Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 9


__ADS_3

Jacob memandang sayu kepergian Rose, sementara Maria Lili menyesal telah membiarkan Jacob memilih sendiri perempuan yang akan menemaninya. "Jangan coba-coba berpikir Jack, aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkanku. Aku butuh kamu, JSP butuh kamu. Ingat itu! Pergi liburan dan lupakan gadis itu setelah sepuluh hari."


Statusnya memang Direktur namun pada hakekatnya semua keputusan di tangan Maria Lili sebagai pemilik perusahaan. Jacob yakin Perempuan itu tidak berani menghampirinya. Karena serba salah bagi Mary terhadap alat vitalnya, bisa bereaksi maupun tidak bereaksi.


"Untuk apa kamu bertahan dengan keadaanku yang tidak bisa memuaskan mu," kata Jacob menunjuk bawahnya dengan dagu pada sesuatu yang masih mengacung di bawah meja. Semoga bisa menghilangkan kecurigaan Mary seratus persen atau paling tidak 90 persen bahwa ramuannya benar-benar manjur.


Maria Lili bergeming, tetap berdiri di tempatnya. "Kita sudah membahasnya, Jack. Kamu hanya butuh liburan," katanya gak ingin Jacob kekeh batal pergi ke Maldives. "Tapi ingat Jack, kejadian tadi tidak boleh terulang di rumah ini!" Kecamnya.


"Tidak ada lain kali, lebih sepuluh tahun aku menuruti kemauan kamu. Dan ini untuk yang terakhir kali," tegas Jacob.


"Kita lihat nanti," jawab Maria Lili.


Hum, Jacob menyungging senyuman. Sebenarnya ia tidak takut pada Mary. Pria itu sedang menunggu seseorang datang mencarinya di rumah ini, yang pergi lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Lebih tepatnya 12 tahun, dan Mary pula tak mau melepaskan dirinya.


"Terserah kamu saja," katanya Jacob membalut tubuhnya dengan kimono. "Ada lagi?" Tanyanya.


"Aku tidak akan mengganggumu lagi," geleng Maria Lili kemudian keluar dari ruangan dengan satu tujuan. Menyusun rencana melenyapkan Rose Diana.


"Hum." Jacob menarik nafas kasar, melempar berkas dengan keras di atas meja. Melirik ke bawah ada cairan bening yang membasahi pahanya, senyumnya melebar. "Rose Diana...reaksi mu hebat juga," gumamnya beranjak ke kamar mandi.


*

__ADS_1


Rose kembali ke kamarnya tergesa, syukurlah Maria Lili datang pikirnya. Gadis itu takut setengah mati tadi. Dirinya benar-benar belum siap kalau diterobos malam ini juga. Katanya impoten, gimana sih! Apa ku lapor saja pada Maria Lili, akh. Jangan cari masalah Rose, batinnya. Jacob suamimu, menyimpan rahasianya adalah kewajiban mu. Jelas-jelas tadi Jacob berbohong demi menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


Senyum perempuan itu melebar menahan malu, terbayang saat dipeluk Jacob rasanya ingin mengulang lagi, hihi. Ingin terpejam matanya terang seterang siang gegara minum secawan kopi, alamat gak bisa tidur malam ini, ah.


Berputar ke kanan berputar ke kiri, aih! Rose terbayang terus pada alat reproduksi yang menyebabkan nya terkencing di pangkuan Jacob, aih. Belum masuk sudah gemetar gimana kalau, ah!


Namun kepalanya tiba-tiba sakit, tak tahan Rose bangun terduduk di kasur. "Aku butuh balsem," gumam nya teringat Maria Lili dan Jacob di ruang kerja. "Apakah mereka bertengkar? Bodo amat." Rose bermonolog, sendiri bertanya sendiri menjawab seperti orang gila.


Gadis itu meraih tas kecilnya di nakas, merogoh balsem yang selalu dibawanya kemana-mana. Sangat ampuh menyembuhkan segala keluhan sakit kepala dan perutnya. Teringat pil kontrasepsi, ah sudahlah. Biarpun alat reproduksi Jacob bisa tegang kalau mandul ya gak bisa hamil juga batinnya urung menenggak pil itu lagi.


