Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 88


__ADS_3

"Hanya akting! Kalau kamu sudah punya pacar beneran, ya udah. Kita gak usah akting lagi," ujar Elisa.


Ck, decak Mario.


"Hm, ya! Ya..ya ya," paksa Elisa mendekatkan wajahnya ke wajah Mario. Ingin rasanya ia menjilat bibir coklat muda itu.


Mario gerah, apalagi ada Rose Diana. Tapi kayaknya perempuan itu gak ngaruh malah senyum-senyum melihat tingkah temannya. Seolah merestui, tidak terlihat ada cemburunya di sana, hah!


Meski begitu. "Aku tidak berminat! Tolong jaga jarak denganku 1 meter," marah Mario melebarkan biji matanya pada Elisa.


Hah!


"Jangan 1 meter, dong! Aku mana bisa tahan jauh darimu." Elisa mencak-mencak keberatan.


"Apa susahnya sih akting doang! Aku tuh masih virgin, belum pernah pacaran. Kamu gak akan rugi dapat pertamaku, please." Elisa memohon sambil menjilat-jilat bibirnya.


Mario meneguk ludah susah payah. Lelaki normal seperti dirinya bagaimana tidak naik nafsu disuguhkan bibir seksi ranum berisi. Namun ada yang lebih seksi dari itu, wajahnya menyaingi speck bidadari. Hais...kenapa aku mesti menyukai istri orang, sih! Dalam hati Mario galau.


"Bukankah jalan pintas move on dari seseorang dengan memacari perempuan lain," kata Elisa mengerling mata genit.


Mario sangat setuju dengan perkataan Elisa.Tapi lebih baik jual mahal dulu, pikir nya. Tidak mau di cap murahan oleh Rose Diana. "Aku bilang tidak berminat, ya tidak!" Tegasnya.


"Terimalah Mario, kasian dia dari pada pergi ke pria yang gak benar."


Kata-kata Rose Diana membuat mental Mario tambah down, seolah mengatakan bahwa benar-benar tidak ada harapan antara mereka.


"Lihat itu! Si Devie saja merestui kamu jadi pacarku." Elisa mengedip mata imut, memohon agar cintanya diterima.


"Aku bilang jaga jarak! Mengerti bahasa Indonesia, tidak?" Marah Mario berlagak tidak perduli, bahkan mengancam.


"Jika masih ingin tinggal disini, jaga jarak denganku. Mengerti," ulti Mario mendorong kening Elisa menjauh dari wajahnya.


Namum dengan cepat Elisa menyambar bibir pria itu tanpa sempat mengelak.


Cup!


Mario terbelalak.


Elisa langsung kabur tapi tidak mau jauh-jauh, duduk di samping Rose Diana. "Sah, ya. Kamu resmi jadi pacarku," katanya dengan wajah puas.

__ADS_1


Hah.


Mario terperangah.


"Hahahaha," tawa Rose Diana.


Elisa tersenyum penuh kemenangan. "Baru cicip aja sudah enak. Apalagi di kiss dalam, oh." Elisa terkapar pingsan di samping Rose Diana.


"Hei," tepuk Rose di punggungnya.


Treng treng treng...


Telepon rumah Mario berbunyi kencang memekakkan telinga. "Mbak Santi tolong angkat," titah Mario.


"Baik Den," saut Santi dari arah dapur.


Asisten rumah tangga itu berjalan ke ruang tengah dengan pandangan tak senang pada Elisa. Kalau Devie sih ia rela, karena kalah cantik. Tapi si Elisa hampir sama cantik dengan dirinya hanya menang agresif saja, hah! Keluhnya sembari mengangkat telepon yang sengaja digedein suaranya, agar saat ia sibuk entah di bagian mana sudut rumah bisa kedengaran.


Walau bisa dipastikan panggilan itu dari Satpam yang mengatakan bahwa design interior sudah tiba dengan barang-barang pesanan. Segera saja Santi mempersilahkan agar Satpam membawa mereka masuk.


Sampai di pintu utama bertemu Santi. "Kami dari jasa Interior design," kata pria menunjukkan surat orderan. Ia datang bersama 3 orang asisten menemaninya.


"Silahkan masuk bapak-bapak," jawab Santi mempersilahkan mereka masuk, kemudian satpam pamit kembali ke gardu depan.


