Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Mengerjai Dhea


__ADS_3

"Dhea boleh bantu gak bik?" tanya Dhea kepada Bik Nur.


"Hmm, boleh non." jawab Bik Nur masih sambil membalikan ayam yang sedang digoreng.


"Dhea masak sayur asam nya ya bik? "


"Iya non."


Akhirnya gadis itu membantuk Bik Nur untuk menyiapkan makan malam mereka. Ia juga rindu bisa masak bersama lagi dengan bundanya.


Biasanya ketika ia di rumah, ia akan membantu bundanya memasak makan malam, kemudian ayahnya datang mengejutkannya dari belakang sehingga dia terkena siraman air bekas pencucian sayur.


Gadis itu tersenyum mengingat masa masa menyenangkan bersama ayah dan bundanya. Sangat tidak menyangka dengan keadaan sekarang, disaat dirinya sudah memiliki suami, ia harus berangsur-angsur untuk menjadi istri yang baik.


"De jangan melamun, nanti kamu kerasukan salak lagi!" tegur Tyo, menepuk pelan pundak gadisnya, dan seketika Dhea tersadar.


"Valak uncle, bukan salak," ralatnya.


Tyo menuangkan air kedalam gelas lalu meminumnya, "Sama saja," ujarnya lalu meninggalkan dapur menuju meja makan.


"Suka suka deh!"


Bik Nur hanya tersenyum mendengar pembicaraan Dhea dan Tyo yang berfaedah barusan.


Setelah semua masakan matang, Dhea menyajikannya di atas meja makan. Ia bolak balik mengantar satu persatu makanan dan minuman.


Tyo tersenyum sambil terus memandangi setiap gerakan yang Dhea lakukan. Sedangkan gadis itu hanya acuh tak acuh.


"Siap!" katanya bangga lalu melepaskan celemeknya. "Kalau gitu Dhea panggil oma dulu."


"Oma datang sayang," ucap oma dari belakang Dhea.


Dhea berbalik badan dan tersenyum kepada oma "Baru aja Dhea mau manggil oma, dan oma panjang umur, hehhe."


"Kamu ni bisa aja."


Dhea menarik kursi untuk oma dan dirinya, sedangkan Tyo sudah duduk di hadapanya.


"Selamat makan!" seru mereka semua secara bersamaan.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Saat ini Tyo, oma, dan Dhea sedang ada diruang televisi dan menonton drama indonesia yang lagi tren trennya.


Tadi selepas makan malam, mereka bertiga memutuskan untuk menonton terlebih dulu baru memutuskan untuk tidur. Dan sebab itulah mereka berada disini sekarang.


"Ih kok Dhea gemas ya lihat suaminya itu yang tega banget selingkuhi istrinya!" ucapnya geram sambil meremas tangannya sendiri.

__ADS_1


"Iya, kalau oma jadi dia uda bakal oma racunin itu suaminya, biar gak suka main perempuan."


"Awas aja kalau suami Dhea nanti kayak gitu, bakal Dhea gorok lehernya!" ucap Dhea geram sambil melirik Tyo yang berada disampingnya.


Tyo yang sedang minum pun jadi tersedak sedak setelah mendengar penuturan istri kecilnya itu.


"Uhuk, uhuk."


Bahkan air yang barusan masuk ke tenggorokannya, kembali keluar dan menumpahi kaosnya.


"Kok gua jadi ngeri ya liatnya." batin Tyo sambil bergidik ngeri ketika membayangkan Dhea akan menggorok nya.


"Kamu kenapa Tyo?" tanya oma yang melihat Tyo terbatuk tiba tiba.


"Gak kenapa kenapa mi."


"Oh mami kirain ada apa apa," ucap oma kemudian bangkit dari duduknya.


"Oma tidurnya luan aja ya, udah ngantuk ini," kata oma kemudian mendekat kearah Dhea lalu mencium kening cucunya itu.


"Hmm, Good night oma."


"Good night sayang," kata oma kemudian pergi meninggalkan Tyo dan Dhea.


Gadis itu melirik Tyo yang ada disampingnya "Uncle, Dhea keatas dulu ya." katanya hendak bangkit namun tangannya ditahan oleh Tyo.


