Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Harmonis


__ADS_3

Biasanya jika dihari minggu semua orang akan bermalas malasan di atas kasur empuknya. Namun berbeda dengan Tyo dan Dhea, karena pagi pagi sekali mereka sudah berangkat dari kota Jakarta menuju kota Bandung. Sekiranya perjalanan panjang itu mereka tempuh dengan memakan waktu 3 jam lamanya. Itupun kalau tidak macet.


Melewati beberapa ratus kilometer, dan akhirnya mereka sampai juga didepan rumah yang selama 4 tahun Dhea tumpangi. Bukan menumpang sihh, lebih tepatnya mencari pengalaman baru, hehe.


"Bi," lirih Dhea menyentuh tangan Tyo untuk berhenti berjalan sejenak. Dia menatap sendu kepada Tyo dan mengambil alih Deo ke dalam gendongannya.


"Iya?"


"Dhea takut." jawab Dhea jujur.


Tyo menghela nafas pelan dan menggerakkan tangan untuk memperbaiki anak jilbab Dhea yang sedikit menampakkan rambutnya. "Tenang sayang, semuanya akan baik baik saja," ucap Tyo lembut.


"Ta--" ucapan Dhea terpotong dikarenakan kemunculan Fera-ibu Diana keluar dari rumah dan melambaikan tangan ke arah Dhea. Ibu Fera tampak begitu senang dengan kehadiran Dhea, namun detik berikutnya ia dibuat bingung dengan sosok Tyo dan Deo yang ada di dekat Dhea.


Dhea menatap Tyo sebentar lalu mengembuskan nafas kasar. Dengan sedikit keberanian, Dhea melangkahkan kaki memasuki rumah Ibu Fera.


Dhea menurunkan Deo dan membiarkan anak itu bersembunyi dibelakang tubuhnya. sedangkan dia memilih memeluk Ibu Fera. "Umi rindu nak," ucap Ibu Fera membalas pelukan Dhea dengan tak kala erat.


"Dhea juga mi."


Mendengar nama asing itu, Ibu Fera melepas pelukkanya dan menatap Dhea dengan sejuta pertanyaan. "Dhea?" tanyanya bingung.


Dhea mengangguk pelan, "Ini Dhea umi. Sementara itu suami Dhea dan ini anak Dhea, Deo mi." terang Dhea dengan berani.


"Apa? Suami? Anak? Kamu menikah? Dan siapa Dhea itu?" semua pertanyaan itu Ibu Fera lontarkan dengan perasaan menggebu gebu.


Bagaimana tidak bingung. Berbagai fakta yang tidak dia ketahui malah terpampang dengan jelas dihadapannya. Yang dia tahu selama ini, Diana-putri semata wayangnya tidak pernah berhubungan sedikitpun dengan yang namanya seorang manusia berjenis kelamin pria.


Ibu Fera dan suaminya benar benar menentang Putrinya untuk berpacaran karena itu dilarang oleh agamanya. Mereka adalah seorang yang berasal dari keturunan orang timur. Oleh sebab itu Dhea selama tinggal di rumah Ibu Fera benar benar diselimuti dengan aturan islami yang begitu ketat.


"Masuk dulu aja ya mi, biar Dhea jelasin semuanya di dalam," ucap Dhea lembut dengan menuntun wanita yang seumuran ibunya itu memasuki rumah besar dengan gaya yang kental akan budaya timur.

__ADS_1


"Jadi ini semua apa? Siapa dia dan ada hubungan apa kamu dengan dia nak?" tanya Ibu Fera tak sabaran sambil menunjuk Tyo yang duduk dihadapannya.


"Umi, sebenarnya Aku ini Dhea, istri dari pria ini(menunjuk Tyo). Sebelumnya, Dhea benar benar minta maaf mi karena semua kejadian ini telah terjadi."


Dhea menarik nafas dalam dalam lalu kembali berucap, "Beberapa Tahun yang lalu, ada seseorang yang dengan sengaja menabrak mobil Dhea dan naas nya Diana kebetulan ada ditempat itung dan ikut mejadi korban. Dhea terlempar ke pinggir jalan sedangkan Diana masuk ke dalam jurang yang menyebabkan dia meninggal mi. Semua itu terjadi begitu cepat, dan ternyata selama beberapa tahun ini Dhea mengalami lupa ingatan. Namun pada Akhirnya Dhea bisa ingat semua sekarang, Dhea minta maaf yang sebesar besarnya mi."


Ibu Fera tak menjawab, sebab ia sudah menangis dengan sesenggukan ketika mencerna satu persatu kalimat yang dilontarkan oleh Dhea. Sebuah kalimat yang membuat dada nya terasa sesak seperti tertusuk ribuan panah dengan hitungan detik saja.


