Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Cinta?


__ADS_3

Am comeback readers...


Jangan lupa like, komen, vote juga ya..


Perlahan lahan Dhea membuka mata karena merasakan ada sebuah tangan yang menggenggam erat jari jemarinya. Ia juga mendengar ada suara suara yang memanggil namanya.


"Dhea sayang." ucap Tyo yang berada disampingnya. Ia menggenggam erat jemari Dhea sebab takut terjadi apa apa dengan istrinya itu.


"Uncle," ujar Dhea lirih sambil berusaha mendudukan diri di sandaran ranjang.


"Jangan banyak gerak, kamu tidur saja," perintah Tyo dan menidurkan kembali tubuh Dhea.


Gadis itu pasrah dan kembali berbaring. Ia menatap satu persatu orang orang yang ada di kamarnya.


Disitu ada oma, Ray, dan juga seorang dokter pria yang pernah datang memeriksa Tyo sesudah kecelakaan dulu.


Semua orang yang ada disana menatap kearahnya, lantas membuat Dhea bingung apa yang sebenarnya terjadi ketika dirinya tak sadarkan diri tadi.


"Kamu pingsan karena kondisi tubuhmu yang melemah." ucap sang dokter menjawab kebingungan Dhea.


"Tubuhmu melemah faktor terkena hujan ditambah lagi asupan gizi yang kurang di tubuhmu," terang Sang Dokter dan dibalas anggukan oleh Dhea.


"Kamu belum makan sama sekali?" tanya Tyo.


Dhea kembali mengangguk dan tertunduk. Ia takut melihat wajah pria itu ketika sedang marah. Sama seperti tadi.


Tyo membuang nafas kasar karena jawaban istrinya itu.


"Sayang, sekali lagi jangan diulangi ya?" tutur oma lalu mendudukkan diri di samping Dhea. Mengelus lembut rambut gadis itu dan mencium keningnya.


"Iya oma."


"Yasudah kalau begitu, oma buatkan bubur dulu untuk kamu ya." katanya dan melangkah pergi meninggalkan kamar Dhea.


"Baiklah, kalau begitu ini resep obatnya dan saya permisi pamit." ucap sang Dokter memberikan secarik kertas kepada Tyo dan hendak keluar kamar Dhea.


"Mari dok saya antar kan." ajak Ray yang hendak mengantar Dokter namun dihentikan oleh Tyo.


"Ray, tolong kau belikan obat ini, SECEPATNYA!" perintah Tyo dan menyerahkan kertas tersebut kepada Ray.


Ray menerimanya dan melangkah kembali meninggalkan kamar Dhea bersama sang dokter.


Tinggal lah sepasang suami istri di ruangan tersebut.


Dhea yang gugup hanya bisa memainkan jari jarinya dan menundukkan wajah, bingung harus melakukan apa.


Tyo tersenyum lalu mendekatkan diri kepada Dhea lalu memeluk erat gadisnya itu.


Sedangkan Dhea? ia hanya diam dan tak memberontak. Ia tersenyum senang karena Tyo sepertinya sudah tidak marah lagi kepada dirinya.


"Siapa yang menyuruhmu tidak makan?" tanya Tyo kesal.


Dhea mendongak dan menatap bola mata indah pria di depannya. "Dhea gak selera."


"Karena?"

__ADS_1


"Entah."


"Dhea," panggi Tyo. Pria itu masih terus memandang intens wajah gadisnya.


"Hmm."


"Uncle minta maaf ya." ucapnya tulus dan penuh penyesalan. Dirinya menyesal karena telah berbuat kasar dan mengakibatkan Dhea pingsan.


"Untuk?"


"Soal semalam dan yang tadi"


"Iya Dhea mau maafin, asal uncle turutin kemauan Dhea."


"Apa? "


"Biarkan Dhea kuliah ya," ucap gadis itu sambil tersenyum yang menampakkan gigi putih bersihnya.


"Iya, uncle bolehin."


