Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Perfect.


__ADS_3

"Bagaimana dengan penampilan uncle, Dhea?" tanya Tyo yang sudah mengenakan Tuxedo. Nampak sangat cocok di tubuhnya.


Dhea terkagum sesaat melihat Tyo,


"Betul juga ya kata Lia, kok gua baru sadar kalau uncle Tyo ganteng. "


"Hmm, beruntung banget dah punya uncle seganteng ini."


"Tapi lebih beruntung lagi kalau gua jadi istrinya."


"Ihh mikir apasih gua?, gak mungkin banget deh!"


Batin Dhea.


"De, bagus gak?" tanya Tyo lagi.


Dhea tersadar dan kemudiaan tersenyum. "Ganteng banget uncle."


"Bajunya atau uncle nya?" tanya nya lagi. Menatap Dhea sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Baju nya," Ucap Dhea sambil terkekeh. Ia penasaran dengan reaksi Tyo selanjutnya.


Tyo memanyunkan bibirnya. "Jadi uncle gak ganteng nih?"


"Hahaha, ututu uncle ganteng kok, ganteng banget malah." Dhea berlari ke pelukan Tyo. Ia memeluk erat sang paman sambil tersenyum.


Dhea sangat senang memiliki uncle yang sangat tampan, apalagi bisa diajak bercanda. Menurutnya, itu sangat menyenangkan. Membuat dirinya merasa bahagia sekaligus aman setiap berada disisi pria itu. Jika diizinkan, ingin sekali rasanya Dhea memiliki Tyo tanpa adanya batas penghalang antara paman dan keponakan. Huh, menyebalkan!


Tak lama setelahnya, Tania keluar dari ruang ganti dengan mengenakan gaunnya. Ia tampak terlihat sangat cantik menggunakan gaun tersebut lalu berjalan menghampiri Dhea dan Tyo.


"Bagaimana sayang dengan penampilanku?" tanyanya manja pada Tyo.


"Hmmm, perfect!" balas Tyo tersenyum.


"Aunty kau sangat cantik, beruntung sekali uncle ku mendapatkan mu." Dhea tersenyum hangat menatap Tania.


"Tidak Dhea sayang, Aunty lah yang beruntung memiliki uncle mu." ucapnya tersenyum lembut. Meski dalam hati Tania tersenyum licik atas ucapan Dhea barusan.

__ADS_1


Dhea mengeluarkan benda pipih dari dalam tas, kemudian memberikannya kepada pelayan untuk mengabadikan gambar mereka bertiga.


"Baiklah, karna saat ini Uncle dan Aunty terlihat sangat perfect, ada bagusnya kita mengabadikan momen ini."


Dhea mengambil posisi ditengah-tengah antara Tyo dan Tania. Kedua tangannya merangkul sebelah-sebelah lengan Tyo dan Tania. Mereka mulai tersenyum, dan...


Cekrek


Foto pun berhasil diambil, Dhea menghampiri sang pelayan dan berterima kasih karena sudah mau menjadi photografer untuk mereka.


Setelah berfoto, Tania dan Tyo kembali ke ruang ganti dan bergegas membayar pakaian yang mereka coba tadi.


Usai membayar, mereka menemani Dhea untuk memilih baju yang akan ia kenakan nanti dihari pernikahan Tyo dan Tania.


Dhea melihat sebuah kebaya cantik berwarna hijau dipadukan dengan rok batik panjang berwarna coklat tua.


Tanpa banyak tanya, ia sudah langsung mengambil pakaian itu dan segera membayarnya menggunakan uang Tyo. Dhea sebenarnya ingin menolak tapi ya sudahlah, dari pada berdebat yang tak ada gunanya mending terima saja.


***


Ditengah-tengah menikmati makanan yang nikmat, Tania lebih dulu membuka suara.


