
"Hye guys, am come back. baiklah disini saya Lia cecimut menginfokan kalau saya sedang berada di suatu tempat yang ada manusia di dalamnya." ucap Lia yang sedang melakukan siaran langsung melalui instagram.
Saat ini mereka bertiga sedang berada dipinggir kolam renang rumah Tyo.
Ray sedang asik bermain mobile lagend di ponselnya, sedangkan Dhea sedari tadi hanya mens rolling akun instagramnya yang sudah banyak pemberitahuan tentang para fans fansnya.
Banyak para fans Dhea yang menanyakan keberadaanya karena sudah jarang memposting di ig.
"De liat de, penonton gua uda 30.000.padahal baru lo de gua mulainya," ucap Lia takjub.
"Eh btw, Kak Ray udah promosiin aku yah semalam?" tanya Lia yang masih memulai siaran langsungnya.
"Iya li," melirik Lia, "Aduh, mati kan." Ray geram karena game yang sedang dimainkannya itu kalah.
"Pantesan." ucap Lia paham.
"Apanya?"
"Pantesan banyak yang kepoin aku, kan kakak uda Pm in aku." katanya menunjukan layar hpnya.
"Hye all, aku kenalin ke kalian ya Kakak ganteng aku!" mengarahkan kamera ke wajah Ray. "Namanya Kak Ray, dia itu cogan aku, jadi please jangan ditikung, hehe, nggak deng cuma canda."
"Hye guys kenalin aku Ray," sapa Ray kearah kamera.
Kemudian Lia mengarahkan kamera kearah Dhea dan menyenggol lengan Dhea agar menunjukan senyumnya.
"Kalau ini Dhea guys, pasti kalian uda pada tau la ya?" ucapnya memutar bola mata jengah.
"Emang Dhea selebgram juga?" tanya Ray.
"Aish jadi kakak selama ini gak tau?" tanyanya balik.
"Enggak tuh."
"Si Dhea tu primadona sekolah kami dulu kak, jadi banyak banget para fansnya apalagi hatersnya, Hahah."
"Hye cecimut tv." sapa Dhea lalu meletakan hpnya di atas meja kecil di depanya. "Biasa aja sih li, gak usah norak deh."
"Norak apaan?"
"Lo bilang gua primadona. Primadona apanya? "
"Ni orang gobloknya gak ketulungan ya,gemes pengen baku hantam," ucap Lia kesal sambil meletakan Ponselnya nya di atas meja lalu mengarahkan kameranya pada mereka bertiga.
"Sepertinya para fans Kak Ray mulai memanas deh," kata Lia ketika membaca komen komen para penonton.
"Biarin aja," kata Ray, menggerakkan tangan untuk mengambil gelas yang berisi jus, lalu meminumnya.
"Mau donk kak, kan punya aku uda abis," pinta Lia dengan wajah memelas, saat ini dirinya merasa haus dan jusnya juga sudah habis duluan.
"Nih," ucap Ray mengarahkan gelas ke bibir Lia.
"Makasih."
"Sama-sama."
"Eh eh, kok mesra mesraan nya didepan kamera ya?" Dhea memperingati mereka kalau mereka sedang ditonton oleh ribuan orang.
"Biarin aja de, biar makin panas, hehe." kata Lia tersenyum licik.
"Itu betul," bela Ray mengacak gemas rambut Lia.
"Ish Kak, rambut aku berantakan kan."
"Hahah, biarin."
Dhea hanya tersenyum bahagia melihat keakraban Ray dan Lia.
Ting
Bunyi pesan masuk dari ponsel Dhea dan dengan segera Dhea mengecek dan melihat siapa yang telah mengirim pesannya.
__ADS_1
Uncle Tyo
Antarkan saya makan siang dan kita makan siang bersama di kantor saya.
Dhea tersenyum membaca pesan itu dan hendak bangkit dari duduknya.
"Eheh, mau kemana lo jablay?" tanya Lia.
"Uncle nyuruh gua buat anterin makan siangnya, jadi gua mau siap siap donk."
"Gua ditinggal nih?" tanya Lia.
"Enggak kok, kan ada Kak Ray."
"Yaudah deh, sana gih."
"Kok kamu yang disuruh de, kan banyak bawahan kak Tyo yang masih bisa disuruh?" tanya Ray heran.
"Emm," Dhea berusaha mencari alasan "Dhea kemaren yang minta mau datang kekantor Uncle Tyo kak, jadi sekaranglah waktunya." ucapnya berbohong.
"Ohh." Mengangguk paham.
"Bye!" ucap Dhea berdada dada ria, "Kak Ray, Dhea titip si cecimut yah."
"Siap!"
"Oke deh gua pergi dulu."
****
Saat ini Dhea berada didepan gedyng kantor Tyo. Ini bukan kali pertama ia masuk ke gedung ini, namun ia masih takut dengan tatapan para wanita penyuka suaminya.
Dengan sedikit keberanian, ia melangkahkan kaki memasuki gedung tersebut.