"Tidur lah Rose. Agar besok kuat menghadapi kenyataan." Kata perempuan itu pada dirinya sendiri. Kembali berbaring di kasur, memandang ke langit-langit kamar dimana tergantung sebuah lampu hias cantik. Rose tidak berani memadamkannya, biarlah terang. Siapa tau ada yang menyelinap ia bisa mengenali wajahnya.


*


Perbedaan sikap Jacob pada Rose agak lain dari perempuan-perempuan sebelumnya, itu yang membuat Maria Lili panas terbakar api cemburu. Pada model-model cantik sebelumnya, Jacob terkesan cuek.


Apa yang dilihatnya dari perempuan dekil itu. Apa karena mereka dari habitat yang sama. Hum, perempuan kampung itu tidak jelek hanya berkerak dan dekil. Di poles sedikit bisa bening. Sepertinya Jacob menyukai perempuan dekil dan berkerak, baiklah aku akan memolesnya seperti para model-model itu. Bila perlu seperti perempuan panggilan kelas atas. Maria Lili meraih ponselnya, menekan satu nomor luar negeri.


"Setelah sekian lama kamu menghubungi ku lagi," jawaban dari seberang telepon.


"Pulanglah dalam minggu ini. Ada tugas untuk sepuluh hari ke depan!" Perintah Maria Lili seperti bos pada bawahan.

__ADS_1


"Siap!"


Hum, Maria Lili memutus sambungan. Tidak bisa batinnya. "Aku menyingkirkan perempuan itu setelah pulang dari Maldives saja."


*


Rose terbangun mendengar bunyi alarm ponselnya yang menjerit, gadis itu sengaja mengencangkan nadanya agar berisik dan membuat nya terjaga untuk sholat subuh. Waktu menunjukkan angka 4.30wib, lumayan bisa tidur walaupun tidak sampai 3 jam. Rose menggeliat di kasur. Biasanya di kosan maupun di rumah Paman, pukul 04.00wib sudah terdengar pengajian dari toak mesjid terdekat. Disini sangat sepi, apakah tidak ada mesjid batin gadis itu segera bangkit dari kemalasan nya. Maksudnya mau mandi wajib, kan semalam ia terkencing di atas pangkuan pria dewasa. Astaga Rose kamu sungguh menjijikkan, "hahaha," tawanya. Rose bergegas ke kamar mandi. Beruntung di rumah orang kaya ada water hitter, keramas pagi jadi gak merasa kedinginan.


Selesai sholat Rose melamun di kasur, memikirkan bagaimana sikapnya nanti saat berhadapan dengan Maria Lili. Suara jeritan perempuan itu semalam sangat menakutkan. "Semua gara-gara si Jacob yang gak sabaran, hah!" Kesal gadis itu.


Rose takut Maria Lili membencinya dan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Ya Tuhan, semoga saja tidak. Bukankah aku masih harus bekerja setelah sepuluh hari pulang dari Maldives.


Untuk alasan apa Pak Direktur membohongi Maria Lili gak bisa reaksi, padahal semalam itunya galak nian pengen menyundul ku. Hehe rasain Maria Lili dibohongi Jacob, tawa gadis itu. Walaupun mandul tidak berarti gak bisa melakukan kewajibannya sebagai suami, kan! Apa karena sudah sepuluh tahun berlalu, sehingga timbul rasa jenuh di hati Jacob.. "Dasar laki-laki gak tau diri," gerutu Rose.


Sudahlah gak usah kau urus mereka, pikirkan dirimu sendiri Rose. Setelah mendapat uang berhenti saja dari JSP, lebih baik fokus belajar. Baiklah, masih ada waktu satu jam setengah untuk perawatan, apakah aku dapat sarapan? Tanya Rose meraba perutnya yang keroncongan, mau minum tidak ada air putih. Semalam yang sebotol telah habis ditenggaknya.


Tok tok tok.


Sarapan! Syukurlah dalam hatinya terbit secercah harapan. "Ya," jawab Rose bergegas ke pintu kemudian membukanya.


"Sarapan anda Nona," kata seorang perempuan berambut pendek di depannya, kemudian masuk melewati Rose begitu saja. Di tangannya sebuah nampan berisi sepiring roti sandwich dan segelas susu yang menggugah selera.

__ADS_1


***to be continued.


__ADS_2