Menikahi Paman CEO-ku

Menikahi Paman CEO-ku
Menghabisi Tania


__ADS_3

Hari ini Dhea sudah diperbolehkan pulang ke rumah. disaat sedang menuntun Dhea menuju kamar, hp Tyo tiba tiba berdering.


Tyo tidak memperdulikan ponsel nya dan melanjutkan langkah menuntun istrinya ke kamar mereka.


"Handphone Hubby tadi berbunyi. Kenapa gak diangkat dulu?" tanya Dhea setelah merebahkan diri di kasur empuknya.


"Iya, ini mau di telfon lagi."


Tyo mengeluarkan ponsel dan sedikit menjauh dari tempat Dhea. Dia sengaja menjaga jarak, agar Dhea tidak mengetahui pembicaraannya dengan Ryan.


"Hallo!"


"Hallo bos, saya sudah melakukan tugas saya bos."


"Apakah semuanya sudah beres?"


"Sudah bos...kami akan menunggu bos untuk melancarkan pekerjaan selanjutnya."


Tyo tersenyum puas, "Baiklah, kalau begitu aku akan segera kesana," ucap Tyo lalu mematikan telponnya sepihak.


Pria itu mendekat kearah Dhea lalu mencium kening gadisnya itu, "Aku pergi sebentar ya, ada urusan penting." Dhea mengangguk dan menyalimi tangan Tyo.


"Hati hati, Hubby!"


"Iya sayang, kalau kamu butuh sesuatu panggil Bik Nur aja ya, sayang. Bye!"


***


"Tyo lepaskan aku!" Tania menjerit dan terus berusaha melepaskan ikatan yang ada ditangan dan kakinya.


"Hahaha, alasan apa lagi yang ingin kau katakan, Huh!" Tyo yang geram mengambil dagu Tania lalu mengapitnya kuat.


"Hiks, hiks, maa-fkan a-ku yo, hiks hiks." ucap Tania terbata bata.

__ADS_1


Bukanya takut, Tyo malah semakin senang melihat Tania yang kesakitan seperti sekarang. dia merasa ini tidak ada apa apanya dengan apa yang telah dilakukan Tania kepada istrinya. Rasa sakitnya tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh Dhea.


"Kau tidak akan kubiarkan untuk hidup lagi, aku sudah muak melihat wajah busuk mu di dunia ini. Jadi, sebelum kau kembali ke alam neraka ada baiknya kau mengucapkan salam perpisahan."


"Hiks hiks, aku mohon yo, jangan bunuh aku!" Tania terus saja memohon, tapi Tyo berpura pura menulikan telinganya.


Dengan santainya, Tyo mengambil salah satu kursi kayu dan membawanya kehadapan Tania. Kini dia bisa lebih leluasa melihat wajah sengsara Tania sebelum menghadap ilahi.


"Katakanlah apa yang ingin kau katakan," ucap Tyo melipat tangan didepan dada dan menaikkan satu kakinya yang bertopang di atas paha satunya lagi.


"Hiks, hiks, beri aku 1 kesempatan lagi yo, hiks aku janji aku bakal berubah, hiks."


"Ups, maaf...kemarin itu adalah kesempatan terakhirmu dan kau malah menyia nyiakanya." Tyo berdiri dan memajukan wajahnya tepat di wajah Tania. Mengambil dagu wanita itu dan mencengkeramnya kuat.


"Kau sudah melakukan tindakan yang salah, dan kau harus siap menerima konsekuensinya." tantang Tyo. Dia memundurkan wajah dan menoleh kearah Ryan.


"Lakukan!" perintah Tyo lalu kembali duduk di kursinya.


Tak lama kemudian, datang 2 orang bawahan Tyo dengan membawa sebuah gelas berisi air putih dan 1 botol yang berisi sianida. Dia memang sudah menyuruh Ryan untuk menyiapkan semuanya.


"Sekarang bos?" tanya seorang pria berbadan kekar yang merupakan salah satu bawahan Tyo yang tiba tiba sudah ada disampingnya.


"Hmm."


