
Pagi ini Dhea bangun kesiangan, karena memang semalam ia terus merasa bersalah atas ucapannya kepada Tyo. Itu saja dia baru bisa tertidur usai melaksanakan sholat tahajud dipertengahan malam.
Jadilah sekarang ia bangun dengan mata yang sedikit bengkak dan rambut acak acakan.
Dengan langkah gontai, ia masuk kedalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Usai melaksanakan mandinya, gadis itu turun kelantai bawah dan tidak mendapati siapapun disana. Dikarenakan ini bukan waktunya sarapan, bahkan jam makan siang sebentar lagi.
Ia membuka kulkas lalu meminum air mineral. Dhea memang tidak lapar dan memilih minum saja. Seperti itulah kebiasaan Dhea, ketika ia stres ia tidak sama sekali berniat makan.
"Hye!" ucap seseorang mengangetkan Dhea. Untung Dhea sudah selesai minum, jika tidak pasti sekarang ia sudah tersedak.
"Eh ada Kak Ray." ucapnya gugup. Ia malu karena semalam bersikap sangat cengeng dihadapan Ray.
"Masih sedih, emm?" tanya Ray mengusap lembut puncak kepala Dhea.
"Udah enggak lagi kok."
"Yaudah kalau gitu siap siap dulu sana."
"Hah? "
"Siap siap biar kita jalan."
Dhea mengangguk dan segera berjalan ke kamarnya.
Gadis itu mengganti pakaiannya dengan celana Jeans putih dan kemeja putih dipadukan dengan Cardigan. Tak lupa ia mengenakan tas selempang nya, dan barulah ia turun kembali.
Dilihatnya Ray sudah didepan pintu dan menatap kearahnya.
Dhea sempat kagum dengan penampilan Ray yang mengenakan celana Jeans biru dengan kemeja biru. tidak bisa dipungkiri kalau Ray memang sangat tampan.
"Siap?" tanya Ray.
"Siap donk." ucap Dhea semangat.
__ADS_1
"Eh Kak Ray, Oma sama Uncle Tyo kemana ya? " tanyanya. Ia memang sedari tadi tidak menemui Oma dan Tyo.
"Mami pergi ke rumah temennya terus Kak Tyo lagi ada kerjaan katanya."
"Ini kan hari minggu, kerja apa dihari libur begini?"
"Enggak tau. Mungkin pertemuan antara bos dengan bos, haha." ucap Ray sambil tertawa garing.
"Mungkin kali ya."
"Yaudah yuk, kita cus."
Ray mengambil motor sport berwarna hitam miliknya dan menyuruh Dhea naik di atas jok dibelakang. Dhea sedikit payah untuk naik dan untung ada Ray yang mau meminjamkan bahunya.
Cuaca hari ini sangat mendukung menggunakan motor, karena memang awan agak sedikit mendung. Jadi tidak perlu panas panasan.
"Kita kemana dulu?" tanya Ray yang sudah melajukan motornya membelah jalanan yang cukup rame karena ini merupakan hari libur.
"Terserah."
Ray mengangguk dan fokus menyetir. Ia sangat lihai dalam salip menyalip kendaraan yang ada di depanya.
Tangan pria itu bergerak mengambil jari jemari Dhea dan meletakan diperutnya.
"Biar gak terbang." katanya untuk menjawab kebingungan Dhea.
Dhea tak menolak dan membiarkan tangannya berada di pinggang Ray.
Setalah lama diperjalanan, akhirnya mereka tiba disalah satu Mall terbesar di kota Jakarta.
Ray menggandeng tangan Dhea masuk ke dalam Mall tersebut. Pria itu mengajak Dhea bermain di time zone.
Setelah puas, mereka keluar menuju Restorant yang masih dalam area Mall tersebut.
Jari jemari Dhea masih menyatu dengan jari jemari Ray. Sedari tadi Ray terus menggandeng tangan gadis itu, serasa Dhea kayak mau kabur saja.
Mereka berdua memasuki area Restorant dan memilih duduk yang agak sedikit dipojok. Kata mereka lebih nyaman dan gak terlalu ribut.
__ADS_1
Tak lama setelah memesan makanan, seoarang pelayan datang dengan membawa nampan berisi makanan mereka.
Sebenarnya sih Dhea tak memesan makanan, hanya Ray yang memesan untuk dirinya sendiri. Dhea menolak dengan alasan masih kenyang dan memilih memesan americano latte.
Ketika pelayan sudah pergi, Dhea langsung meneguk minumannya sambil fokus bermain game di ponselnya.
Ia tidak sadar kalau Ray merapikan rambut yang menutupi wajahnya kebelakang telinganya.
Pria itu tersenyum memandangi Dhea dan kembali menikmati makanannya.
"Emm De, ini makanannya enak banget lo, kamu mau coba gak?"
Dhea menoleh kearah Ray lalu menggeleng.
"Gak lapar!" ucapnya kemudian melanjutkan gamenya.
"Coba dulu ih, nanti kamu nyesel. Aakkk," ujar Ray agar Dhea membuka lebar mulutnya.
Akhirnya Dhea pasrah dan memilih mengalah. ia menerima suapan Ray dan mengunyahnya.
"Giamana? "tanya Ray.
"Mayan." ucap Dhea masih sambil mengunyah.
Ray melihat ada saos yang menempel sudut bibir Dhea. pria itu mengambil tissue dan mencondongkan badannya lalu mengelap sudut bibir Dhea.
Dhea agak terkejut dengan apa yang dilakukan Ray, namun akhirnya ia berkata
"Makasih kak."
"Sama sama." ucapnya kemudian melanjutkan makannya.
Dari ujung sana, Tyo sedari tadi memandangi setiap kegiatan mereka. Tanpa sadar ia sudah mengatupkan rahang dan mengepalkan kedua tangannya di atas meja.
Pemandangan macam apa ini. Sebenarnya tadi ia ingin pulang, namun karena ia melihat istrinya dan adik tirinya memasuki restorant dengan bergandengan tangan dan ia mengurungkan niatnya pulang.
Saat ini ia benar benar sudah sangat emosi. ia berpikir apa yang dikatakan Dhea semalam memang ada jadinya dan terbukti dengan yang ia lihat sekarang.
__ADS_1
Dengan emosi yang sudah di ubun ubun, pria itu keluar dari Restorant dan memutuskan untuk pulang.
Ia akan menunggu istrinya itu pulang dan meminta kejelasan dengan apa yang dilihatnya.