Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 19


__ADS_3

Pukul 22.15 wib tengah malam, Rose tiba di rumah Elisa. "Cie," senyum temannya itu menggoda dirinya.


"Shut," desis Rose malu.


Rasa penasaran membuat Elisa menarik Rose ke kamarnya segera setelah meninggalkan sebungkus oleh-oleh di ruang tengah.


"Maaf. Aku gak bawa apa-apa dari Maldives bukan karena pelit tapi karena Jacob membawaku ke Kalimantan."


"What?" Pekik Elisa.


"Ehm, KA-LI-MAN-TAN." Rose sampai menekan kata pulau terbesar milik Indonesia itu.


"Hahahahaha," tawa Elisa pecah. "Benarkah Jacob impoten?" Tanyanya langsung ke pokok penasarannya.


"Euhm," geleng Rose.


Ah, Elisa terbelalak. "Jadi kamu...."


"Sudah koyak," sambung Rose.


Elisa menutup mulutnya agar tidak berteriak. "Pakai pengaman tidak Pak Direktur?"


Uhm, geleng Rose lagi menekuk bibirnya. "Jika 3 hari ini aku gak datang bulan, habislah. Obat yang disediakan Nyonya ketinggalan di pesawat, sementara Pak Direktur gak mau dibungkus. Pengap katanya," jelas Rose tidak mau buka aib Jacob kalau pria itu di vonis mandul. Siapa tau itu juga prank.


"Kalau jadi gimana?" Tanya Elisa.


"Paling kabur kalau gak mau digugurkan," jawab Rose diam-diam berharap dia hamil sebagai kenang-kenangan dari Jacob. Alangkah bahagianya jika hadir Jacob Junior dalam hidupnya.


"Bukannya kamu mau kuliah? Kenapa gak jaga sih!"


"Bukan aku yang gak mau jaga, tapi tujuan liburan itu mungkin program Pak Direktur. Karena dia merubah destinasi tanpa sepengetahuan Mary. Tapi apa kamu pikir istrinya rela Jacob punya anak dari wanita lain."


Elisa menggeleng. "Kenapa bukan program dengan istrinya sih, si Jacob? Siapa pun yang mandul kan mereka kaya, bisa bayi tabung. Kenapa maksa harus normal! Pak Direktur, egois."


Kapan aku bilang mandul, si kunyuk ini cepat juga membaca pokok permasalahan batin Rose. "Au ah bodo! Jangan coba-coba mencari tau privasi para petinggi negara kalau gak mau hilang dari muka Bumi."


"Ih, seram!" Elisa bergidik ngeri. "Kamu nginap, kan?"


"Ehm," angguk Rose. "Mumpung aku masih ada libur dua hari, besok kita shoping seperti yang aku janjikan."


"Asik," seru Elisa. "Ternyata kamu belum sepuluh hari pergi, ya. Perasaan lama banget."


"Aku gak tau kenapa Jacob mempercepat kepulangan," jawab Rose sedih. "Mungkin dia gak ingin aku berharap lebih kali, ya."


"Huum." Kening Elisa berkerut. "Kamu jatuh cinta pada Jacob?"


"Sepertinya hah," desah perempuan itu.


"Oh my God!" Elisa menepuk jidat. "Kamu tuh cewek plin plan, ya! sama asisten Direktur kau naksir, sama Direktur kamu jatuh cinta."


"Jacob membuatku terlena Lisa, perhatian serta sikap melindunginya manly banget."

__ADS_1


"Hais bahaya," tukas Elisa. "Dia punya istri, Rose! Kamu dikontrak untuk sepuluh hari. Mempercepat kepulangan itu artinya dia gak mau meninggalkan istrinya lama-lama."


"Iya, aku tau. Tapi kok, ah!" Rose tengkurap di kasur Elisa, menahan air mata jangan sampai tumpah. "Baru berpisah rindunya setengah mati."


Hah, Elisa terperangah. "Enak ya diperawani Jacob?" Tanyanya.


Rose berbalik badan jadi terlentang, tatapan menerawang ke awang-awang. "Sakit yang membuat nagih. Aku terlalu banyak mengeluarkan air jadi gatal pengen digaruk terus," jelas Rose.


"Hahaha, kampret lu!" Tepuk Elisa di kening Rose. "Emang itunya Jacob gede apa, sampai kamu keenakan gitu?"


Cis. "Kamu lihat lenganku ini?" Rose mengepal tangannya.


"Sepanjang itu?" Elisa menutup wajahnya geli saat membayangkan.


Hihi. Rose terkikik. "Awas kamu basah, lho."


"Ih sialan, enggak ya! Emang elu miang," ketus Elisa.


