
Menyatu dengan Jacob adalah hal yang paling bahagia bagi Rose Diana. Seperti biasa tidak cukup sekali, ia dan Jacob yang masih dalam masa bulan madu itu melepas kerinduan yang tertahan hanya selama sehari semalam itu bagaikan tak jumpa setahun.
Lewat Maghrib.
Cup.
Rose terbangun merasa keningnya dikecup. Wajah senyum lebar Jacob terpampang di depan mata. "Waktunya jumpa dokter," ujar pria itu.
Rose cemberut. "Masih dini Jacob. Tunggulah genap sebulan," tolaknya membalik badannya.
"Sayang. Aku ingin kepastian," ujar Jacob menciumi pundak halus perempuannya bertubi-tubi. Memaksa Rose bangun dengan cara yang paling seksi yaitu mengunyah daun telinganya, mencumbui lehernya membangunkan gairahnya.
"Aih," keluh Rose. "Aku masih ngantuk Jacob," rengeknya manja.
"Ku lihat kamu menyisakan banyak makanan di meja tadi siang," desis Jacob di telinga Rose. "Setelah ku ingat-ingat kita belum pernah makan malam romantis. Kita dinner di Restoran bawah sebelum ke dokter. Oke sayang."
Aih, kelun Rose pasrah diangkat ke kamar mandi. Tubuhnya dibersihkan seperti putri raja, lembut dan halus. Selesai mandi dipakaikan baju tak lupa riasan wajah. Jacob melakukan nya sendiri dengan senang hati.
Seharusnya ia bahagia mendapat pria yang bertanggung jawab seperti Jacob. Kalau terbukti hamil artinya kebersamaan mereka dari hitungan bulan akan bertambah menjadi hitungan tahun. Namun teringat Maria Lili, Rose bergidik ngeri jika ketahuan ternyata ia mengandung anak Jacob yang jelas-jelas tidak disukai wanita itu. Bisa-bisa ia hilang dari peredaran.
Kasihan Jacob juga seumur ini belum punya keturunan. Wajar lah dia bahagia jika aku beneran hamil. Rose memandang pria yang sedang merapikan dirinya itu. Seharusnya aku tidak kelewat manja, gumam perempuan itu merasa bersalah.
"Sayang. Jika ternyata hamil sebaiknya kita rahasiakan dulu ya please," mohon Rose.
Jacob menoleh. Pria itu sedang mengenakan dasi di leher kemejanya di ruang pakaian yang bisa dilihat jelas dari ruang tidur. "Biar itu jadi urusanku," saut nya. "Kamu cukup bersenang-senang dengannya," kata Jacob menunduk ke bagian tengah tubuhnya.
Cis, dengus Rose. "Dasar hiper."
*
Spesial Jacob menelepon chef memesan semua makanan untuk kesehatan ibu hamil serta tumbuh kembang janin.
"Astaga, siapa yang akan makan semua ini?" Tanya Rose.
"Jangan khawatir ada kami," sautan dari suara yang familiar.
__ADS_1
Mary, gumam dalam hati Rose mendadak wajahnya langsung pucat.
Ternyata belum pergi kata hati Jacob jadi hilang selera. "Ada apa lagi kamu? Urusan kita sudah selesai," marahnya.
"Belum selesai," kata Maria Lili tersenyum manis kemudian mengambil duduk di sebelah Jacob. "Duduk Ken," titahnya pada Dolken yang berdiri canggung.
Dengan senang hati Dolken duduk di samping Rose. "Hum," senyumnya semanis madu. "Apa kabar Rose?" tanya pemuda itu melirik pada tatapan Jacob yang mendelik padanya.
"Baik Pak Dolken," jawab Rose.
"Apa kamu keberatan aku duduk di samping suamiku?" Tanya Maria Lili pada Rose Diana.
"Ehm em," geleng Rose memberanikan diri menatap Maria Lili. Sememangnya mereka pasangan serasi dalam hatinya. Maria Lili cantik dan elegan jika bersikap manis. Begini rasanya jadi pelakor dalam hati perempuan itu.
Hah, Jacob menghela nafas kasar jadi bad mood.
"Rose Diana! Sepertinya kamu lupa bahwa sepuluh harimu sudah selesai," kata Maria Lili.
"Mary! Aku akan mengembalikan uangmu beserta dendanya," tukas Jacob.
"Seharusnya tidak ada pisang berbuah dua kali tapi demi kamu aku mengalah. Pulanglah Jacob! Aku tidak mau mendengar rumor kedekatan mu dengan seorang Klining servis di perusahaanku," kata Maria Lili kemudian menoleh pada Rose. "Aku membayar kamu mahal untuk apa? Bukankah untuk mematuhi isi perjanjian!"
Uhm, angguk Rose.
"Lalu kenapa masih menempel pada Jack," ketus Maria Lili.
