Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Rasa penasaran Bram


__ADS_3

"Maaf aku baru bisa datang sekarang, belakangan ini aku benar benar disibukkan dengan proyek baruku yang ada di Belanda."


ucap Bram yang merupakan sahabat Tyo sejak mereka masih SD.


Kalau orang indo bilangnya itu pas masih ingusan, dan belum tau apa apa. hahaha


"Gak papa, gua maklumi kali ini."


Tyo mengajak Bram duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Mereka duduk saling berhadap hadapan.


"Gimana bro pernikahan lo, lancar lancar aja kan? " Tanya Bram yang memang tak hadir saat acara pernikahan Tyo dilaksanakan.


Sejenak Tyo terdiam dan bingung harus berbicara apa.


"Jangan bilang lo batal nikah bro?" tanya Bram menebak karena perubahan ekspresi yang Tyo tunjukan.


"Gak batal, tapi si Tania ketangkap basah selingkuh sama kekasih barunya."


"Sabar ya bro, gua tetap dukung lo." kata bram dengan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Tyo.


Melihat itu, membuat Tyo jijik dan langsung melemparkan sebuah map yang ada di atas meja kepada Bram. Meleset.


"Hahaha."


Sontak mereka berdua tertawa bersama. ikutan boleh gak sih? tanya author.


"Btw selama lo pacaran sama Tania, gua kok belum pernah liat dia ya. Masa pacar sahabat sendiri gua gak tau."


"Lo gak pernah ada waktu buat gua nunjukin, dan lo selalu sibuk dengan pacar baru lo kan," ucap Tyo dengan nada menyindir.


Selama Tyo berpacaran dengan Tania, selama itu pula Bram tidak kembali ke Indonesia. Lelaki itu memang disibukan dengan banyaknya proyek baru dan Kekasih pujaanya yang satu bulan lalu terakhir ia temui di Singapura.


"Gak sempat bro."


"Iya."


"Jadi sekarang lo jomblo donk? hahaha" tanya Bram masih sambil tertawa.

__ADS_1


"Enggak!"


"Trus? "


"Gua tetep nikah."


Bram menatap tak percaya kepada Tyo. Ia berpikir, jika pengantin wanitanya selingkuh, trus dengan siapa Tyo menikah?


"Gua jadi nikah sama ponakan gua, anak bang Bastian."


"Gila lu, ponakan sendiri lu embat?"


"Lo lupa ya kalau bang Bastian itu bukan abang kandung gua."


"Yoi sih, yaudah gapapa juga."


"Hmm," Tyo menggumam sambil memejamkan matanya, berniat mengurangi sedikit lelahnya saat ini.


"Gimana? udah MP gak lo? " tanya Bram penasaran.


"Belum waktunya, dia masih 18 tahun dan sangat tidak tepat." Tyo berbicara masih dengan mata terpejam.


Sontak Tyo membuka matanya lebar, dan menatap tajam kearah Bram.


"Gila banget lu, gua gak setega itu mau nyiksa dia."


Kemudian pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan kearah kursi kebesaranya. Bram yang melihat itupun mengikuti sahabatnya dan duduk di kursi tepat dihadapan Tyo.


"Tenang, paling nanti lo gas juga. Gua paham, lo itu juga cowok normal, dan cowok normal mana coba yang nganggurin daun muda yang catatannya udah sah jadi istri lo."


"Gua sih maunya gitu, tapi pasti dia nolak."


"Hahaha, harusnya lo ngerayu dulu baru minta."


"Gak mempan!"


"Udahlah capek gua ngurusin begituan," malas Tyo sambil membuka beberapa map yang ada di hadapanya.

__ADS_1


Jika terus terus mendengarkan ocehan sahabatnya itu, bisa bisa otaknya terpengaruh ke hal hal yang tak senonoh.


"Usaha bro usaha, gak bakalan ada usaha yang gak menghasilkan," kata Bram sok bijak.


"Cewe lo apa kabar?" Tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Baik, Minggu depan kami bakalan udah menetap disini."


"Bagus donk, cewe lu juga belum pernah gua liat. So, bisa tolong jelaskan sedikit tentang wanita mu itu?"


"pekerjaannya model papan atas gitu, dan kami terakhir berjumpa itu bulan lalu di Singapura. Sekarang memang dia lagi ada di Indonesia, makanya gua balik."


"Trus, kenapa lo harus pindah minggu depan, kenapa gak sekarang saja?"


"Barang barang penting gua masih ada di Belanda."


"Sip."


"Yaudah kalau gitu gua pamit ya bro, mau ketemuan ini sama calon pendamping hidup gua," ucap Bram sambil menaik turunkan alisnya.


Tyo memutar bola mata malas dengan ucapan sahabatnya itu.


"Udah sono, ntar diambil duda lagi cewe lu." canda Tyo.


Setelah kepergian Bram, Tyo melanjutkan pekerjaannya kembali.


Namun baru beberapa menit berlalu, pintu kembali diketok oleh seseorang.


"Masuk!" ucap Tyo yang masih fokus menatap layar Laptopnya.


Tak, Tak


Bunyi sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai.


Seorang wanita berjalan mendekat kearah Tyo dan berdiri di samping pria itu.


"Selamat pagi pak," ucap Delisa dengan suara menggoda. Bajunya pun tak kalah menggoda, dengan dress selutut dan belahan dada yang agak terbuka.

__ADS_1


Tyo tak menjawab dan masih fokus ke layar laptopnya.


Delisa yang merasa di kacangin pun berinisiatif sesuatu. Dengan cepat ia menjatuhkan diri dipangkuan Tyo dan memeluk leher Tyo manja.


__ADS_2