Elisa terpelongo melihat luas kamar yang akan di atur, lebih luas dua kali lipat dari kamar yang mereka tiduri semalam.


"Sayang..ini akan jadi kamar kita," ujarnya kuat-kuat. Semua orang jadi menoleh padanya tak terkecuali para pekerja.


Hm.


Mario pasang tampang joker, malas menanggapi.


"Wah, anda beruntung Nona. Dapat suami sekeren Pak Mario," kata salah satu pegawai decoration, yang kemungkinan ketua mereka.


"Do'a in aja, Pak. Saya lagi usaha," jawab Elisa santai.


"Hahaha," tawa si Bapak memandang Mario. Mario balas melotot. "Heru," tegurnya.


"Jangan jual mahal, yok. Mau yang bagaimana lagi?" Balas Bapak yang dipanggil Heru melirik Rose Diana.

__ADS_1


Rose membuang muka, jengah. Gara-gara dirinya, Mario jadi sulit menerima Elisa.


"Istri orang itu. Jangan lirik-lirik," ketus Elisa mengerti situasi nya. Ia tau jelas bahwa si Heru pasti mengira Mario lagi pedekate sama Rose Diana.


"Waduh!" Seru Heru. "Cepat amat lakunya, neng. Biasanya cepat bubar juga, tuh. Nungguin Akang Mario juga ya Non," sambung nya.


Rose tambah jengah lalu kembali ke ruang tengah. Ngapain liatin orang kerja gak sopan santun dalam berbicara. Jadi laki kok ngomong gak disaring kayak emak-emak, batin Rose merasa terpukul. Kerena apa yang dikatakan si Heru sialan itu, sebentar lagi akan jadi kenyataan. Meski hubungannya dengan Jacob akan kandas, bukan berarti ia mengharapkan Mario, cis. Kan jadi salah paham, hais.


"Kalau gak ingat pertemanan kita, sudah aku usir kamu!" Marah Mario pada Heru. Pria itu memandang prihatin pada kepergian Rose Diana dengan wajah sedih.


"Maaf yok," ucap Heru.


"Usir aja, sih. Bacot kayak ember," tukas Elisa.


"Jangan dong, Non." Mohon Heru pada Elisa.


"Gua janji, gak akan bicara ngawur lagi, yok. Akan fokus bikin kamar lo, jadi indah seindah kamar pengantin baru."


Seyogyanya Mario juga gak akan mengusir Heru asal ia mau minta maaf. "Kerja yang benar! Kalau ada sedikit meleset gua potong dari upah lo."


Gleg.


Heru meneguk ludah, 3 asisten bersyukur tidak ikut campur obrolan mereka. Karena sudah bisa dipastikan selalu ada yang meleset setiap menyusun dekorasi di rumah Mario. Kesalahan ukuran misalnya, jadi seringnya Mario bantu mengakali dan tidak banyak komplain serta memaafkan.


Heru memandang lesu pada punggung Mario yang perlahan meninggalkan kamar disusul Elisa.


"Syukurin, lo." Cibir teman Rose itu pada Heru.


Di ruang tengah tidak ada Rose Diana. "Aku akan lihat ke kamar," kata Elisa mengerti arah pandangan Mario.


"Hm," angguk Mario.


Di dalam kamar benar saja ada Rose Diana, menggulir-menggulir ponselnya duduk bersandar di sofa. "Kita kembali saja ke kosan, Lis atau Lu pulang ke kampung dulu. Senin depan kita jumpa di Airport," ujar Rose Diana setelah Elisa menutup pintu.


"Ya udah, terserah kamu. Lagian aku takut tidur di sini, ada...ih!" Teman Rose itu bergidik mengingat penampakan ke 5 Balita.


Mereka menyusun pakaian segera. Yang bekas pakai disatukan dalam sebuah bag plastik yang kebetulan ada di dalam tas ransel Rose Diana. Hm, ini Balita tau aja aku butuh apa, senyum dalam hati perempuan belia itu.


Setelah dirasa beres semua tidak ada yang ketinggalan, segera mereka keluar dari kamar, bertemu Mario di depan pintu.

__ADS_1


"Sayang, gara-gara pegawai kamu, tuh!Rose Diana jadi sedih. Kamu tau itu gak baik bagi perkembangan janin yang ada di dalam rahimnya," marah Elisa.


***to be continued.


__ADS_2