Menikahimu Karena Uang

Menikahimu Karena Uang
Bab. 23


__ADS_3

"Uhmm," geleng Jacob. "Aku memang berniat membangunkan mu. Sebelum ke kantor mau sarapan dulu."


"Sarapan sendiri aja ya. Aku ngantuk," kata Rose berbalik badan, kening Jacob berkerut. "Kamu nyuruh aku main sendiri?"


Ha. Rose terotak. "Jacob! Apa maksudmu sarapan bercinta, oh no aku kenyang."


"Oh yes aku lapar," seringai pria itu menimpa Rose, menciumi leher jenjangnya bertubi-tubi. "Ayo cepat laksanakan tugasmu."


Rose gak tahan geli kemudian berbalik badan menghadap Jacob. "Baiklah, tapi biarkan aku mandi sebentar." Katanya mengalah demi kemaslahatan umat.


"Aku juga belum mandi." Jacob mendekatkan bibirnya seketika ditahan oleh Rose. "Setidaknya sikat gigi," mohon perempuan itu.


Ehm, geleng Jacob tersenyum mesum. "Baumu lebih enak justru saat ini."


Rose terhenyak, apa penciuman pria ini bermasalah dalam hatinya sembari menahan gempuran ciuman Jacob di lehernya. "Mulutmu bau pelepasan lebih menggugah seleraku," desis pria itu semakin bernafsu.


Astaga ucap dalam hati Rose seketika menahan wajah Jacob, merenung ke manik indah prianya itu. "Kalau sudah mulai paling dikit 7 pelepasan kamu baru puas. Apa gak niat masuk kantor hari ini?" Tanya perempuan itu.


"Kamu lupa siapa aku?" Jacob memonyongkan bibirnya. "Ayo cium, ini perintah."


"Haiya...baiklah yang mulia Direktur," ujar Rose sembari menangkup wajah Jacob.


Tidak ada puasnya jika nafsu dituruti, seolah gak ingin usai Jacob menginginkan Rose lagi dan lagi. Menghentak sedalam dan secepat ia mampu, melepaskan hasrat yang tertahan selama di Singapura. Limpahan air kenikmatan membanjiri kasur, bau yang akan membuat kangen sekaligus patah hati. Tidak akan ku lepas kau sampai kapanpun batin pria itu.


Bagi Jacob ini hanya kebutuhan jasmani, tapi bagiku sudah meresap ke sanubari dalam hati Rose sedih. Aku pasti merana setelah ini, merindukan sentuhanmu...ehmm. Perempuan itu membalas tak kalah agresif, menekan dalam sekeras mungkin ke dasar rahimnya. Jadilah janin, jadilah janin, jadilah janin, amin doa dalam hatinya.


Jacob terhempas untuk ke sekian kali putaran. "Sayangku," desisnya suara bergetar tanda kepuasan terpancar di wajahnya. Pria itu menciumi Rose bertubi-tubi seluruh tubuhnya kembali diabsen. Khususnya area portal keluarnya Roh menjadi makhluk hidup.


Akh, Rose menggelinjang terkejut saat Jacob kembali memasuki nya. Pak Direktur...kamu mau berpisah atau gak sih keluh dalam hati Rose.

__ADS_1


*


Selesai jam istirahat siang, di ruangannya Maria Lili menekuk wajah saat mendapat laporan bahwa Jacob menginap di Hotel WJ ditemani Rose Diana.


Aaaaaaaa! Jerit wanita itu telah kehilangan suara karena kebanyakan teriak.


Kebenciannya pada Rose Diana sudah over de limit. Ruangan kantornya seperti kapal pecah, bahkan Dolken bersembunyi di balik lemari agar tidak terkena sasaran benda-benda beterbangan. "Aku tidak mau melihat perempuan itu di kantor ini barang semenit. Segera buat surat pemecatan, mengerti Ken!"


Hmmm, Dolken menghela nafas berat. "Mary...bukannya mau membela, tapi hari ini masih dalam masa kontrak sepuluh hari. Atas dasar apa memecatnya jika Jacob yang memerintah nya datang ke Hotel?"


"Jacoooob!" Teriak Maria Lili parau. "Di sini aku bosnya," sergah perempuan itu melotot pada Dolken yang mengintip dari balik lemari. "Sebaiknya kamu turuti perintahku, Ken!" Pekiknya dipaksa gak perduli putus urat leher.


Hais, beruntung ruangan kedap suara kalau tidak...jatuh harga diri Wakil Direktur batin Dolken. Pemuda itu menyalahkan Jacob yang perhatian lebih pada Rose Diana. Tapi meskipun pada wanita sebelumnya terkesan cuek, Dolken bergidik teringat 4 mantan istri kontrak Jacob sebelumnya. Apakah suatu kebetulan mereka serentak mati tercekik di kamar Hotel saat bercinta dengan pelanggan.


