
Rose menyantap makanannya perlahan, seperti orang yang tidak berselera. Pikirannya pada Jacob. Apakah pria itu mencari dirinya setelah Mawar mengadukan tentangnya yang menolak diantar bodyguard itu. Tapi tidak ada tanda-tanda Mawar menemukan dirinya seperti di tempat Ema, waktu itu. Padahal sudah satu jam berlalu.
"Kapan rencana pastinya lu berangkat, Rose?" Tanya Ema membuyarkan lamunannya.
Ah.
Rose menoleh. Berpikir-pikir harus jujur atau tidak ke Ema sementara ada Mario dan Uncle Sam diantara mereka. "Minggu depan jika tidak ada halangan," jawab Rose apa adanya.
"Kapan-kapan aku berkunjung boleh, kan." Sambung Ema.
"Tentu saja boleh," jawab Rose.
"Pesan tiketnya dari Uncle Sam saja, Rose." Sambung Samuel.
Oh.
"Adakah?" Tanya Rose memandang Mario.
"Tentu saja," jawab Samuel yang memang sebenarnya mewakili si Bos. Dengan begitu Mario akan tetap terhubung dengan perempuan gebetan nya ini.
"Bagus kalau begitu," jawab Rose. "Pesan langsung boleh, kah. Maksudnya, kapan mau berangkat disitu kita pesan tiketnya?"
"Emang lu kata bus antar kota," sela Elisa.
"Hahaha," tawa Ema menanggapi lelucon Elisa.
Cis, dengus Rose tidak perduli.
"Itu terjadi jika anda beruntung," jawab Samuel. "Tapi jika terdesak, bisa saja. Hanya akan ada biaya tambahan yang tidak murah," jelasnya lebih lanjut.
"Begitu ya," gumam Rose pura-pura keberatan dengan harga. "Aku pesan sekarang aja deh," katanya.
"Untuk tanggal berapa?" Tanya Samuel.
"Senin aja. Kalau boleh pagi jam 09.30wib ke Singapura, ada kan!" Jelas Rose dengan pertimbangan saat itu jam kantor Jacob.
"Ada," jawab Samuel. "Pesan sekarang malah akan mendapatkan diskon yang tidak sedikit," lanjutnya. "Untuk dua orang, kan."
Hm, angguk Rose.
Mario merenung Rose, berharap perempuan ini benar-benar bercerai dari suaminya. Maka ia akan datang sebagai pelipur lara. Penghibur dikala gundah, i hope so batin pria itu.
"Kemarikan paspornya, Nona." Kata Samuel.
*
Di ruangan sebelah Mawar mendengar semua pembicaraan melalui alat pendeteksi suara. Segera memberi laporan pada Jacob. "Nona akan ke Singapura senin depan, Pak."
"Begitu," gumam Jacob. "Tiger," panggilnya.
"Siap Pak," jawab bodyguard itu.
"Cari tau adakah yang ingin dijumpai nya di Singapura ataukah hanya sekedar berkunjung."
"Baik Pak," jawab Tiger memandang Bear.
"Siap," kata si Asisten.
"Mawar tidak usah mendekati Rose Diana. Biarkan saja dia menenangkan dirinya. Saat di Singapura aku akan mengejutkan nya. Atur keberangkatan di hari yang sama Tiger," titah Presiden Direktur itu.
__ADS_1
"Baik laksanakan!"
*
Di guest house 2.
Dolken melihat senyum gak jelas di wajah Maria Lili. Ntah apa yang membuatnya bahagia, padahal jelas-jelas statusnya dicuekin Jacob.
Beruntung Nyonya besar grup WJ dan cucu-cucunya telah cek out, sehingga malam ini aku tidak perlu tidur di gardu satpam, batin pemuda itu.
"Mary! Sampai kapan aku disini?" Tanya Dolken yang merasa jenuh di Rose Garden.
"Apa kamu sudah bosan padaku?" Maria Lili bertanya balik.
Wanita itu berbaring santai di atas kasur. Dolken mengambil duduk agak jauh, menjaga jarak. "Bukan begitu. Aku bukan asisten kamu. Jabatan ku sebagai Supervisor lantai 45 rasanya tidak tepat berada disini," jelasnya.
Hm, benar juga dalam hati Maria Lili. "Mana Jacob belum kembali. Coba kamu tanya Novi apakah dia masih di JSP," titahnya.
"Jacob keluar 10 menit yang lalu. Mobilnya parkir di Restoran WJ sekarang," jelas Dolken.
"Yeah! Kenapa tidak bilang dari tadi," marah Maria Lili menegakkan duduknya di kasur.
"Kamu yakin ingin pergi menyusul nya?" Tanya Dolken. "Aku beritahu ya! Sekali kamu keluar dari sini, apa punya alasan untuk masuk lagi?"
