
Rumput hijau mendominasi bersama pepohonan rindang yang menghilangkan kesan keramat pada tempat itu, terlihat juga beberapa orang sedang berziarah di makam keluarga mereka masing masing.
Tyo menuntun langkah ketiga orang yang ada di belakangnya. di situ ada Dhea, Ibu Fera dan Pak Bima-ayah Almarhum Diana.
Mereka bersama sama berjalan mendekati satu gundukan tanah yang di papan nisannya bertuliskan nama Diana. awalnya memang nama Dhea namun, setelah kepulangan istrinya, Tyo mengganti nisan tersebut dengan nama orang sebenarnya.
"Assalamualaikum Nak," sapa Pak Bima sambil menyentuh lembut papan nisan tersebut. Berusaha tegar dan terlihat kuat didepan istri dan anak angkatnya, padahal jauh dilubuk hati yang dalam ingin rasanya dia berteriak kencang untuk menghilangkan rasa sesak yang begitu menohok di dalam hati.
"Abi sama Umi rindu kamu, bahagia selalu disana ya. Abi tidak akan henti hentinya mendoakan mu sayang."
Tyo menjongkokkan tubuhnya di samping Pak Bima dan menepuk bahu pria itu untuk menguatkannya. dia tahu itu rasanya sangat sulit karna memang Tyo pernah berada diposisi mereka berdua.
"Abi sudah mengikhlaskanmu untuk kembali kepangkuan Allah, dia lebih menyayangi mu dari pada kami. Abi sekarang juga sudah memiliki putri baru, wajahnya sangat mirip dengan mu. Meninggalkan sedikit kenangan dan digantikan dengan kebahagiaan. Abi begitu bangga karna tanpa diduga duga Abi sudah memiliki Cucu."
"Cucu Abi sangat tampan,sama seperti Kakek nya," ucap Pak Bima panjang lebar sambil mencium lama puncak kepala Deo yang berada di pangkuannya.
Kali ini giliran Ibu Fera yang nenyalurkan rasa rindu dengan menyirami bunga diatas gundukan tanah tersebut dan memanjatkan doa kepada sang pencipta agar putrinya diberi tempat yang layak disana.
Beliau mengecup sangat lama papan nisan putih itu dan mulai menangis dalam diam. Membiarkan semua terlepas untuk membangun kehidupan yang baru tanpa gadis ceria itu di sampingnya.
Setelah puas, Ibu Fera mengusap air matanya dan memeluk Dhea yang ada di sebelahnya.
"Kamu jangan pernah lupain Umi ya nak, Umi gak akan sanggup kalau kamu pergi begitu saja dan meninggalkan kenangan manis kita selama ini. Meski hanya sebentar, Umi akan terus mengingatnya. Kamu yang terbaik untuk Umi." ucapan yang penuh permohonan begitu menyentuh hati Dhea.
Aku berjanji untuk tidak melupakan Umi,Dhea juga berjanji untuk tetap menjadi putri umi yang baik. Dhea janji itu mi.
"Ya Umi, Dhea gak akan pernah lupain Umi untuk selama lamanya. Dhea akan sering sering berkunjung ke rumah Umi dan Abi untuk melepas rindu."
"Makasih ya nak." tangan Pak Bima bergerak mengusap lembut kepala Dhea yang dibalut hijab.
"Iya bi. Dhea benar benar menyayangi kalian!"
__ADS_1
"Umi juga sayang."
Setelah memanjatkan Doa sekali lagi, mereka akhirnya memutuskan pergi meningalkan tempat pemakaman yang mulai sepi tersebut.
¤¤¤¤¤
Beberapa tahun setelahnya.
Keadaan di ruangan bercat biru putih tersebut tampak begitu ramai meski tak seramai pesta pernikahan anak bangsawan pada umumnya.
Hanya ada keluarga besar kedua orang yang menjadi besanan tersebut, menyambut kebahagiaan yang baru atas kelahiran bayi perempuan kecil ditengah tengah keluarga mereka.
Lia masih dipakaikan selang infus dikarenakan kondisi tubuhnya yang begitu lemah seusai melahirkan bayi perempuan yang begitu cantik.
'LARISA MAUDYA FREDERIC'
Nama bayi perempuan mungil yang saat ini berada digendongan Ryan. Setelah mengadzan kan putrinya, Ryan menidurkan bayi itu di samping tubuh istrinya yang masih lemah.
"Makasih ya sayang." ucap Ryan mengecup lama kening Lia dihadapan semua orang yang ada diruangan itu.
"Dia memang romantis, hanya saja terlalu malu untuk mengakuinya," balas Tyo.
"Kayak Hubby, hehehe." Dhea terkekeh karna berhasil membalikkan omongan Tyo.
"Tidak! sejak tercipta didunia ini, Hubby sudah romantis apalagi jika ke kamu," kata Tyo tersenyum menggoda ke arah Dhea.
Baru saja ingin bermesra mesraan, Deo malah menepuk pelan lengan Tyo agar diam sejenak. Bocah kecil berusia 8 tahun itu begitu penasaran dengan bayi mungil yang sedang menangis tersebut.
Tanpa ragu, Deo mendekati Bayi Larisa dan mencium pipi gembul merah tersebut. Deo begitu gemas melihatnya.
Hal tersebut berhasil mengundang tawa semua orang yang ada diruangan tersebut.
__ADS_1
"Hahaha"
Tawa Orangtua Lia begitu kerasa diikuti Lisa dan Bastian. Tak lupa Mami dan Ray beserta keluarga kecilnya juga ikut ambil alih dalam kebahagiaan tersebut. Bahkan Ibu Fera dan Pak Bima saja ada disitu.
"Astaga, kenapa Deo begitu lucu." Mami yang tak kuasa menahan sakit perutnya karna lelah tertawa.
"Cucu aku logh," ucap Sebastian dengan bangga.
"Ekhem....jangan lupakan kalau itu cucu ku juga." Pak Bima ikut menimbrung diantara mereka.
"Hahaha, iya iya. Aku tidak akan lupa masbro!" Mami dengan senang hati menepuk nepuk bahu Pak Bima tanda persahabatan.
"Deo sayang, sini!" Lia melambai lambaikan tangan menyuruh Deo semakin mendekat kepadanya.
Alhasil Ryan mengangkat tubuh Deo dan mendudukannya di samping bayi Larisa yang begitu menggemaskan.
"Deo pengen dia jadi teman Deo selama lamanya...teman hidup Deo juga," ucap Deo yang begitu semangat sambil menatap Bayi Larisa yang sedang tertidur seusai menangis.
"Tentu saja sayang, kau dan dia akan menjadi teman untuk selama lamanya." ucap Lia mengacak gemas rambut hitam lurus Deo yang tidak terlalu panjang.
SELESAI!!!
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
AKHIRNYA TAMAT JUGA:(