
Dikarenakan hari yang sudah larut, jadilah Lia meminta izin kepada Dhea untuk kembali ke rumahnya. Sebenarnya Lia belum ikhlas untuk pulang karena belum berjumpa Tyo sang oppa korea yang katanya. Tapi ia juga tidak mau membuat ibunya di rumah menjadi khawatir karena terlalu lama bermain.
Dhea mengantarkan Lia sampai ke depan pintu Apartement Tyo. Namun, ketika Lia hendak membuka pintu, dia terbelalak karena pintunya sudah terbuka dari luar. Bukan karena pintunya Lia kaget, melainkan sosok yang saat ini berdiri di hadapannya, orang itu adalah pria yang sedari tadi dinantikanya.
Lia hanya bisa mematung ditempat sambil tersenyum-senyum. Siapa lagi orangnya jika bukan Tyo.
Tyo yang melihat reaksi Lia dibuat heran. Ia mengerutkan keningnya, kemudian menatap keponakanya meminta penjelasan. Dhea yang mengerti pun langsung menyenggol kuat lengan sahabatnya itu, sampai akhirnya Lia tersadar.
"Eh iya, ini kenalin Uncle, teman yang tadi Dhea omongin di telepon." Dhea menatap tajam Lia "Namanya Lia", sambungnya.
Lia hanya menggaruk tengkuk nya yang sebenarnya tidak gatal sambil cengengesan. Saat ini ia merasa gugup atas ketampanan Tyo. "Hye paman aku Lia." ucapnya berusaha tidak terlihat gugup.
"Hye Lia." Balas pria itu sambil tersenyum. "Kalian pada mau kemana?" tanyanya kemudian.
"Enggak kemana mana kok Uncle, Dhea hanya mau mengantar Lia sampai pintu. "
Tyo mengangguk. "Pulang nya sama siapa?" tanyanya lagi.
"Aduh pangeran gua perhatian."
__ADS_1
Batin Lia
"Bawa mobil sendiri paman." balas gadis itu tersenyum hangat. "Yaudah kalau gitu aku pamit ya paman, Dhea!" kata Lia.
Tyo dan Dhea mengangguk. Setelahnya Dhea berdada-dada ria dan Lia pun menghilang di dalam lift.
Dhea menutup pintu dan mengekori Tyo dari belakang. "Uncle uda makan? " tanyanya masih sambil berjalan.
Tyo berhenti dan menoleh kebelakang. Tanpa disengaja Dhea menabrak dada bidang Tyo yang berhenti tiba-tiba. Dhea meringis sambil memegangi jidatnya sedangkan Tyo hanya tersenyum melihat itu.
"Ih uncle kalau mau berhenti bilang dulu donk," ujarnya memanyunkan bibir. "Kan sakit, malah dada Uncle keras lagi".
"Iya Dhea maafin. Uncle uda makan belum?" Dhea kembali mengulang pertanyaan nya yg belum dijawab.
"Belum Dhea sayang, Uncle mandi dulu ya. Setalh itu beru kita makan bersama, emm." Dhea mengangguk, lalu Tyo berjalan ke lantai dua tempat dimana kamarnya berada. Ia saat ini perlu membersihkan diri lebih dulu.
Setelah selesai membersihkan tubuh, Tyo turun untuk makan malam. Ia dapat melihat sang keponakan yang sudah duduk manis menunggunya. lantas, Tyo pun berjalan mendekat, kemudian menarik kursi yang ada di hadapan Dhea.
Mereka berdua mulai menikmati makanan mereka dalam keheningan. Ketika sedang asik makan, Dhea teringat sesuatu. Ia bermaksud menanyakannya kepada Tyo.
__ADS_1
"Uncle!" panggil Dhea masih sambil menikmati makanannya.
"Hmm,"
"Ayah sama Bunda kok gak pernah ngehubungi Dhea lagi ya? sesibuk itu ya mereka?!" Mendengarnya, Tyo lantas menghentikan kegiatan makannya dan menoleh kepada Dhea yang juga sedang menatapnya dengan sorot wajah sedih.
"Gak sibuk sayang, tadi di kantor ayah kamu menghubungi Uncle dan katanya nomor kamu tidak aktif sewaktu dihubungi, jadilah Ayah kamu menanyakannya kepada Uncle," ucapnya jujur, berusaha meyakinkan keponakannya.
Tyo tidak mau melihat wajah keponakannya itu sedih. Tadi memang sewaktu jam istirahat makan siang, Bastian-ayah dari Dhea mengubunginya untuk menanyakan kabar putrinya itu. Ia mengatakan kalau dirinya sudah mencoba beberapa kali mengubungi ke nomor Dhea-sang putri, namun tidak aktif. Tyo mengatakan pada sebastian bahwa Dhea sedang belajar bersama temanya. Dan hal tersebut mampu membuat Sebastian lega.
Dhea hanya manggut-manggut saja.
Setelah selesai, Dhea mencuci piring sisa makan mereka barusan. Sebelumnya, Tyo sudah mengatakan biar saja Bik Nur yang mencucinya besok pagi, karena selesai memasak makan malam Bik Nur sudah kembali kerumahnya. Namun, Dhea bersikeras untuk tetap mencucinya. Dhea mengatakan 'Aku ini perempuan Uncle, jadi ini sudah menjadi tugasku, gausah lebay deh Uncle. udah biasa soal beginian'. Seperti itulah kira-kira ucapanya, mau tidak mau Tyo pun mengiyakan. Dari pada berdebat yang unfaedah, ia lebih memilih untuk mengalah.
"Habis ini kita belajar lagi ya." terdengar suara Tyo yang saat ini sedang duduk di bangku bar yang memang tersedia di dapur. Mata tajam Tyo masih terus memperhatikan gerak gerik sang keponakan yang terlihat sangat lihai ketika mencuci piring.
Dhea hanya mengangguk saja. Lama melihat sang keponakan, ia pun datang menghampiri Dhea yang sudah selesai dengan kegiatannya.
Ia mengecup puncak kepala Dhea dan berkata, "Uncle tunggu di ruang perpustakaan yah sayang." Katanya lalu pergi meninggalkan Dhea.
__ADS_1
Setelah beres dengan pekerjanya Dhea pun membuatkan Coffe late untuk dirinya dan Tyo. Sesudahnya, barulah ia menyusul sang paman dengan membawa nampan berisi minuman yang baru saja ia buat. Dhea merasa sangat senang bila diajari oleh Tyo. Karena menurutnya pengajaran yang diberikan Tyo lebih mudah dan singkat untuk dimengerti.