Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Undangan makan malam


__ADS_3

Saat ini Tyo sedang berada diperjalanan menuju ke tempat meeting. Dirinya tidak mengemudi tetapi Ryan sang asistennya yang mengambil alih kemudi.


"Bos, apakah nona Dhea menyukai hal hal yang berbau romantis?" tanya Ryan melirik Tyo yang sedang memainkan ponselnya dari kaca depan.


"Untuk apa kau menanyakan tentang istriku? " tanya Tyo balik yang masih fokus dengan hpnya.


"Bukan begitu bos, aku hanya ingin tahu saja. Karena aku ingin memberikan kejutan untuk Lia dan aku tak tahu apa yang disukai oleh gadis itu," terang Ryan takut terjadi kesalah pahaman.


"Hubungannya dengan istriku apa? "


"Kan nona Dhea merupakan sahabat karib Lia. Dan kemaren aku dengar, kalau Dhea mengatakan bahwa apa yang disuka oleh dirinya itu juga yang disukai oleh Lia."


"Oh baiklah aku akan memberitahumu kalau Dhea itu tidak terlalu suka hal hal yang romantis. Tapi-" ucap Tyo sengaja menggantungkan kalimatnya.


"Tapi apa bos? "tanya Ryan tak sabaran.


"Tapi kalau sesekali tidak masalah. Contohnya semalam, aku telah membuat makan malam romantis untuk kami berdua dan Dhea sangat menyukainya."


"Benarkah? "


"Ya!"


"Kalau begitu aku akan melakukanya," kata Ryan bangga.


"Hmm, lakukanlah sebaik mungkin. Hati wanita pasti akan sangat mudah luluh jika kau memberinya perhatian."


"Baik bos!"


Drrt Drrt


Hp Tyo bergetar menandakan ada telpon dari seseorang. Dengan segera Tyo menekan tombol hijau setelah melihat siapa nama pemanggil.


"Hye bro," sapa seseorang dari sebrang sana yang tak lain adalah Bram.


"Kenapa kau menghubungiku?" tanya Tyo to the point dan tidak bertele-tele tele.


"Wow, sepertinya kau tidak memerlukan basa basi ya? "


"Iya, saat ini aku sedang sibuk." Tyo berucap malas.


"Okeh baiklah pak Bos, aku hanya ingin mengundangmu untuk acara makan malam."

__ADS_1


"Kapan? "


"Nanti malam lah, tidak mungkin sekali kalau minggu depan,"


"Yasudah aku tutup telponnya dulu." Ucap Tyo yang hendak mematikan telponnya namun ditahan oleh Bram.


"Eh eh, tunggu sebentar."


"Apalagi Bram?" Tyo mulai geram, sangat kesal karena Bram sudah menganggu waktunya untuk berchating ria dengan istrinya.


"Kau jadi datang kan?" tanya Bram memastikan.


"Iya Bram!"


"Oke baiklah, aku akan memberitahukan dimana tempatnya. Kalau begitu aku tutup telponya pak bos."


"Hmmm!"


Tut.. Telpon terputus dan Tyo pun melanjutkan pembicaraanya dengan Dhea melalui pesan singkat.


¤¤¤¤¤¤¤¤


"Wa'allaikumsalam," jawab Oma yang kebetulan berada diruang Televisi.


"Kau baru pulang nak?" tanya oma hanya sekedar berbasa basi.


"Iya mi," kata Tyo lalu menyalami tangan Oma. "Dhea dimana mi?"


"Di kamarnya,"


"Kau sudah makan?" tanya oma.


"Belum mi, tapi aku sudah ada janji untuk makan malam dengan Bram." jelas Tyo. "Yasudah, kalau begitu aku keatas dulu ya mi, mau bersiap siap."


"Kamu mengajak Dhea kan?"


"Tentu mi," ucap pria itu lalu melangkah menuju kamar Dhea. Ia ingin memberitahu terlebih dahulu kepada Dhea agar gadis itu segera mempersiapkan dirinya.


"Hye!" sapa nya ketika memasuki kamar Dhea.


"Hye uncle!" balas Dhea yang masih sibuk melipat pakaiannya.

__ADS_1


"Lagi apa?" Tyo bertanya, mendudukkan diri disebelah Dhea.


"Melipat pakaianku."


Tyo ber'oh saja. "Bukain donk," rengek nya menunjuk dasi yang masih melingkar dilehernya. "Saya capek banget hari ini."


"Iya." Dhea tanpa protes langsung melakukan apa yang di pinta Tyo.


"Kamu siap siap ya sayang, kita akan makan malam diluar bersama dengan Bram," terang Tyo


"Uncle Bram?" tanya Dhea girang. Dirinya memang lumayan akrab dengan Bram dan sangat merindukan sahabat suaminya itu. Dhea juga bahkan sudah menganggap Bram seperti pamannya sendiri.


"Iyah."


"Emang ada acara apa sehingga Uncle Bram mengundang kita?"


"Dia akan memperkenalkan calon istrinya kepada kita, sayang."


"Apa Uncle Bram sudah tau kalau Uncle menikahi aku?"


Tanpa Dhea sadari, tangan Tyo sedari tadi sudah berada di wajahnya. Mengusap lembut pipinya, lalu mengecupnya singkat.


Cup


"Jelas tau lah, kan dia itu sudah seperti saudaraku."


"Heheh, iya juga yah." Dhea cengengesan.


"Kalau begitu saya siap siap dulu ya. Kamu juga harus sudah siap dalam waktu 30 menit," jelas Tyo melirik jam yang ada di atas nakas.


"Iya iya, bawel banget sih bayi besar aku nih." ejek Dhea lalu berlari begitu saja masuk ke dalam kamar mandi.


"Egh Bayi besar?" Tyo bertanya kepada dirinya sendiri. "Apa mungkin aku jadi bayi besar? "


"Agh sudahlah, aku harus bersiap siap juga." ucap Tyo lalu melangkah pergi meninggalkan kamar Dhea.


***


Untuk para readers ku tersyang, aku minta maaf kalau tulisan ku ada beberapa Typonya. Soalnya ini nulisnya sambil merem melek.


Salam hangat dari temanmu,🐒

__ADS_1


__ADS_2