"Sama sama." ucapnya ketus sambil merangkul pundak Dhea.


Dhea hendak masuk ke kamar namun Tyo masih stay bersamanya, ia bingung kenapa lelaki itu tidak masuk juga ke kamar miliknya yang ada disebelah kamar Dhea.


Gadis itu berhenti di depan pintu kamar dan menunggu Tyo untuk pergi dari sampingnya.


Tyo tak menghiraukan Dhea dan hendak membuka pintu kamar Dhea, namun gadis itu langsung menepis tangan kekar miliknya.


"Uncle mau kemana? "


"Mau tidur," katanya berusaha membuka pintu kamar gadis itu, namun masih ditepis oleh Dhea.


"Ini kamar Dhea bukan kamar uncle?"


"Uncle numpang tidur dikamar kamu."


"Hah?"


Apa Dhea tidak salah dengar? Memang ada apa di kamar Tyo?


"AC kamar uncle mati, jadi gak mungkin kan kalau uncle tidurnya panas panasan," katanya kemudian membuka pintu kamar Dhea dan kali ini gadis itu tak melarangnya.

__ADS_1


Sebenarnya AC mati hanya alasan Tyo untuk bisa tidur dengan istrinya itu. Untuk hari ini dan seterusnya ia ingin tidur satu kamar dengan istrinya dengan alasan biar tidak kesepian.


Absurd sekali alasanya, biasanya juga sendiri dan biasa biasa aja tuh, kata author.


"Nanti kalau oma tau gimana?" Tanya gadis itu sambil mengunci pintu kamar. Ia takut rahasia mereka akan ketahuan, kan bisa berabe nanti.


"Gak bakalan tau kalau kamu gak kasi tau." balasnya santai dan sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk milik Dhea.


"Tapi nanti bisa aja oma tau kan, misalnya dia curiga kalau uncle gak ada dikamar uncle." ucapnya mencari alasan.


Dia sebenarnya agak gugup berada satu kamar dengan seorang pria, ya walaupun sudah menjadi suaminya. Apalagi dengan kejadian tadi, membuatnya jadi sedikit takut. Takut terjadi hal itulagi, atau bahkan lebih dari itu.


"Gak usah banyak alasan, uda sini tidur!" balas Pria itu sambil menepuk sisi kasur disebelahnya.


Dengan sedikit was was, Dhea mendudukkan dirinya di atas kasur.


"Uda tidur aja." kata Tyo dengan mata tertutup. Ia tahu Dhea merasa was was dengan dirrinya, namun ia sama sekali tidak peduli.


"Emm."


Dengan berani ia membaringkan dirinya di samping Tyo. Tetapi gadis itu membuat guling sebagai pembatas ditengah tengah.


Setelah mematikan lampu, Dhea memejamkan matanya menuju alam mimpi.


Tanpa gadis itu sadari, Tyo tersenyum penuh arti dan membuka matanya. Pria itu menyingkirkan guling sebagai pembatas itu.


Kemudian ia mendekatkan dirinya kepada Dhea dan memeluk gadis itu erat.


Seketika Dhea memelototkan matanya terkejut. Ia terkejut karena tiba tiba tangan kekar Tyo sudah melingkar indah diperutnya.


"Uncle!" ucapnya lirih, ia mengira Tyo sudah terlelap namun nyatanya tidak sama sekali.


"Cuma begini, gak lebih," ucap pria itu tersenyum kemenangan.


"Balik badan kamu," lanjutnya lagi.


"Hah?" ucap Dhea tak paham.


"Begini," katanya yang sudah membalikan badan Dhea.


Kini mereka sudah berhadapan, dan tanpa disuruh, Tyo meletakan kepalanya didepan dada Dhea.


Tentu saja itu membuat Dhea khawatir dan sedikit merasa geli.


"Kamu tidur aja,"


"Uncle," lirihnya lagi.

__ADS_1


Tyo tak menjawab, tetapi lelaki itu memeluk erat tubuh gadisnya dengan wajah masih ada didepan dada Dhea.


Sungguh pria itu sekarang senangnya bukan main bisa mengerjai istri kecilnya. Ia senang Dhea tidak menolak atau bahkan memukulnya habis-habisan.


__ADS_2