
Jangan lupa like dan komen ya readers...
.
.
“Bibik lagi buat apa?“ tanya Dhea sambil membuka kulkas mengambil minuman bersoda lalu meneguknya perlahan-lahan hinga tandas. Si Bibik yang merasa namanya terpanggil menoleh ke arah Dhea yang saat ini sedang berjalan mendekati nya.
“Eh non Dhea toh, ini bibik lagi buat kue coklat. Non baru sampai ya?“ tanyanya yang masih sibuk mencampuri bahan satu ke bahan lainnya. “Iya bik.”
Dhea duduk di meja makan dengan mata yang masih tetap fokus memandang kepada Bik Nur yang sedang asik dengan kegiatanya. Bik nur merasa di perhatikan pun menjadi agak salah tingkah.
“Non udah makan belum sama temennya non?“ tanyanya memastikan keponakan tuanya itu. “Belom si bik,” jawab Dhea sambil cengengesan.
“Yaudah makan dulu aja non, Bibik uda masak barusan”
Lia yang sedari tadi diam, langsung antusias setelah mendengar kata ‘makanan’. Lia dan Dhea memang memiliki kepribadian yang sama. Yaitu hobi makan. “Sriusan ni bik, kita boleh makan?” tanya Lia memastikan. Bik Nur mengangguk dan tersenyum.
Baru saja dia akan melangakah namun lengan nya ditahan oleh seseorang. “Eh, eh mau kemana lu? “ tanya Dhea menatap tajam ke arah Lia.
Lia memutar bola mata jengah. “Ya mau makan la, gak mungkin senam kan?!“ ia berusaha menepis tangan Dhea yg masih stay di lengannya. “Gak boleh.” balas Dhea sambil menggerakan jari telunjuk ke kanan dan ke kiri.
“Lah, kenapa gak boleh? Bibik nya aja enggak sewot tu?“ ucapnya, malas berdebat karna sekarang cacing di perutnya sudah bersorak sorak ria.
__ADS_1
“Ganti baju dulu!" perintah Dhea lalu menarik lengan Lia menuju kamarnya. Lia pasrah dan hanya bisa menurut saja, dari pada berdebat lagi bisa-bisa gak jadi makan dia.
Bik nur sebagai penonton hanya tersenyum saja dengan tingkah kedua remaja itu.
Karena tak membawa baju, Lia memutuskan untuk meminjam baju Dhea untuk ia kenakan. Setelah selesai berpakaian mereka berdua pun turun ke lantai bawah untuk makan siang bersama.
Usai makan siang mereka pun melaksanakan misi mereka, yaitu belajar bersama. Ditemani dengan cemilan kue buatan Bik Nur dan segelas jus mangga tentunya. Bik nur sengaja membuat kue coklat, karena ia tadi pagi di beritahu oleh Tyo kalau keponakanya memang menyukai sesuatu yang berbaur dengan coklat.
Disaat sedang fokus belajar, Dhea mendengar suara Lia memanggilnya.
“Apa?!" tanyanya masih fokus dengan buku nya.
“Ih jutek amat, gua cuma mau tanya kalau oppa gua kapan pulangnya? “. Mendengar itu, Dhea pun dibuat bingung olehnya. Dia meletakan pena dan menatap sang sahabat.
“Pura-pura bego lu, bego beneran baru tau rasa lu?”
“Paan si lo. Emang siapa sih?“
“Paman lo ah, gak asik lo de.”
“Ah elah gua kirain siapa. Mana tau gua dia pulang jam brapa,” Dhea kemudian mengambil kembali pena yang di letakan di atas buku dan melanjutkan belajarnya.
“Emang lo ngarepnya siapa?” tanya Lia yang penasaran dengan lawan bicaranya itu.
__ADS_1
“Gak ada, udah ah belajar lagi aja."
“Masa sih?" tanya Lia lagi karena masih tak percaya dengan Dhea.
“Iy-“ perkataan nya terhenti setelah mendengar telepon yang berbunyi. Ia mengambil Benda pipih tersebut dan melihat layarnya.
Dilayar ponselnya tertera nama si pemanggil. Yang menghubunginya adalah Tyo, pria yang baru saja mereka bicarakan.
Dhea melirik ke arah sahabatnya. "Angkat aja!” kata Lia menginstrupsi. Dhea pun mengangguk dan mengeser tombol hijau. Panggilan pun tersambung. Lia menginstrupsi sang sahabat agar menyalakan pengeras suara. Dhea pun melakukanya.
“Hallo, Dhea sayang kamu uda pulang sekolah?“ tanya orang di sebrang sana.
“Hallo juga uncle, ini Dhea udah pulang dari tadi.”
“Kamu sedang apa?sudah makan, belum? “
“Baru saja Dhea selesai makan dan sekarang Dhea lagi di kamar belajar bareng sama teman Dhea. “ katanya takut-takut kalau Tyo akan murka.
“Cewe atau cowo? “ tanya pria itu khawatir.
“Ih Uncle, temen Dhea itu cewe. Mana mungkin Dhea bawa teman cowok kesini. “
Terdengar helaan nafas dari sebrang sana. “huh, baguslah. Kalau begitu belajar yang baik ya sayang, paman mau tutup panggilannya dulu.”
__ADS_1
“Iya uncle, selamat bekerja.”