Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 11


__ADS_3

Dengan 6 pernikahan nya terdahulu, Jacob masih menghargai dirinya sebagai istri. Begitu juga perempuan-perempuan itu tunduk pada perintahnya. Tapi dengan perempuan ini, oh tidak. Penyesalan terbesar Maria Lili adalah telah menganggap remeh perempuan dekil dan berkerak bernama Rose Diana, ia juga menyesal tidak mengindahkan perkataan Dolken.


Tapi Maria Lili percaya bahwa tidak akan terjadi apa-apa antara Jacob dan Rose Diana, karena semua sudah dalam perencanaan yang matang sepertinya yang ia lakukan pada wanita-wanita sebelumnya.


*


Untuk pertama kali Rose naik pesawat, kembali ia tercengang saat masuk ke dalam private jet milik Direktur JSP Investment itu. Apa di dirinya yang tidak mewah, pikir gadis itu. Namun ia tidak tenang terbayang wajah Maria Lili. Perempuan itu bersikap dingin jika tidak ada Jacob dan menjadi ramah saat kehadiran suaminya. Apa yang direncanakan Nyonya itu, dalam hati Rose duduk gelisah di samping Jacob.


"Kenapa?" tanya pria itu menggenggam tangannya, dingin sedingin es di kulkas.


"Hum takut," jawab Rose. Selain ketakutannya pada Maria Lili, takut pesawat jatuh juga menghantui pikirannya. "Berapa lama kita terbang?"


"Tidak lama," jawab Jacob. "Ini penerbangan pertama kamu?"


"Eum," angguk Rose.


"Apa semalam kamu tidur nyenyak?"


"Nyenyak. Cuma kurang lama," jawab Rose tidak berani menantang tatapan Jacob yang dari tadi tidak lepas memandangnya.


Rose menjadi sangat cantik terlepas dari pakaian yang dikenakannya. Apa maksud Mary mendandani gadis ini seperti model-model itu, apa agar aku menjadi tidak berselera. Kekanakan sekali batin Jacob. Jika sebelumnya ia tidak melihat Rose yang polos, mungkin saja.


Hanya Jacob dari tadi penasaran kemana gairahnya semalam pergi. Saat ini ia tidak merasakan gelenyar aneh itu. Debaran dadanya memang lebih kencang dari biasanya namun alat reproduksinya tidak terpancing sama sekali melihat paha mulus dan seksi Rose. Padahal belahan dadanya kelihatan mengundang.


"Rose," desis Jacob.


"Hah!" Rose kaget lehernya dikecup Jacob. Di dalam ruangan itu hanya mereka berdua, apakah Jacob sengaja ingin bermesraan di dalam pesawat.


Pria itu penasaran kenapa semalam bereaksi sangat kuat meski ia baru saja meminum ramuan Mary. "Duduklah di pangkuanku," ujarnya.


Oh, kebetulan batin Rose. Untuk mengusir ketakutan lebih baik berpelukan. Sama suami ini pikirnya. "Apa tidak akan masalah?"


Ehm, geleng Jacob bantu membuka sabuk pengaman Rose, pesawat telah terbang sempurna pada ketinggian tetap kalau tidak ada awan cumulonimbus. Maka pilot tidak akan menaik turunkan ketinggian terbang.

__ADS_1


Dengan senang hati Rose mengabulkan keinginan Jacob, karena itu juga keinginannya agar tidak kepikiran pesawat jatuh. Jacob menurunkan sandaran kursi, dudukan yang luas tidak menjadi sempit jika mereka sebangku berdua toh Rose diatas tubuhnya, memeluk gadis itu seperti guling. Meski gaunnya minim, percuma melepas Cd batin Jacob. Itu karena ia sendiri mengenakan pakaian lengkap kecuali Jas.


Rose mengangkang nyaman di pangkuan Jacob dan mengalung lengan di leher pria itu. Ia tidak canggung lagi meski bawahan gaunnya terangkat menampakkan cd. Posisi seperti semalam saat di ruang kerja, mantab betul batin Rose karena akan merasakan kenikmatan itu untuk kedua kalinya sesuai dengan harapannya.


Jacob memandang wajah Rose sembari memeluk di pinggulnya. "Sekarang masih takut?"


"Ehm," geleng gadis itu. "Maaf telah merepotkan Pak Direktur," ucapnya tersipu malu.


"Kapan terakhir kamu ciuman?"


