal bulan ini mereka akan segera menikah."
"Yah hancur deh harapan gua," seketika badannya lemas mendengar itu.
"Harapan apaan dah?" tanya Dhea menatap Lia dengan tatapan mengintimidasi.
"Cih, tu mata selow bisa gak sih?!"
"Jawab woy." Dhea mulai kesal.
"Harapan untuk memiliki paman Tyo seutuhnya." Lia dengan khayalannya sudah membayangkan Tyo yang sedang memeluknya.
Tuk.
Dhea menyentil keras dahi Lia membuat gadis itu tersadar dan memegangi dahinya yang terasa sakit.
"Sakit woy." Gadis itu Mengerucutkan bibirnya. Sedangkan si pelaku hanya terkekeh seperti tak berdosa melihat Lia yang cemberut kesal karena ulahnya barusan.
"Elo sih, mikirnya terlalu jauh." Ucapnya yang masih sambil tertawa.
Lia berdecih tak suka kepada Dhea yang senang melihatnya menderita. "Abis gimana, Paman Tyo tampan nya tingkat dewa. Siapa si yang gak mau, ya gak readers?!"
"Dasar lu ya, udah ah mending kita naik rollercoaster deh." Dhea tak menggubris ucapan Lia, ia lebih memilih berdiri dari duduknya dan memutuskan untuk menaiki Rollercoaster yang memang sedari tadi menggoda dirinya untuk menaiki wahana tersebut.
__ADS_1