Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Curhat


__ADS_3

Tyo dan Dhea sedang menikmati makan malam mereka. Hening. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring lah yang terdengar.


Entah mengapa, semenjak kejadian di Restoran tadi sore, Tyo mendadak menjadi diam. Hal itu membuat Dhea menjadi sedih karena perubahan sikap pamannya.


Seperti sekarang ini.


Setelah menghabiskan makanannya, Tyo langsung kembali ke kamarnya. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Dhea, tentu itu membuat Dhea semakin resah.


Sehabis mencuci piring bekas makan malam mereka, Dhea berniat menghampiri Tyo ke kamar pria itu dan menenangkannya. Dhea tak suka dengan situasi seperti ini.


Dhea berdiri di depan pintu kamar Tyo dengan memandangi pintu itu tanpa berniat masuk.


Ia masih ragu menghampiri Tyo, namun ia segera mengenyampingkan itu. Ia mengetuk pintu dua kali namun tidak ada tanggapan. Karena tak ada sahutan, akhirnya Dhea memutuskan untuk masuk saja.


Ceklek,


Dhea melihat ke sekeliling kamar, lalu mendapati Tyo yang sedang duduk bersandar di atas kasur king size miliknya sambil memangku laptop.


Kamar yang sangat rapi pikir Dhea. Semua barang tersusun rapi.


Dhea berjalan menghampiri Tyo yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya. Tyo tampak sangat serius, sampai tidak mengetahui bahwa Dhea sudah duduk di pinggir ranjang sambil menatapnya.


"Ehemm," Dhea berdehem. Tyo tersadar dan kaget melihat Dhea yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.


"Dhea kok bisa ada disini?"


"Uncle si yang terlalu sibuk, sampai tidak menyadari kalau Dhea berada disini."


Tyo tersenyum, "Uncle banyak kerjaan sayang." ucapnya lembut sambil menaruh laptop diatas nakas. Mengalihkan fokus kepada Dhea.

__ADS_1


"Uncle," Meski ragu Dhea tetap berbicara.


"Emmm."


"Dhea gak suka liat uncle yang diam-diaman kayak gini, Kalau misalnya uncle punya masalah. Apapun itu, Uncle coba cerita aja sama Dhea."


Tyo terdiam sesaat, seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian ia tersenyum kecut. Dhea tahu kalau pamannya ini sedang stres.


"Kamu masih kecil sayang, jadi kamu gak perlu tau." Dhea mengernyitkan dahi.


"Kecil? Uncle bilang Dhea kecil? Oh ayolah uncle, Dhea itu sudah 18 tahun dan Dhea paham permasalahan uncle." ia berbicara dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Mungkin tingkah ku yang sedikit agak ke kanak-kanakan, tapi ayolah! aku itu uda 18 tahun. Itu berarti aku sudah dewasa."


"Gak terima akutuh!"


"Apa susahnya curhat, toh aku keponakannya jadi tidak masalah kan? Kalau masalah mendengarkan aku itu unggulnya, jadi santai aja pamanku tersayang."


"Uncle gak kenapa-napa Dhea, mungkin faktor pekerjaan kali ya." katanya berusaha menghindar.


Gak kenapa-napa berarti ada apa-apa.


"Uncle pliss deh ya, Dhea sangat paham situasi uncle yang sekarang ini, Dhea tahu kalau uncle itu diam-diaman gini pasti karena kejadian di Restoran siang tadi kan?" Dhea mulai ngegas. Memfokuskan kedua manik indahnya untuk memandangi wajah lekat Tyo. Kedua bola mata saling bertubrukan dalam beberapa detik.


"Hmm, mungkin." pria itu menundukkan kepalannya sedih.


"Dhea paham uncle, sebenarnya kalau Dhea jadi uncle Dhea pasti melakukan hal yang sama. Mungkin ini sebagian dari ujian cinta kalian uncle, jadi uncle bersabar ya." Dhea mengelus pelan lengan Tyo bermaksud menenangkannya.


"Tapi kenapa hanya uncle yang mendapatkan ujian itu Dhea?"

__ADS_1


"Itu ujian atas kesetiaan uncle terhadap sikap Aunty Tania, Dhea yakin setelah kalian menikah dan memiliki anak nanti, Aunty Tania pasti bakal berhenti dari pekerjaannya itu." jawab Dhea tenang.


"Selama ini uncle udah capek memberi tau Tania untuk berhenti dari pekerjaannya yang sekarang, tapi dia selalu memiliki alasan yang sama. Kekasih Uncle itu bahkan mengatakan kalau uncle tidak menyetujuinya maka kami akan putus."


Tyo memang sudah berkali kali menyuruh Tania berhenti dari pekerjaannya sebagai model, namun karena Tania selau menolak ia tidak bisa berbuat apa apa. Itu semua karena Tyo sudah benar benar mencintai Tania.


Awal kisah mereka bermula dari Tyo yang mengenal Tania disaat wanita itu menjadi bintang model disalah satu peluncuran produk baru perusahaan mereka. Tania lah yang awalnya mendekati Tyo. Karena terbiasa berdekatan Tyo pun juga mulai menyukai Tania. Dan akhirnya memutuskan untuk resmi berpacaran ketika pesta ulang tahun perusahaan Tyo.


Tyo tersenyum mengingat perjalan kisah cinta mereka. Mereka berdua memang jarang bertemu, tapi selalu saja menyempatkan untuk berkomunikasi meski hanya sesekali.


Miris bukan? tentu saja. Karena kesetiaan dan kesabaran Tyo mereka masih bisa bertahan sampai sekarang ini.


"Mungkin yang Dhea katakan itu benar, ia akan berubah ketika kami sudah menikah dan memiliki anak nanti." katanya dengan senyum tulus.


"Gitu donk Uncle, senyum uncle itu manis banget tau gak? Uncle harus tetap optimis oke?" ucap Dhea menaikan satu tangannya, memberikan semangat.


Tyo yang melihat itu dibuat tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya. Dhea lantas dengan cepat langsung masuk ke dalam pelukan Tyo.


"Kamu tuh bisa aja." Tyo gemas lalu mencium sayang puncak kepala Dhea. "Uncle senang bisa ada kamu." ucapnya begitu tulus.


Dhea terkekeh mendengar perkataan Tyo. "Pokonya mulai sekarang uncle harus cerita kalau ada masalah, Yah?!" perintahnya tegas.


Tyo hanya mengangguk dan memejamkan matanya berusaha mencari kenyamanan dalam pelukan Dhea. Dhea juga semakin mengeratkan pelukannya.


"Dan satu lagi, Dhea gak mau dibilang anak kecil ya Uncle. Titik." ia menengadah menatap manik mata coklat Tyo.


Tyo mengecup sekilas kening Dhea. "Kamu itu keponakan kecilnya Uncle, Dhea."


Dhea memasang wajah jutek. Sangat kesal dengan jawaban Sang pamannya.

__ADS_1


"Iyain aja biar cepet." balasnya kembali memeluk erat sang paman. Sebenarnya ia sangat merindukan pelukan sang ayah, namun karena ayahnya jauh, ada baiknya yang dekat saja.


Mereka berdua pun tertawa bersama. Indah sekali melihat pemandangan tersebut. Keponakan yang sangat akrab dengan pamannya.


__ADS_2