"Sayang undangan kita sudah jadi, dan aku akan segera mengirimnya kepadamu." ujar Tania menatap Tyo yang duduk di depannya. Mereka memilih menggunakan undangan secara online, agar tidak terlalu repot-repot memberikan satu persatu bagi perorangan.


Tyo menatap sekilas dan mengangguk setuju. Ia kemudian melanjutkan makannya.


"Emm, Aunty, Dhea bolehkan mengundang teman Dhea? tidak banyak kok, hanya satu saja," ucap Dhea.


Dhea berniat mengundang Lia untuk hadir sebab Lia memang memaksanya kemaren untuk mengundangnya pada acara tersebut. Sahabatnya itu tidak mau mengabaikan momen penting yaitu pernikahan Oppa tampannya.


"Tentu saja boleh sayang, banyak juga tidak apa-apa." ucap Tania mengelus lembut kepala Dhea.


"Mphh, sayang besok aku ada pemotretan di Singapura dan harus berangkat malam ini."


Tania berkata dengan hati-hati sambil terus menatap Tyo. Menunggu jawaban yang akan diberikan oleh pia itu.


Tiba-tiba Tyo kehilangan selera makannya, ia meletakan sendok kembali ke piringnya karna tidak berniat lagi untuk menghabiskan makan malamnya setelah mendengar ucapan Tania barusan.

__ADS_1


"Berapa lama?" tanya Tyo yang juga balas menatap Tania dengan tatapan datar.


"Gak lama, paling dua minggu doank. Sebelum dua hari menjelang pernikahan kita, aku bakalan balik kok." ucapnya kemudian mengambil tangan Tyo untuk berusaha menenangkannya.


Tyo menarik kasar tangannya yang dijamah oleh Tania. Saat ini ia merasa sangat kesal, dan tanpa sadar ia sudah mengepalkan tangannya di bawah meja.


"Kamu bilang 2 minggu itu gak lama?" Tanya Tyo berusaha mengatur emosinya.


"Kamu kenapa sih? itu kan demi pekerjaan aku, mau tidak mau kamu harus terima karena aku tidak suka menerima penolakan." balas Tania yang juga ikut emosi.


Dhea hanya sebagai penonton dibuat takut dengan situasi menegangkan seperti ini. Ia tidak mau ambil resiko dan memilih pergi ke toilet sebagai alasan.


"Uncle, Aunty, Dhea ke toilet sebentar ya." ucapnya tanpa menunggu jawaban, ia sudah berlalu menuju toilet.


Tyo tau itu hanya alasan Dhea saja. Dengan sebisa mungkin ia meredam kemarahannya dan menyetujui permintaan Tania. Pria itu tidak mau mengambil resiko dengan membuat sang keponakanya takut ketika melihatnya bertengkar dengan Tania.


Berbeda dengan Dhea. karena saat ini ia sedang menatap pantulan dirinya di depan kaca yang memang tersedia di toilet tersebut.


Gadis itu terus saja mengomel dengan kaca di depannya. Menjadikan kaca itu sebagai pelampiasan ocehannya.


"Gila banget si aunty Tania, 2 minggu katanya bentar."


"Udah mau nikah juga, pakai pergi-pergi segala."


"Kan kasian uncle gua dibuat sedih,"


"Kalau gua jadi uncle, gua juga pasti emosi."


"Untung si uncle gak ngajak baku hantam ya."


"Hadeuh, serem banget gua liat muka mereka berdua."


Celotehnya terus menerus di depan kaca besar yang ada di hadapannya.


Setelah puas mengomel, ia segera keluar dari toilet dan kembali ke kursinya. Ia kemudian melihat Tania dan Tyo masih berdiaman. Jujur, ia benci situasi seperti sekarang ini.


Tidak mau berlama-lama, ia mengajak Tyo dan Tania pulang karena dirinya sudah mulai bosan dan mengantuk. Tania dan Tyo pun menurut saja dan akhirnya mereka pun kembali pulang.

__ADS_1


__ADS_2