Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Kolam Renang


__ADS_3

"Huh, gak enak banget deh." ucap Dhea menghentak hentakkan kakinya kasar kelantai. Begitu kesal karena ditinggal sendiri di rumah.


Hilda katanya akan menginap di rumah temanya, begitu juga dengan Ray. Sedangkan Bik Nur? hari ini adalah jadwalnya untuk kembali kerumahnya karena memang ini hari sabtu.


Setelah lama berdiri sambil berpikir keras, Dhea akhirnya mendapatkan sebuah ide menarik.


"Mending gua berenang ajadeh." kata Dhea senang dengan ide cemerlangnya.


Dengan cepat, ia kembali ke kamarnya dan mengganti pakaian yang di kenakanya dengan bikini. Tak lupa ia memakai jubah untuk menutup bikininya agar tidak terlalu terekspos.


Tidak mungkin kan kalau Dhea berjalan dari kamarnya menuju kolam renang di samping rumahnya hanya memakai bikini saja.


"Wow, kayaknya seger deh!"


Setelah meletakkan jus mangga nya, Dhea berniat menyeburkan diri. Namun baru saja ia memasukkan jari jempol kakinya, ia langsung merinding Disko.


Karena apa? karena menurut Dhea airnya sangat dingin. Baru memasukkan satu jari kaki saja, sukses membuat Dhea mengurungkan niat awalnya.


"Berrr," ekspresinya sudah seperti disambar petir saja.


"Ternyata airnya diluar dugaan ku."


"Jadi aku harus gimana donk, bosan banget sumpah." mengacak kasar rambutnya yang dibiarkan terlepas begitu saja.


"Jemuran aja deh, biar gosong nih kulit." ucapnya kesal kemudian merebahkan diri di atas kursi panjang dipinggir kolam renang itu.



Gadis itu terus memandangi indahnya langit biru di sore hari seperti ini. Hingga akhirnya ia menutup mata dan benar benar tertidur.


Cuacanya juga sangat bagus, tidak terlalu panas dan tidak hujan juga. Jadi seimbang gitu deh.


Tak lama kemudian, Tyo datang masih dengan pakaian kerjanya. Dia sedari tadi mencari istrinya itu dan baru mengetahui jika Dhea sedang ada disini sewaktu memandang dari jendela kamarnya yang kebetulan langsung menghadap ke kolam renang tersebut.


Ia tersenyum lalau melepaskan semua pakaiannya, bisa dikatakan, tidak semuanya. Karena pria itu masih tidak meninggalkan celana Boxer miliknya.

__ADS_1


Tyo mengangkat tubuh Dhea lalu menidurkan tubuh mungil itu di atas tubuhnya. Posisi mereka saat ini adalah Dhea tertidur di atas tubuh Tyo dan Tyo yang ada dibawahnya.


Pria itu memeluk erat tubuh gadis itu dan menghirup dalam dalam aroma tubuh yang sudah menjadi candu baginya.


"Emm!" Dhea menggeliat dan mulai membuka matanya.


Detik kemudian ia terkejut ketika melihat Tyo tersenyum kepadanya. Ia hendak bangkit namun Tyo menahannya dengan mengeratkan pelukannya.


"Mau kemana, emm?" tanya Tyo mengelus lembut punggung Dhea.


"Mau turun, ih lepasin Uncle." Dhea berusaha melepaskan diri dari Tyo karena tangan pria itu sudah mulai meraba raba setiap inci tubuhnya.


"Arghh." desah Tyo karena tanpa sengaja tangan Dhea menyentuh sang adik kecilnya.


"Jangan banyak gerak sayang, nanti juniorku bangun dan kamu harus menidurkannya kembali." jelas Tyo memperingati Dhea


Ucapan Tyo berhasil menghentikan gerakan Dhea. Gadis itu memilih diam dan mencari aman dari serangan singa jantan.


"Begini kan bagus."


"Iya tapi lepasin dulu, Dhea risih Uncle."


"Itu, dibawah!" tunjuk Dhea kepada si junior yang sudah mulai bangun dibawah sana.


"Kamu uda pernah nyoba kan? trus kenapa pake malu segala." ucapan Tyo membuat Dhea Blushing seketika, malu tentu saja ia rasakan.


"Iya,tapi kan--"


"Gak ada tapi tapian, sayang. Kamu juga akan terbiasa nantinya."


"Aish, sudahlah lupakan!" mengalihkan pandangan kearah lain, "Lepasin donk uncle, Dhea mau berenang ini!"


"Oke, baiklah." Tyo mengalah dan memilih melepaskan gadis itu, tapi tidak semudah itu bro!


"Huh akhirnya!" lega Dhea yang akhirnya terlepas dari jeratan singa lapar, namun itu hanya sebentar. Karena setelahnya Tyo memeluk tubuhnya dari belakang dan melepaskan jubahnya. Kini Dhea hanya mengenakan bikini saja.

__ADS_1


Kemudian tanpa aba-aba, Tyo sudah menggendong tubuh gadis itu untuk masuk kedalam air yang tingginya hanya sampai sebahu Dhea.


"Wuhh, dingin banget," ucap Dhea menggigit bibir bawahnya saat tubuhnya sudah menggigil disko.


"Dingin ya?" tanya Tyo dibarengi senyuman liciknya.


"Heem." jawab Dhea polos dan tak mengerti rencana Tyo selanjutnya.


Detik kemudian, Dhea merasakan benda kenyal menyatu dengan bibirnya. Tyo mencium lembut bibir gadis itu dan menggigit kecil bibir bawahnya agar Dhea mau membuka mulutnya.


"Balas," suruh Tyo membuat Dhea membalas ciumannya yang lambat laun semakin dalam.


Dhea mengalungkan tangannya dileher Tyo membuat si pemilik semakin bersemangat saja.


Bahkan kini tangan Tyo dengan santainya membuka pengait bra Dhea dan langsung menangkup kedua gundukan itu.


"Mphhh" Dhea semakin terbuai dengan sentuhan Tyo yang makin menggila gila.


"Kau sudah basah sayang." bisik Tyo tepat ditelinga Dhea, kemudian menggigit kecil bagian itu.


"Uncle, hentikan, ahh!" Dhea semakin menggila kala Tyo memasukan tangannya diarea sensitifnya.


"Tidak sayang, kau menikmatinya," ujar Tyo lalu menggendong tubuh Dhea keluar dari air, dan merebahkannya di atas kursi panjang.


Dia segera membuka celananya dan mulai memasukan sang junior ketempat seharusnya. Tyo tak peduli jika mereka melakukanya diluar rumah. Lagi pula ini adalah waktu keberuntungannya, sebab tidak ada satu orang pun dirumahnya kecuali mereka berdua.


"Ahhh"


"Uncle Dhea mau pipis."


"Tidak sayang, kau bukan mau pipis tapi mau keluar."


"Udah Uncle,"


"Sama sama sayang!"

__ADS_1


"Arghh!" erang kedua insan itu karena akhirnya mereka berdua sudah mencapai kepuncak kenikmatan yang tiada duanya.


Bukanya menghentikan, Tyo malah semakin bersemangat melanjutkannya untuk beberapa ronde ke depan.


__ADS_2