Rose menguatkan dirinya agar tidak gemetar. "Yeah karena uang," jawabnya. "Pak Direktur memperpanjang kontrak dengan imbalan yang lebih banyak," lanjut Rose menekuk bibir mengangkat pundaknya. "Saya tidak tau jika ternyata diantara kalian belum ada kata sepakat. Sebaiknya batalkan saja Pak Direktur," kata Rose memandang Jacob. "Uang yang telah ditransfer tidak bisa ditarik kembali. Hanya setelah anda mendapat persetujuan dari Nyonya baru hubungi saya lagi," sambungnya. "Saya tidak mau ada masalah dengan Ibu Wakil Direktur."
Hah. Maria Lili terperangah. Aku tidak tahan lagi dalam hati wanita itu geram ingin merobek mulutnya yang lantam. Ternyata sifat perempuan ini tidak sepolos wajahnya.
"Bye," ucap Rose segera meninggalkan meja.
Jacob tidak bisa mengejarnya karena ditahan oleh Maria Lili. "Jack, jangan coba-coba!" Tegas wanita itu.
Jacob tidak khawatir karena Mawar dan beberapa pengawal akan mengawasi Rose. Hanya kesal saat lengannya disentuh oleh Mary.
__ADS_1
"Ayo pulang! Makan di rumah saja," ajak Maria Lili mengaitkan jemarinya ke jemari Jacob.
Hah. Jacob gerah membayangkan jika ia menurut. Besok aku akan berakhir telanjang di sampingmu, tidak lagi batinnya. "Mary, kita dalam proses perceraian. Sebelum ada keputusan dari pengadilan aku tidak akan pulang. Tidak-tidak! Selamanya tidak akan pulang," sinis Jacob. "Jaga jarak denganku. Jangan sampai aku berbuat kasar padamu," ketus Pria itu menyentak tangannya.
"Jacob! Perempuan itu tidak Hamil. Maka tidak ada alasan bagimu menceraikan aku," ujar Maria Lili sedih menahan air menggenang di pelupuk matanya.
"Tidak ada urusan dengan Rose Diana. Tapi karena aku sudah lama muak dengan sandiwaramu!" Ketus Jacob tidak perduli lagi pada lagu lama yang sudah bosan ia dengarkan. "Aku mual. Di dekatmu aku selalu ingin muntah. Punya harga dirilah barang sedikit, Mary. Jangan membuatku tambah jijik melihatmu walau dari jarak jauh," sinis Jacob beranjak dari sisi Maria Lili. Saat bertemu pandang dengan Dolken. "Ku serahkan dia padamu. Jaga jangan sampai kakak sepupu tercintamu ini berakhir di penjara," ketus pria itu.
Heg, Dolken terhenyak. Brengsekk, makinya hanya berani dalam hati tak mau memperkeruh suasana lebih baik memilih diam.
Jika tidak ingat dimana ia berada sekarang, ingin rasanya Maria Lili menjerit sekuat tenaga memandang kepergian Jacob dengan raut putus asa.
Dolken menggenggam tangannya, meremasnya dengan harapan bisa memberinya kekuatan. "Ken," desis Maria Lili dengan pandangan memelas.
Dolken tau maksudnya Mary ingin menghubungi Roland sekarang juga untuk mengintai Rose Diana. Pemuda itu menggeleng tegas kemudian memanggil Manager Hotel.
"Saya mau buka satu kamar di lantai yang sama dengan Bapak Jacob Pattinson," ujarnya.
Haiya.
Manager serba salah karena sempat melihat perseteruan. Tapi memang ada satu kamar yang kosong beda dua nomor. Bisnis is bisnis. "Baik Pak," jawabnya.
"Dan ini semua antar ke kamar," kata Dolken menunjuk makanan yang belum disentuh. Kebetulan aku lapar dalam hatinya.
"Baik," angguk Manager lalu pergi melaksanakan perintah.
Meski suka dengan keputusan yang diambil Dolken. "Apa maksudmu dengan menginap disini?" Tanya wanita itu khawatirkan.
"Bukankah kamu ingin bersama dengan suami yang tidak menganggapmu itu," jawab Dolken mengeluarkan sebotol ramuan halusinasi dari sakunya.
Hah. Maria Lili mendelik membuka mulut lebar. "Apa kau yakin Jacob akan kembali ke hotel setelah pelakor itu pergi?" Tanya wanita itu mengira Dolken merencanakan sesuatu agar ia bisa tidur dengan Jacob malam ini.
"Tentu saja," jawab pemuda itu bohong.
Karena ramuan ini kamu yang akan meminumnya dalam hati Dolken. Dan aku juga ingin mencobanya satu kali. Siapa tau bisa halu bercinta dengan Rose. Maria Lili rasa Rose Diana, hahahaha tawa dalam hatinya.
__ADS_1
***to be continued.