Wanita itu berpikir-pikir. "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Tunggulah disini, tapi aku sebaiknya tidak ikut menginap."
"Tapi aku gak ada teman, Ken!"
"Bagaimana kalau panggil Novi menemani kamu?"
"Hm," geleng Maria Lili.
Ck ck ck.
Dolken berdecak sembari menggelengkan kepala.
"Apa Rose juga bersama Jacob sekarang?" Lanjut wanita itu bertanya.
"Tidak! Rose bersama teman-temannya. Main di Mall ini," jelas Dolken.
"Jadi dia punya teman juga," gumam Maria Lili. "Cari tau siapa saja mereka," titahnya.
"Kamu tidak takut hubungan Jacob dan Rose diketahui karyawan?"
"Kenapa harus takut?" Tanya Maria Lili.
"Karena salah satunya adalah tenaga kebersihan JSP yang bernama Ema Watson," jawab Dolken.
"Apa dia secantik pemeran Hermione dari film Harry Potter," seru Maria Lili.
Hais. "Tentu saja tidak," sergah Dolken.
"Kirain," ujar wanita itu lega. Kembali terlentang di kasur. "Asalkan Jacob tidak bersama Rose Diana aku senang," gumamnya.
"Besok kamu yang menghubungi Roland, Ken!" Titahnya. "Beritahu dia untuk melakukan Sperm retrieval di Rumah sakit yang akan kita datangi minggu depan."
Hah.
__ADS_1
"Sebenarnya kamu mau program dengan Jacob ataukah Roland?" Tanya Dolken benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Maria Lili.
"Dua-duanya aku mau coba. Kita lihat sperm siapa yang berhasil jadi janin," jawab Maria Lili. Wajahnya tenang tanpa beban, bahwa dikemudikan hari bisa saja itu jadi masalah bagi anak yang dilahirkan.
"Kamu gak mau punyaku sekalian," kata Dolken.
"Ehm," geleng wanita itu. "Nanti saja jika program dengan kedua orang tak berguna itu fail."
"Hahaha," tawa Dolken. "Aku harap mereka berdua gagal uji coba," ujarnya.
Maria Lili melempar dengan bantal. "Kurang ajar!" Maki nya.
*
Rose benar-benar kecewa merasa Jacob tidak perdulikan lagi padanya. Sampai ia berpisah dengan Ema di parkiran, Mawar tidak menyusulnya. Itu artinya makan malam di Restoran Hotel WJ, dirinya sudah tidak diperlukan.
"Bye Rose," kata Ema.
"Ehm," jawab perempuan itu lemas.
"Semoga sukses ya," kata Ema sembari naik ke taksi Samuel.
"Ehm," jawab Rose tambah lemas memandang kepergian taksi yang membawa Ema.
"Kita nginap dimana?" Tanya Elisa, setelah taksi Samuel hilang dari pandangan mereka.
"Di kosan ku," jawab Rose memandang Mario. "Apakah ada tempat lain untuk bersembunyi?"
"Ehm," angguk Mario. "Ayo aku antar," ujarnya.
"Baiklah," kata Rose.
Elisa membuka pintu depan taksi, duduk manis tanpa perduli tatapan Mario yang kesal memandang nya. "Rose itu masih istri orang! Jadi untuk sementara kamu harus ikhlas aku duduk di dekatmu," ujarnya.
Rose tersenyum dalam hati mau tak mau membuka pintu belakang taksi, duduk lemas menatap nanar ke luar jendela, kalau-kalau Mawar menghampiri nya.
Hah, kangen berat seperti ini, berapa lama aku sanggup batinnya.
Mario membawa taksi ke sebuah perumahan mewah daerah Jakarta Selatan. Hunian yang telah lama dibelinya. Tidak punya teman hidup membuatnya tidak betah tinggal lama. Akhirnya memilin tidur di perumahan bersama anak buahnya. Lebih terhibur.
*
"Mario, sepertinya kamu adalah orang kaya yang menyamar," ujar Elisa terkagum-kagum melihat hunian besar dan indah.
Berbeda dengan Elisa, Rose Diana memandang biasa saja. Mansion Jacob lebih besar dalam hatinya. Mansion Maria Lili bahkan masih menang banyak dari ini.
"Biasanya pria lajang suka apartemen," kata Rose. "Kenapa kamu memilih rumah?" Tanya nya.
"Sekarang aku tinggal di Apartemen. Istriku dan anakku kelak yang akan tinggal disini nanti," jawab Mario.
O
"So sweet," seru Elisa mengedip mata genit pada Mario.
"Jangan ngimpi," kesal pria itu.
Elisa menatap sengit. "Ingat Mario! Aku akan mengejar mu," tantang nya. "Jangan terlalu benci padaku nanti jadi suamiku beneran, baru nyahok kamu!" Sinis teman Rose Diana itu.
Heg.
__ADS_1
Mario bergidik ngeri.
***to be continued