Gleg, jakun pemuda itu bergulung.


Lebih aman jika Rose masih karyawan JSP setidaknya untuk 3 bulan ke depan daripada berkeliaran di luar hanya mempercepat kematian. "Kalau dipecat masih harus mengeluarkan pesangon, kan! Kenapa tidak menunggu dia resign 3 bulan lagi," jawab pemuda itu takut-takut.


"Mary!" Dolken ingin membantah namun jadi keder saat dipelototi oleh saudara sepupunya itu. Ibu Dolken adalah adik tiri Papa Maria Lili. Masih syukur dirinya dianggap tidak seperti saudaranya yang lain, maka dengan berat hati Dolken meninggalkan Ruangan Wakil Direktur itu. Demi masa depannya...


Pemuda itu gelisah di luar ruangan Maria Lili. Menempelkan telinganya ke daun pintu tetap tidak mendengar apa-apa. Apa dia ngamuk lagi batin Dolken. Apa yang direncanakan wanita itu? Apa aku perlu memperingatkan Rose, bagaimana kalau ketahuan Mary dan dianggap memihak...hais dalam hati pemuda itu galau.


"Ngapain kamu menguping di pintu?"


Akh. Dolken terperanjat.


Menoleh pada Jacob di belakangnya dikawal dua orang yang baru kali ini dilihat pemuda itu. Tidak terlihat lelah sama sekali bahkan sangat fresh memancarkan cahaya kebahagiaan. Belum pernah ia melihat Jacob sesegar ini, Presiden Direktur itu bahkan tidak menyembunyikan beberapa tanda merah di lehernya. Ck ck ck, Rose Diana in dangerous batin Dolken geram pada keegoisan Jacob.


"Oh Jack, kau membuatku terkejut hahaha," tawanya dipaksa ceria. "Baru sampai sudah masuk kantor aja. Tidak istirahat dulu, Bos. Kan letih," goda Dolken basa-basi.

__ADS_1


"Ada apa dengannya?" Tanya Jacob datar, menunjuk pintu ruangan Maria Lili dengan memajukan dagunya.


"Tidak apa-apa," jawab Dolken cepat. "Makin tampan aja Pak Direktur," pujinya merubah topik pembicaraan.


Hum, percuma bertanya dalam hati Jacob segera berlalu dari hadapan Dolken menuju ruangannya. Diikuti kedua orang bodyguards, Tiger dan seorang Agen Junior.


Huh!


Dolken menghembuskan nafas lega, segera mengirim pesan wassup pada Maria Lili memberitahu kedatangan Jacob. Tidak menunggu lama pintu ruangan dibuka, Maria Lili keluar tergesa dengan wajah mengerikan. Hampir-hampir Dolken tidak mengenalinya. "Mary please," tahan pemuda itu.


"Lepas, Ken!" Maria Lili menyentak tangan Dolken.


Namun Dolken lebih kuat memegang wanita yang sedang kalap itu. "Tahan dirimu Mary! Ayo masuk dulu," pujuknya mendorong paksa Maria Lili kembali ke ruangan Wakil Direktur itu, kemudian menendang pintu tertutup.


"Apa kamu sudah bosan hidup?" Pekik Maria Lili.


Bukan hanya karir, nyawaku juga dipertaruhkan disini batin Dolken siap dengan resikonya. "Tenangkan dirimu Mary, jumpai Jack setelah emosi kamu reda oke. Ayo minum dulu," katanya lembut memberi Maria Lili sebotol air dingin dari kulkas.


"Aku tidak selera minum sekarang!" Teriak Maria Lili seketika melempar botol mengenai dinding langsung pecah saking kuatnya, air bertaburan membasahi lantai.


Gleg, jakun Dolken menggulung.


Bagaimana tadi kalau kena kepalaku bisa geger otak batin pemuda itu bertahan agar tidak tersulut emosi. Bisa kena bogem mentah ini wanita siluman. "Mary, semua telah berlalu seperti yang sudah-sudah. Lihatlah, pas sepuluh hari Jacob telah kembali." Dolken membawa Maria Lili duduk di sofa.


"Perempuan itu, Ken. Aku tidak mau melihatnya di gedung ini!"


"Aku tau," angguk Dolken mengecup bibir Maria Lili kilas. "Pindahkan dia ke bagian gudang agar jauh dari pandangan kamu, bila perlu ke gudang basement."


Ketok!

__ADS_1


"Aduh!" Pekik Dolken kaget, Maria Lili benar-benar menggetok ubun-ubunnya.


***to be continue.


__ADS_2