"Hiks, hiks, kamu jangan bohong Diana. Kamu pasti bercanda kan, hiks, hiks."


"Emm, tan. Saya sebagai suami Dhea benar benar meminta maaf karena semua kejadian ini adalah murni dari keteledoran saya. Wanita yang menabrak anak anda itu adalah musuh bebuyutan saya, dia tidak terima jika saya menikahi Dhea dan memilih melakukan pembalasan."


"Saya mohon Tante harus kuat menerima kenyataan ini." ucap Tyo dengan nada yang dibuat serendah mungkin, bermaksud memohon dengan wanita yang hanya berbeda beberapa tahun darinya. 8 tahun mungkin.


"Hiks, hiks, Diana. Putriku telah tiada, hiks hiks."


Ingin rasanya Dhea memeluk erat tubuh lemah yang ada di sampingnya ini. Namun selalu ditolak oleh Ibu Fera.


Semua kejadian itu juga bukanlah sepenuhnya kesalahan Dhea.


Tuhan telah menggariskan takdir seseorang dan siapa pun tidak ada yang bisa menolak atau membantah. TURUTIN aja, udah nasibnya gitu kan.


"Hiks, hiks, Diana, dimana putriku?!"


"Umi, Dhea masih ada mi. Dhea juga anak Umi, umi harus tegar. Dhea bakalan selalu jadi anak umi, SAMPAI KAPAN PUN!" Dhea berucap dengan menekan kan 3 kata terakhir.


"T-tapi, kamu bukan putriku. Kamu sudah memiliki keluarga sendiri, pasti akan melupakan Umi. Hiks, hiks, Umi udah gak punya putri lagi."


"Umi, Please, Dhea juga putri umi. Jadi tolong Mi, jangan pernah merasa kalau mami tidak memiliki putri lagi, hiks." Dhea ikut terisak dan mencoba kembali memeluk Ibu Fera. Dan kali ini wanita itu tidak menolak, dia membiarkan Dhea memeluknya untuk menyalurkan rasa pedih akibat cuilan di dalam hati.


"Hiks, hiks, Umi gak nyangka kalau semua ini bisa terjadi. Umi gak nyangka kalau Diana bakal ninggalin Umi secepat ini, hiks, hiks."

__ADS_1


"Hiks, hiks, Maafin Dhea yah mi. Sebenarnya Dhea aja yang jadi korban, biar Diana bisa selalu sama umi--"


"DHEA!" bentak Tyo yang tidak terima ucapan Dhea. Bagaimana mungkin dia merelakan istri tercintanya untuk pergi lagi? Oh tentu tidak.


"Ini salah Dhea bi, jika saja Dhea tidak ada maka kecelakaan ini pasti enggak bakal terjadi, hiks, hiks."


Dhea tertegun kala jari telunjuk sudah ada di wajahnya dan bergerak untuk menghapus jejak air matanya.


"Ini bukan salah kamu nak, ini sudah jalan takdir allah. Berhenti menyalahkan dirimu yah. justru allah sudah memberikan pilihan yang begitu benar dengan membiarkan mu hidup, karena kamu masih punya suami dan anak yang sangat membutuhkan kehadiran dirimu di samping mereka." ucap Ibu Fera dengan nada lembut yang malah membuat Dhea semakin merasa bersalah.


"Dhea minta maaf mi, Dhea janji akan menjadi anak Umi yang baik."


Ibu Fera mengangguk dan mengusap lembut kepala Dhea yang ditutupi oleh hijab. "Cucu Oma sini donk, Oma pengen peluk." Ibu Fera merentangkan kedua tangan menyuruh Deo masuk ke pelukannya.


Deo yang ragu malah menatap Tyo untuk meminta persetujuan. Setelah Tyo mengangguk, barulah Deo berani masuk ke pelukan Oma barunya.


Cup


Cup


Cup


Fera mengecup banyak pipi gembul Deo. Anak kecil itu benar benar sangat menggemaskan. Pipinya yang putih begitu menampakkan rona merah. Bukan rona merah karena malu, tetapi rona merah seperti balita pada umumnya.


"Oma sudah punya cucu toh...kamu sangat menggemaskan sayang, oma jadi pengen gigit." geram Fera yang terus saja memainkan kedua pipi gembul Deo.


Bukannya marah, Deo malah tertawa merasa sedikit geli.


Tawa Deo berhasil mengundang semua orang disitu ikut terkekeh dan tersenyum. Bahagia.


HARMONIS!!!

__ADS_1


__ADS_2