
Like nya readers...
kami para author tak akan ada apa apanya tanpa kalian readers... jadi please Kasih like ya...
"Ananda Tyo Ardiansyah Bin Zayn Ardiansyah saya nikahkan dan kawinkan engkau Dengan Dhea sebastian binti Sebastian Ardiansyah dengan maskawin berupa Seperangkat alat sholat dan Emas seberat 1 Kg di bayar tunai. " ucap Penghulu menjabat tangan Tyo.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dhea sebastian binti Sebastian ardiansyah dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Tyo mengikutinya dengan suara lantang.
"Sah, sah. Alhamdullilah."
Semua orang tersenyum bahagia setelah Tyo dan Dhea resmi menjadi Pasutri, namun tidak dengan Dhea.
Dhea menundukkan kepalanya sambil menangis dalam diam. Dengan terpaksa ia menegakan kepalanya dan menyalami tangan pamannya, Tyo yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya di mata hukum dan agama.
Tyo mengecup lama kening Dhea. Ia tahu kalau saat ini keponakannya itu sangat sedih. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, keadaan lah yang memaksanya untuk melakukan semua ini.
Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa mulai hari ini ia akan berusaha mencintai Dhea sepenuhnya. Tyo tidak peduli apakah Dhea akan membalas cintanya nanti. Karena Tyo memegang prinsip teguh jika hanya mau menikah 1 kali seumur hidup, dan tidak lebih.
Lagian tidak masalah juga ia menikah dengan Dhea, karena Dhea bukan lah keponakan kandungnya. Catat, bukan keponakan kandung! Masalah tamu undangan, semuanya sudah Bastian serahkan kepada bawahannya. Suatu hal yang kecil bagi pria itu dalam mengurusnya.
Tyo tersadar dari pemikirannya dan kemudian menyalami Tangan Bastian dan Lisa bergantian. Sebab sekarang Bastian dan Lisa sudah menjadi mertuanya.
Usai sesi salam menyalami, mereka naik ke panggung untuk melaksanakan acara resepsi.
Mau tidak mau Dhea pun mengikutinya. Tidak mungkin juga kan kalau hanya Tyo sendiri yang menyalimi tamu. Apa kata orang nantinya?
***
Resepsi pernikahan telah selesai dilaksanakan. Hampir 6 jam lamanya pesta tersebut berlangsung dengan meriah. Itu sudah cukup membuat Dhea kelelahan.
Kini mereka sudah sampai di kediaman Bastian, ayah Dhea.
__ADS_1
"Ayah, bunda, Dhea mau ke kamar langsung. Dhea udah capek banget." pamitnya kepada kedua orangtuanya. Dhea kemudian melangkahkan kakinya tanpa mau mendengar jawaban, ia berjalan cepat ke lantai dua tepat dimana kamarnya berada.
Tyo hanya menatap punggung Dhea yang menaiki tangga. Bastian yang melihat itu lantas menepuk pelan pundak adiknya. Ralat, menantunya. Tyo melirik orang di sebelahnya.
"Kamu yang sabar ya Tyo, lama kelamaan Dhea pasti terbiasa." Bastian menyemangati. Tyo mengangguk. Ia pun juga memutuskan masuk ke kamar. Namun bukan kamar Dhea, melainkan kamar tamu tempat ia biasa tidur jika bersinggah di rumah ini.
Untuk saat ini ia membiarkan Dhea menenangkan pikirannya terlebih dahulu.
Dia paham jika gadis itu benar benar butuh istirahat. Ia juga sudah sangat lelah dengan drama yang terjadi dalam sehari ini.
Kembali kepada Dhea.
Ia mulai masuk ke kamar mandinya dan membasuh seluruh tubuhnya. Setelah berpakaian, ia langsung berbenah untuk tidur. Karena besok Dhea harus bersekolah dan ia tidak mau terlambat untuk bangun.
Meski Ujian Nasional telah terlaksana, mereka tetap bersekolah seperti biasa, namun tidak belajar. Itu semua karena mereka harus menyiapkan acara perpisahan yang sebentar lagi akan di gelar.