"Uhuk uhuk." Rose terbatuk ditanya begitu. "Saya belum beruntung dalam hal itu," jawabnya.


Uhm, Jacob senang dirinya akan jadi yang pertama. "Ingin mencoba denganku?"


Astaga batin Rose. Gelenyar aneh mulai merasuk sanubarinya dan Rose mungkin akan sering merindukannya setelah ini. "Jika Pak Direktur tidak keberatan," ujarnya malu-malu tak sadar menjilat bibirnya.


"Akh," pekik Rose saat tengkuknya diraih tiba-tiba, bibirnya menghilang didalam mulut Jacob. Rose belum terbiasa merasakan lidah basah orang lain di dalam mulutnya, sebagai pemula ia bingung harus bagaimana. Hanya pasrah menutup matanya.


Semenit, lima menit hampir sepuluh menit Jacob mengulum bibir, detak jantung semakin dipacu. Tiba-tiba Rose mendorong Jacob melepas pagutan. "Cu-kup Pak Direktur! Sa-ya mau ken-cing," desisnya pelan bercampur malu.


Mana mungkin aku kencing di celana, aih! Rose pasrah sekuat tenaga menahan dorongan di bawahnya. Hancurlah sudah riasannya, yang memakan waktu lebih dari setengah hari, dirusak Jacob hanya hitungan menit. Perlakuan Jacob yang kadang lembut, kadang kasar menjamah setiap inchi tubuhnya. Rose dibuat gak tahan saat dadanya diremas, akhirnya terlepas juga. "Ahhhhhh," desahnya panjang.


*


Maria Lili meski bersama Dolken seperti keinginannya, tidak bisa fokus seperti biasanya. Melayani pemuda itu malas-malasan.


"Mary, please!" Protes selingkuhan Nyonya Direktur itu melepas ciumannya.


"Sorry Ken. Kita ke Maladewa sekarang yuk," ajaknya.


Ha! "Biar benar kamu?" Teriak Dolken.


"Hum," angguk Maria Lili. "Aku serius."

__ADS_1


"Tidak bisakan kamu menikmati diriku saja saat ini, dari pada memikirkan suamimu yang mandul itu?" Marah Dolken


"Jacob tidak mandul, Ken!" Jerit Maria Lili gusar. "Aku hanya membuatnya impoten setiap kali pergi honeymoon!"


"Wha! Apa maksudnya?" Tanya Dolken tidak mengerti apa yang dibicarakan perempuan ini.


Kamu gak tau sih, batin Maria Lili. "Ayo bersiap! Kita berangkat."


"Hei! Setidaknya bereskan dulu ini," tunjuk Dolken pada adik kecilnya.


Oh, Maria Lili bingung. "Aku lagi tidak berselera, Ken. Urus sendiri dulu ya," ujarnya gegas mengenakan pakaiannya. "Gak pake lama! Dalam satu jam kita harus sudah di bandara!" Tegas perempuan itu.


"Oh tidaaak," keluh Dolken menggeliat kesal. Berguling-guling di kasur seperti anak kecil minta permen.


*


Benar saja, satu jam lebih dua puluh menit mereka telah diketinggian ribuan kaki diatas permukaan laut. "Tenanglah Mary," ujar Dolken pada perempuan di sampingnya yang gelisah.


"Bagaimana bisa tenang Ken, perempuan itu mau merebut suamiku!" Pekiknya.


Hais.


"Jangan bilang aku tidak memperingatkan kamu," sinis Dolken. Namun ia lega selega-leganya mendengar pengakuan Maria Lili bahwa Jacob tidak mungkin bisa membobol gawang Rose. Perempuan siluman ini, batin Dolken. Beruntung kau kaya, kalau tidak aku pun tak sudi berhubungan dengan mu batinnya.


"Mau melakukannya di pesawat," ajak Dolken. "Itu bisa membantu mengurangi keresahanmu."


"Hum." Maria Lili melotot pada Dolken. "Benarkah! Apa kamu sudah sering mencobanya?"


Ck, decak Dolken. "Tentu saja belum!" Bantahnya. Masalahnya ia masih spaning dibuat kentang. "Masih 6 jam pesawat akan mendarat. Lebih baik kita bersenang-senang mengusir kebosanan."


Tidak ada yang bisa dilakukan untuk saat ini kecuali bersabar. "Ck, baiklah," angguk Maria Lili setuju.


Asik! Seru dalam hati Dolken lega.

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2