Gadis itu terus berjalan dengan menunduk hingga sampai didepan Lift VVIP. Sengaja menggunakan lift ini supaya terhindar dari para hatersnya.
Setelah sampai didepan ruangan Tyo, gadis itu tidak mengetuk dan langsung saja masuk kedalam. Seperti biasa, ia melihat Tyo masih fokus dengan layar laptop di depanya.
Tyo tak menjawab dan malah dengan santainya berjalan ke arah Dhea sambil melepaskan jas yang di kenakanya.
"Sini." ucap pria itu menyuruh Dhea untuk duduk di pangkuanya.
"Hah?" ucap Dhea menghentikan kegiatannya membuka rantang nasi yang tadi dibawanya.
"Sini duduk atau saya yang menduduki kamu?!"
Dhea pasrah dan akhirnya mendudukkan diri dipangkuan Tyo. Kini mata mereka saling menatap satu sama lain dan dengan bodohnya Dhea malah mengalungkan tangannya dileher Tyo.
"Uncle capek ya?"
"Sedikit."
"Yaudah Dhea turun aja ya, soalnya kan badan Dhea berat nanti uncle makin capek lagi," ucap gadis itu hendak beranjak namun dengan segera ditahan oleh Tyo.
"Kamu gak berat, malah kecil sekali lagi," perkataan Tyo dibuat seperti mengejek.
"Dhea gak kecil yah!" kata Dhea tak terima.
"Kamu kecil dan lemah sayang."
"Dhea kuat! Enak aja Dhea dikatain lemah."
"Yakin?"
"Yakin banget malah."
"Nanti kamu menyesal lagi."
"Enggak akan." ucap Dhea geram.
"Yaudah nanti malam bakal kita buktikan kalau kamu itu lemah."
__ADS_1
"Aish kenapa harus nanti malam, sekarang aja," ceplos Dhea yang masih tak mengerti arah pembicaraan Tyo.
Tyo mengangkat satu alisnya, "Udah gak tahan nih yah?"
"Emang tahan apa, uncle?" dengan polosnya, gadis itu malah balik bertanya.
"Kamu sudah tidak tahan untuk malam pertama kita kan?"
Sontak Dhea melongo tak percaya atas ucapan Tyo.
"Ish, uncle kok ngomongin begituan sih. Kan Dhea masih kecil."
"Kamu sudah dewasa dan sudah jadi istri saya!" Tyo tersenyum jahil.
"Bodo ah, udah kapan kita makanya kalau terus terusan begini."
"Saya mau satu kecupan." ucap Tyo tanpa beban.
"Gak mau!" tolak Dhea.
"Sebentar saja," pinta Tyo dengan wajah memelas yang membuat Dhea tak tahan melihatnya.
"Bentar yah," ucap Dhea dan dibalas anggukan oleh Tyo.
Tanpa menunggu lama lagi, Tyo mulai mencium bibir lembut milik gadisnya itu. Pria itu ******* dan mulai melilitkan lidah mereka, mengabsen setiap isi yang ada didalam mulut Dhea.
Dhea yang sedikit mengerti mulai membalasnya meski tak se pandai Tyo.
Lama mereka saling bercumbu hingga Dhea memaksa melepaskan ciumannya karena kehabisan nafas.
Mereka berdua masih sibuk mengatur nafas yang masih berpacu dengan cepat. Apalagi Tyo.
Karena takut terjadi hal yang lebih, Dhea langsung turun dari pangkuan Tyo dan kembali duduk pada posisinya semula.
Dhea lebih memilih membuka kotak makanan dan mulai menyuapkannya kepada Tyo.
"Aak," ucap gadis itu mengarahkan sendok yang sudah berisi lauk pauk itu ke mulut Tyo.
"Anak pintar," ucapnya mengelus lembut kepala Tyo.
"Hmm, kamu sudah tau belum?" tanya Tyo disela sela makannya.
"Apa?"
"Ryan akan melamar Lia."
"What?"
"Masa sih?" memberikan suapan kepada pria itu.
Tyo mengangguk lalu mengambil alih sendok dari tangan Dhea. kali ini dia yang akan menyuapi gadis itu.
"Tapi Lia gak ngasih tau deh," tuturnya dengan mulut penuh. "Emang kapan uncle? "
"Sewaktu pulang dari pesta semalam," terang Tyo memasukkan suapan Terakhir ke mulut Dhea.
"Bagus donk, aku kan jadi punya teman nikah dini," katanya nya mengambil botol air mineral lalu meneguknya.
"Kamu gak senang ya kalau kamu nikah dini?" tanya Tyo dengan raut wajah sedih.
"Eh eh, senang kok uncle. Senang banget malah, hehe," jawabnya gelagapan dengan ekspresi Tyo sekarang.
"Bohong? "
"Serius!"
"Baguslah," katanya lalu berdiri dari duduknya dan memakai jasnya kembali.
"Kamu biar saya yang antar pulang."
"Bentar, Dhea beresin dulu."
__ADS_1