Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Rencana Baru


__ADS_3

Dhea masih setia menjaga suaminya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit. Dengan mata sembab sehabis menangis, Dhea tetap memaksakan matanya agar tetap terjaga. Tiba-tiba saja Dhea seperti merasakan pergerakan dari tangan Tyo.


"Uncle," ucap Dhea senang karena Tyo sudah membuka matanya setelah pingsan 3 jam.


"Ini dimana?" tanya Tyo usai membuka kelopak matanya, dilihatnya ruangan disekitarnya yang nampak begitu asing. Dia memang tidak tau dimana dirinya sekarang.


"Ini di Rumah sakit Uncle."


"Egh, Uncle jangan gerak dulu." Dhea memperingati Tyo kala pria itu yang berusaha bangun dan menyandarkan diri di heardboard.


"Kamu kok kumal banget, sayang."


"Ish, lagi sakit tapi masih aja becanda." Dhea kesal karena dikatain kumal tapi dihatinya ia senang karena Tyo masing mengingatnya. Dhea mengira Tyo mengalami lupa ingatan dan untungnya itu tidak terjadi.


"Kenapa bajumu ada noda darahnya?" tanya Tyo melihat kaos putih yang Dhea kenakan belumuran darah yang sudah mengering.


"Emm...itu," tunjuknya ke kepala Tyo yang sudah diperban.


Sontak Tyo memegang kepalanya dan baru menyadari sudah ada perban disana.


"Emang saya terluka?"


"Hah...emang Uncle gak ingat?"


"Enggak."


"Sama sekali?"


"Sepertinya waktu itu---"


Fllashback On


Waktu itu Tyo sedang mengadakan makan malam dengan para pengusaha pengusaha muda di negaranya. Dia memang tidak mengajak Dhea karena ini dikhususkan untuk pria saja.


Mereka terus saja berbincang bincang mengenai perjuangan menuju kesuksesan hingga waktu menunjukkan pukul 20:00.


Tyo tersadar kalau Dia harus menjemput istrinya dari rumah Ryan.Tyo tak mau istrinya menunggunya lebih lama lagi, Dia takut Dhea merajuk dan tidak mau memberinya jatah malam ini. Tentu saja itu sangat mengerikan baginya.


Ditengah perjalanan menuju rumah Ryan, tiba tiba mobilnya mengeluarkan suara seperti letusan Ban. Ternyata suara itu berasal dari ban mobil depanya.


Tyo yang kesal refleks memukul setirnya.


"Sial!"


Mau tidak mau ia harus turun mengecek kondisi ban mobil.


"Huh, pake pecah segala." kesal Tyo menendang ban yang pecah itu.

__ADS_1


"Kenapa sedari tadi tidak ada orang yang melintas? Sepi sekali jalannya." Tyo memandangi sekitarnya yang agak sepi dan cahayanya yang remang remang.


Akhirnya pria itu memilih mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Namun ketika sedang berbicara ditelpon, tiba tiba muncul seseorang yang datang dari belakangnya dan memukul kepalanya hingga ia jatuh pingsan.


Setelah itu ia tak sadarkan diri dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Itulah sepenggal kisah memilukan dari Tyo.


Fllasback Of


"Cuma itu yang saya ingat." katanya diakhir cerita.


"Berarti kakak gak tau siapa yang udah mukul kepala kakak?" tanya Ray.


Tyo menggeleng, "Emang siapa?"


"Entah, aku juga gak tahu siapa wanita gila itu." jawab Ray jujur. Ia tak tahu kalau Tyo pernah berhubungan dengan Tania dulu.


"Gila?"


"Kak Tania, Uncle!" ujar Dhea membenarkan.


"Tania?" tanya Tyo lagi membuat Dhea mengangguk.


"Apa yang dia lakukan kepadaku?"


"Tadi waktu kami nemuin kakak, kondisi kakak itu mengenaskan."


"Mengenaskan seperti apa, kalau bicara jangan setengah setengah."


Dhea menyenggol lengan Ray agar tidak melanjutkan ucapannya, namun Ray masa bodoh. Aib yang menyenangkan pikirnya.


"Kak Tyo tidak memakai baju dan hanya mengenakan boxer, kepala kak Ray berdarah. kalau wanita gila itu..."


"Bajunya sangat seksi, rambutnya berantakan, make up nya tak beraturan, pokoknya sudah seperti kuntilanak," Ray mendeskripsikannya secara rinci. "Tapi menurut Ray, dia lebih seram dari kuntilanak. Secara kunti masih tau etika berbicara, tapi wanita gila itu sama sekali tidak."


Seketika Dhea memelototkan matanya. Tidak menyangka mulut Ray sangat pas jika berbicara.


"Apakah benar seperti itu sayang?" tanya Tyo kepada Dhea yang sedang berusaha menahan tawanya.


"Hehe, iya."


"Kak, apakah kalian melakukan itu?"


"Itu apa?"


"Itu itu loh." ucap Ray sambil menunjuk junior Tyo.

__ADS_1


Sontak Tyo paham dan melempar bantal kepada Ray namun berhasil ditangkis oleh si korban.


"Gila kamu!" Tyo mencibir.


"Udah lama sih Kak,"


"Au ah, mending kita pulang aja," saran Ray.


Sebelumnya dokter mengatakan jika Tyo sudah sadar Dia boleh langsung dibawa pulang, karena kondisi Tyo tidak erlalu mengkhawatirkan sama sekali. Hanya saja di bagian kepala sedikit terluka.


"Yuk!" seru Tyo dan Dhea serempak.


Memang pasangan yang serasi sekali.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Di kediaman Tania.


"Argghh!" suara teriakan terdengar begitu kencang, emosinya sudah sangat memuncak.


Tania menghancurkan semua peralatan yang ada di kamarnya, kecuali cermin. Dia masih menatap nanar seseorang yang ada di kaca tersebut yang tak lain adalah dirinya sendiri.


Dengan kondisi wajah yang berantakan dan pakaian yang sudah robek dimana mana.


"Kau sudah merebut kebahagianku." ia menangis sejadi jadinya karena kesal dengan nasibnya sekarang.


Tania marah saat Tyo dengan mudah menghancurkan pekerjaannya, sehingga semua kontrak kerjanya dibatalkan secara paksa.


"Hiks, hiks, Kau sudah menghancurkan hidupku Tyo." masih dengan isak tangisnya Dia menghancurkan kaca di depanya menggunakan tangannya sendiri. Memukul keras kaca tersebut hingga pecah dan berserakan dilantai.


Tania tak memperdulikan tangannya yang sudah mengeluarkan banyak darah, dan lebih memilih mengambil pil obat yang ada di laci nakasnya. Ia menelan paksa obat itu agar ia mampu mengontrol emosinya yang sudah menggebu-gebu.


Tiba tiba, ia tersenyum licik ketika memikirkan sebuah rencana yang menurutnya sangat sempurna.


"Kau lihat saja,aku akan membalaskan dendam ku, hahah."


"Aku datang Tyo!"


***


*Oke Fix, yang mau menghujat Tania.


silahkan saja, karena aku tak melarang.


Sebab aku juga kesal dengan Tania yang menjadi duri didalam pernikahan Tyo dan Dhea.


Sedikit info, Tania itu tidak suka melihat orang bahagia. Dan dia akan melakukan segala cara agar menghancurkan kebahagiaan orang tersebut**.

__ADS_1


__ADS_2