"Kamu sih belum kena. Jangan coba-coba kalau bukan dengan suami."


Mereka masih ngobrol sampai pagi, Elisa jadi pendengar yang budiman untuk diambil pelajaran.


*


Setelah menurunkan Rose di Halim, Jacob lanjut ke Singapore mengurus beberapa hal dengan kenalan lama. Masalah Mary berhubungan dengan Agen Pemusnah Profesional tidak boleh dianggap enteng.


"Pencarian masih terus berlanjut tapi belum ada hasil, sampai kapan kamu akan menyerah Jack. Sudah lebih sepuluh tahun berlalu," tanya Nasir, detektif yang membantu Jacob mencari jejak hilangnya Maura.


"Iya aku tidak lupa Jack," jawab Nasir.


"Berikan semua data dari awal sampai terakhir. Aku khawatirkan ada yang terlewat," pinta Jacob.


"Baik Jack. Akan ku kirimkan segera."


Jacob menginap di Apartemen yang ia tinggali dulu bersama Maura, besok pagi baru kembali ke Jakarta. Rose Diana batin pria itu rindu pada istri sepuluh harinya. Dari laporan Mawar posisi Rose ada di daerah Pasar Induk, Jacob susah payah menahan keinginan untuk tidak menemui Rose malam ini juga.


*


04.00wib


"Sialan kamu Jack!" Teriak Maria Lili di ruang kerja suaminya, setelah mendapat laporan bahwa Jacob ke Singapura.


"Jack belum move on dari Maura," gumam Dolken. "Kamu yang terlalu khawatir ia akan berpaling pada Rose."


Maria Lili merenung Dolken. "Aku jadi curiga padamu. Benar kan kamu menyukai perempuan itu, ayo ngaku dari pada ku robek mulutmu."


Eh buset, Dolken bergidik. "Bukan begitu!" Bantahnya. "Aku hanya menjaga, agar kamu jangan salah langkah. Percaya gak kalau statusmu sekarang dalam pengawasan?"


"Iya, aku percaya."


"Hm, bagus. Bagaimana kalau malam ini satu kali disini," usul Dolken.

__ADS_1


"Diam kamu, Ken!" Tunjuk Maria Lili ke setiap sudut ruangan


"Emang bisa baca suara?"


"Setahu ku belum bisa, ini masih CCTV lama."


"Jadi dimana dong? Aku pingin neh," rajuk Dolken.


"Di otak kamu apa isinya cuma itu?"


"Hehehe." Dolken cengengesan. "Untuk itu kan kamu mengangkatku jadi simpanan."


"Cis," sinis Maria Lili.


"Gimana Jack gak curiga, kalau sebenarnya aku ini mata-mata yang kau letakkan untuk mengawasinya."


"Hei!" Marah Lili. "Kamu ini di pihak siapa sebenarnya?"


"Ya di pihak kamu jika tidak ada tindakan kriminal yang merenggut nyawa anak orang!" Dolken berkata tegas.


"Itu karena wanita itu Rose Diana, kan! Jika perempuan lain, aku yakin kau gak se-perduli ini."


”Terserah kamu mau ngomong apa. Kapan-kapan kalau kau pingin jangan minta padaku, aku mau tobat." Rajuk Dolken meninggalkan perempuan itu sendirian.


Eh eh. "Dolken! Tunggu aku," panggil Maria Lili mengejar brondong tercintanya.


*


Elisa membiarkan temannya tidur lebih lama, wajahnya terlihat lelah dan sedih. Hais, itulah resiko nikah kontrak. Jika putus pas lagi sayang-sayangnya, merana lah jiwa.


🎶Sakit, sakitnya tuh di sini.🎵 Senandung Elisa.


"Lu nyindir gua?" tanya Rose membuka matanya.


Hehe, tawa Elisa. "Cepat mandi! Aku gak sabar mau beli iPhone."


"Chieeh."


"Second ada, kan! Biar lebih hemat."


"Lisa, beli yang bermanfaat. Kalau hape Android tiga juta, sudah lengkap fiturnya. Dapat baru lagi dari pada iPhone belasan juta."


"Iya cepat lah mandi dulu sana. Lihat nanti, yang penting kita ke Mall sekarang."


"Iye ye," cebik Rose. Perempuan itu meminjam baju Elisa, walau celana panjangnya gantung di kakinya yang jenjang.


"Wah, bajuku jadi keren dipakai kamu." Elisa cemberut.


"Hahaha, maaf kalau aku lebih cantik darimu."


"Aaaaaaa, dasar!" Elisa menjerit kesal, bukannya gak bersyukur. Tapi memang Rose tambah cantik pulang dari Honeymoon.

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2