Seketika Dhea memeluk erat tubuh Pria tersebut. "Makasih uncle!"


"Sama sama."


"Emm uncle, Dhea boleh tanya sesuatu gak? "


"Kenapa harus minta izin? " ucapnya sambil terus menghujani kening Dhea dengan kecupan kecupan singkat.


"Dhea mau tanya tadi kayaknya uncle marah banget ya? uncle marah sama Dhea? karena apa? " cercanya sangking penasaran.


Tyo terdiam dan memikirkan sesuatu.


"Hah?!"


"Saya cemburu!" ujarnya tanpa malu malu.


"Eh." rasanya sekarang Dhea ingin tertawa terbahak bahak dengan ucapan Tyo barusan. Namun ditahannya karena takut Tyo marah lagi.


"Kok bisa?" tanya Dhea penasaran.


"Apanya?" Tanya Tyo balik.


"Cemburunya,"


"Kamu istri saya, mana mungkin saya rela lihat kamu jalan sama pria lain."


"Kak Ray kan keluarga kita, bukan pria asing."


"Dia masih asing bagi saya, dan saya tak terima itu."


Seketika tawa Dhea pecah karena sudah tidak bisa ditahan lagi.


"Hahaha, Uncle Tyo bisa cemburu juga ternyata."


"Saya mencintaimu!" ucapnya cepat. Ia menunggu jawaban yang akan diberikan Dhea.

__ADS_1


Tawa Dhea terhenti dan mengarahkan pandanganya untuk menatap intens manik mata pria yang ada di hadapanya.


"Cinta?"


"Ia, saya mencintai kamu sayang," pria itu berucap santai, lalu mengecup sekilas bibir Dhea. Berbeda dengan Tyo, justru Dhea malah memberi reaksi sebaliknya.


Dhea masih terdiam dengan ucapan Tyo barusan. Ia bingung sendiri.


"Apa mungkin itu benar, tapi kok cepat banget ya?" batin Dhea tak percaya.


"Kamu?" tanya Tyo membuyarkan lamunan Dhea.


Dhea belum menjawab, namun tiba tiba mereka berdua mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat kearah kamar Dhea sekarang.


Tyo melepaskan pelukannya dan kembali duduk dipinggir ranjang.


Pintu terbuka dengan menampilkan sosok oma yang membawa nampan berisi semangkuk bubur beserta air putih.


"Kamu makan dulu ya." ucap oma dibalas anggukan oleh Dhea.


Oma mulai menyuapi Dhea dengan hati hati. melihat gadisnya yang tak menolak, Tyo tersenyum dan beranjak dari duduknya.


"Aku ke kamar dulu," ucap Tyo.


"Iya nak, kamu jangan lupa makan malam dulu."


Tyo mengangguk dan berlalu begitu saja.


"Emang uncle belum makan yah oma?" tanya Dhea masih sambil mengunyah.


"Iya, dia terlalu mengkhawatirkan mu sampai sampai untuk makan saja ia lupa."


"Lah emang sekarang uda jam berapa?"


"Jam sembilan."


"Hah!"


"Kenapa? "


"Berarti Dhea pingsan 5 jam donk?" ucapnya tak percaya dan dibalas anggukan oleh oma.


"Oma ada kasih tau ayah sama bunda? "


"Baru mau kasih tau" kata oma jujur. Ia memang berniat memberi tahu bastian dan Lisa kalau putrinya sedang sakit.


"Dhea mohon jangan kasih tau ayah sama bunda yah" ucap Dhea sambil mengedip ngedip kan mata.


"Kenapa begitu?" tanya oma lalu memasukan suapan terakhir pada Dhea.


Dhea menerimanya, "Dhea takut mereka khawatir,"


"Iya juga sih."


"Please ya oma!"

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu enggak, tapi kamu harus minum obat dulu yah?" ucap oma lalu memberikan beberapa pil obat yang baru dibeli Ray.


"Baiklah." Gadis itu kembali riang.


__ADS_2