Tak lama setelah Dhea terlelap, Tyo masuk ke kamar Dhea. Ia memilih duduk di pinggir ranjang Dhea, sambil menatap Dhea yang sedang terlelap.
Tyo mengusap lembut kepala Dhea, ia tidak mau membangunkan istri kecilnya itu.
Sama sekali tidak terpikirkan kalau ia akan menikahi keponakanya sendiri, yah meski bukan keponakan kandung nya.
"Maafin uncle Dhea, uncle janji akan ngebahagiain Dhea, uncle akan mencintai Dhea. Uncle harap kamu juga mencintai uncle, nantinya." lirih Tyo.
Setelah puas memandangi wajah istri kecilnya, Tyo keluar dari kamar Dhea dengan langkah yang pelan.
Sekitar pukul 5 pagi, Dhea sudah terbangun. Usai mandi, ia menjalankan kewajibannya sebagai muslim dan mengganti pakaiannya mengenakan seragam sekolah.
Pukul 6 tepat, Dhea turun kebawah dan mendapati meja makan yang masih sepi. Hanya sang asisten rumah tangga yang terlihat sedang berkutit di depan kompor. Lantas Dhea menghampiri sang asisten untuk pamit kepadanya. Dia tidak mau membangunkan anggota keluarga lainya, karena memang itulah keinginannya.
"Bik Sum, Dhea berangkat ke sekolah dulu ya. Nanti kalau ayah sama bunda udah bangun, bilang aja Dhea berangkatnya naik taksi."
__ADS_1
"Loh non? ini kan masi pagi pagi sekali, dan Non Dhea juga belum sarapan." Ucap Bik Sum khawatir.
"Dhea nanti sarapan di sekolahan aja. Yaudah Bik, Dhea berangkat dulu, ada urusan penting. Bye bibik, assalamualaikum." pamitnya sambil mencium punggung tangan Bik Sum.
"Waalaikumsalam, hati-hati non!" Bik sum tersenyum menatap kepergian Dhea. Kemudian melanjutkan tugasnya.
***
Tyo, Bastian, dan Lisa sudah berada di meja makan untuk melaksanakan sarapan. Mereka masih menunggu kedatangan Dhea untuk turun ke lantai bawah. Karena memang mereka belum mengetahui kalau Dhea sudah berangkat sedari tadi.
"Bun, Dhea kok belum turun dari tadi?" tanya Bastian membuka suara. Mereka sudah bosan terlalu lama menunggu Dhea namun Dhea tak kunjung menampakkan diri.
"Iya yah, bentar bunda panggilin." Lisa kemudian bangkit dari duduknya. Namun sebelum Lisa berjalan, Bik Nur menghentikannya dengan ucapannya.
"Maaf nyonya, Non Dhea sudah berangkat ke sekolah sejak jam 6 tadi menggunakan taksi, katanya dia ada urusan penting." info Bik Nur.
"Hah, jam 6?" syok Tyo tak percaya.
"Iya Tuan, Tyo."
"Ooh, yasudah tidak apa-apa. Lanjutkan pekerjaan mu Bik." ucap Lisa membuat Bik Nur mengangguk.
"Mungkin Dhea masih tidak ingin bertemu denganku." Tyo berucap dengan nada parau.
"Tidak Tyo, Dhea hanya sedang ada urusan di sekolahnya karena sebentar lagi mereka akan melaksanakan perpisahan, jadi dia ikut ambil alih dalam kegiatan tersebut," jelas Bastian.
"Iyah, itu benar Tyo. Jadi kamu harus tetap semangat dalam memenangkan hati Dhea."
"Iya kak, eh mah." ucap Tyo meralat.
Bastian dan Lisa tersenyum mendengar Tyo salah dalam mengucapkan panggilannya kepada ibu mertuanya. Tyo memang belum terbiasa.
__ADS_1
"Yasudah mari kita lanjutkan sarapan."
Mereka bertiga pun akhirnya sarapan bersama dalam diam.