"Hiks, hiks, Tyo Jangan, aku mohon yo, hiks, hentikan, hiks!" Tania terus memberontak ketika si Pria berbadan kekar itu hendak memasukan air putih yang sudah dicampur sianida kedalam mulutnya.


Tania tetap kalah karena kekuatan pria itu lebih kuat darinya. Mau tidak mau, sianida itu sudah dia telan dan telah menjalar di seluruh tubuhnya.


Tak butuh waktu lama, racun itu sudah berhasil bekerja dan menampakan fungsinya.


Lihatlah sekarang, Tania sudah lemas dan tak sadarkan diri bahkan dari mulutnya keluar banyak busa yang berwarna putih.


"Huh...Akhirnya tidak ada pengganggu lagi di hidupku ini." Tyo akhirnya bisa merasa lega setelah kematian Tania.

__ADS_1


"Buang mayat nya kemana pun kau mau!" perintah Tyo kepada pria kekar tadi lalu pergi dari tempat itu diikuti Ryan dibelakangnya.


Sebelum menghilang dibalik pintu, Tyo sempat berkata "Bereskan rumah ini. Buat seperti tidak pernah terjadi suatu kejadian apapun," katanya lalu melangkah pergi.


"Terima kasih Ryan." Ryan membuka pintu mobil kepada Tyo dan masuk ke kursi kemudi.


"Apakah ibu Dhea mengetahui tentang pembunuhan ini bos?" tanya Ryan lalu melirik Tyo dari kaca depan.


"Tentu saja tidak, Dhea memang mengatakan kepadaku untuk tidak melakukan sesuatu kepada wanita itu, dan aku sudah menurutinya, bukan?" tanya Tyo yang malah membuat Ryan bingung.


"Bukankah kau yang telah membunuhnya pak? "


"Tidak!" tegas Tyo, "Aku sama sekali tidak membunuhnya, kau kan sudah tahu kalau yang melakukan itu adalah bawahan ku. Berarti bukan tanganku yang membunuhnya?" Tyo menyandarkan tubuh lalu terdengar tawa yang keluar dari mulutnya. Cukup menyeramkan untuk seorang Tyo yang biasanya bersikap baik-baik saja.


Kali ini Biarlah dia dan Tuhan yang tahu tentang apa yang dipikirkan oleh pria itu.


Ryan hanya geleng geleng kepala dengan ucapan bosnya itu. "Benar juga sih," batin Ryan.


Tyo menatap lurus ke depan dan membayangkan kisah bahagia keluarga kecilnya nanti. Dia membayangkan hidupnya akan bahagia setelah dikarunia seorang anak. Hanya sebuah kemungkinan.


Namun nyatanya adalah tidak. Pria itu tidak tahu jika hidup tidaklah sesingkat itu. Dia tidak mengetahui jika sudah ada orang yang akan kembali datang dan akan menghancurkan hidupnya kelak.


***


Tanpa Tyo dan lainya sadari, sedari tadi sudah ada seorang wanita yang umurnya kira kita tidak jauh berbeda dari umur Tania yang bersembunyi diluar.


Wanita itu mematung ketika mendengar Tania memohon ampunan dari Tyo untuk tidak membunuhnya.


Dia bisa mendengar semuanya karena dia berdiri dibalik pintu rumah Tania. Wanita yang awalnya ingin berkunjung ke rumah Tania untuk menanyakan kabar adik satu satunya itu, namun terhenti setelah mengetahui kejadian tersebut.


Yap, wanita itu adalah kakak Tania.


Karena rasa penasaran, dia mengintip sedikit dibalik pintu dan melihat Tania yang sudah merenggang nyawa dengan mulut yang penuh busa. Ia mengira kalau adiknya itu diberi racun.

__ADS_1


Awalnya dia ingin menolong Tania, tapi karena takut jika Tyo mengetahui keberadaanya dan takut jika Tyo akan membunuhnya juga. Jadilah dia hanya bisa pergi meninggalkan tempat itu dengan sejuta dendam yang membara didalam hati.


Dia berjanji suatu hari nanti, dia akan membalaskan dendam kematian adik tersayangnya. Entah keberuntungan atau apa, dia berhasil menghapal wajah Tyo dan memotretnya secara diam diam.


__ADS_2