
Setelah sampai didepan pintu, Dhea menatap gagang pintu dan kemudian membukanya perlahan.
Ceklek
Dhea dapat melihat Tyo yang sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memandangi laptop. Wajahnya tampak sangat serius sampai sampai tak menyadari kalau Dhea sudah ada dihadapannya.
"Ehemm," Dhea berdehem membuat Tyo mengalihkan pandangannya kepada gadis itu.
"Uncle sibuk banget ya?" tanya Dhea sambil melangkah Ke arah Sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.
Tyo mematikan laptopnya dan ikut duduk di samping Dhea.
"Sedikit," kata pria itu kemudian merebahkan diri dipangkuan Dhea.
Dhea tak menolak, karena ia tahu saat ini Tyo pasti sangat kelelahan. Gadis itu memijat pelan kepala Tyo, bermaksud mengurangi lelah sang suami.
"Uncle," ucap Dhea masih dengan kegiatannya.
"Hmm," jawab Tyo sambil memejamkan mata menikmati setiap sentuhan tangan mungil Dhea di kepalanya.
"Uncle sayang gak sama Dhea?"
"Dari dulu uncle uda sayang sama kamu."
Sayang sebagai keponakan, batin Dhea.
Dhea hanya ber'oh saja "Kalau cinta?" tanyanya lagi, tanpa ragu.
Tyo membuka matanya cepat setelah mendengar ucapan Dhea barusan. Memfokuskan diri untuk menatap lekat manik mata Dhea.
Lama mereka bertatapan, sampai Tyo terduduk dan mengatakan "Sudah memasuki fase suka, dan sebentar lagi bakalan cinta."
Tyo menanggalkan dasinya dan menaruhnya di atas meja, "Kalau kamu gimana?" tanyanya balik kepada Dhea.
Dhea mengedikkan bahunya, tanda tak tahu. "Ntah, Dhea masih bingung juga," ucap Dhea jujur.
Dhea sebenarnya belum memiliki perasaan apa apa terhadap Tyo, baik itu suka maupun cinta. Kalau sayang, dari dulu dia memang sudah sayang dengan Tyo sebagai pamannya.
Tyo mengacak gemas rambut Dhea. "Tidak masalah, Uncle paham kok. Tapi kamu harus mengusahakan nya ya," ujar Tyo serius. Lelaki itu sebenarnya agak kecewa dengan jawaban Dhea tadi, namun, ia memaklumi karena pernikahan mereka baru 2 minggu dan itupun karena keadaan yang terpaksa.
__ADS_1
Meski itu dalam keadaan terpaksa, Tyo akan tetap melanjutkan pernikahannya sampai ke hari tua. Ia tidak mau bermain main dengan yang namanya sebuah pernikahan.
Tak ada lagi percakapan diantara keduanya. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing masing, sampai Ryan datang setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
Ryan datang dengan membawa beberapa kotak makanan yang memang sudah dipesan Tyo sejak tadi.
"Ini pesanan yang bos minta," Ryan meletakkan beberapa kantong plastiq berisi makanan di atas meja.
"Terima kasih, kau boleh keluar," suruh Tyo.
Ryan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan bosnya tersebut. Kini tinggalah Dhea dan Tyo disitu.
"Ini boleh dimakan kan uncle?" tanya Dhea pura pura lugu.
"Tentu sayang."
Dhea membuka semua kotak makanan yang ada dihadapannya. Melihat semua makanan kesukaannya ada saat ini, membuat gadis itu tersenyum sambil melirik Tyo yang juga tersenyum menatapnya.
"Udah dimakan, jangan diliatin terus." ucap Tyo yang kemudian mengambil satu kotak makanan dan memakannya.
Dhea juga tidak mau ketinggalan, ia juga ikut makan bersama Tyo.
"De, sebentar lagi saya ada meeting dengan para investor. Kamu gak papa kan kalau uncle tinggal selama 1 jam?" tanya Tyo yang merasa tidak enak untuk meninggalkan Dhea sendirian di ruangannya.
"Gak papa uncle, Dhea bakal nunggu kok." jawab Dhea kemudian mengambil dasi yang tadi dilepas Tyo dan memasangkannya kepada pria itu.
"Siniin, biar Dhea pasangin."
Tyo mendekat ke arah Dhea, membuat Dhea sedikit deg deg-an dengan jarak sedekat ini dengan Tyo. Apalagi dengan tatapan Tyo yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Namun, ia berusaha bersikap biasa saja dan melanjutkan memasang dasi Tyo.
Dhea masih belum selesai memasangkan dasi Tyo, namun tiba tiba Tyo menarik tengkuk nya dan langsung menempelkan bibir mereka.
Dhea melototkan matanya tak percaya.
Tak ada pergerakan dari bibir Tyo, cuma sekedar menempel saja. Setelah puas, ia melepaskan bibirnya dari Dhea, tersenyum menatap wajah gugup Dhea.
"Manis," ucap pria itu sambil merapikan anak rambut Dhea yang sedikit berantakan.
__ADS_1
"Saya suka de."
Dhea memalingkan wajahnya dari hadapan Tyo. Saat ini ia benar benar malu, bahkan pipinya saja sudah seperti kepiting rebus.
Baru saja Tyo akan melanjutkan kembali aksinya, namun ketukan pintu mengganggu kegiatannya.
Sungguh saat ini ia benar benar kesal dengan orang yang berani menggangu dirinya dan Dhea.
"Masuk!" Ucap pria itu dengan wajah dingin.
"Maaf pak, ini sudah saatnya kita melakukan meeting dengan para investor. Mereka sudah menunggu diruang meeting pak." ucap sekretaris Tyo dengan gaya centil dan menggodanya.
Tyo melirik Dhea disampingnya,Dhea yang paham pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Tunggu disini, jangan kemana mana!" perintah Tyo bangkit dari duduknya dan berjalan keluar tampa memperdulikan sekretarisnya itu.
Sekretaris yang bernama Delisa itu hanya menggerutu kesal karena ditinggalkan sang bosnya. Ia menghentak hentakkan kakinya sambil berjalan keluar ruangan Tyo.
Sedangkan Dhea?
Ia terkekeh dengan tingkah konyol Delisa, Dhea bisa menilai kalau sekretaris itu menyukai suaminya.
Dhea sebenarnya jijik dengan pakaian yang dikenakan oleh sekretaris Tyo barusan. Delisa mengenakan dress mini ketat dengan belahan dada yang terbuka.
"Tampang sih oke, tapi pakaiannya ituloh, udah macam kain lap."
"Malah montok lagi, aduhai deh, tapi ih, kok gua jadi jijik deh."
"Ngakak aja liatnya,"
Batin Dhea.
Kemudian dia merebahkan diri di sofa tersebut. dari pada bosan menunggu Tyo, ada baiknya ia tidur siang. kan adem jadinya.
Gadis itu mengambil jaket dari dalam tasnya kemudian menutupi bagian bawah rok nya yang sedikit terbuka, setelahnya barulah ia memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi.
Jangan lupa kasih vote sebanyak mungkin, Likenya juga.
Tetap dukung author, biar tambah semangat..
__ADS_1
I love you readers.. 🤗