
Riwayat terakhir pertemuan mereka di mobil sungguh tidak mengenakkan, Rose tiba-tiba risih atas kehadiran Dolken. "Hallo juga," jawabnya pada mantan penghuni hatinya itu.
"Sudah tau aja tugasnya," kata Dolken sembari menghenyakkan bokong di meja kerja Jacob.
"Pak Direktur sudah memberitahu," jawab Rose menjadi tidak berselera melanjutkan pembicaraan.
Dolken memindai dari atas sampai bawah, liurnya menetes melihat Rose lebih cantik sepuluh kali lipat setelah pulang dari honeymoon. Hatinya perih teringat tanda merah dileher Jacob, pemuda itu menyesal tidak menanggapi perasaan yang ditunjukkan gadis ini padanya. "Gimana rasanya Pak Direktur, Rose?" Tanya Dolken walaupun pertanyaan itu membuat hatinya terluka.
Akh! Semakin risih ditanya hal paling intim dalam sebuah hubungan apalagi pada pria yang ternyata punya obsesi pada tubuhnya. "Gak gimana-gimana," jawab Rose manahan dirinya untuk tidak marah.
"Kita sudah boleh jadian kan Rose," kata Dolken.
Hmmm. Rose menghela nafas dalam. "Saya tidak ada rencana pacaran sebelum lulus kuliah, Pak." Jawabnya.
"Aku beri kamu uang jajan lima juta sebulan, Rose. Be my partner in bed please."
Partner in bed pala lu peyang dalam hati Rose kesal mendengar perkataan Dolken. Rasa ingin menyumbat mulutnya dengan kemoceng. "Maaf Pak. Saya sudah punya banyak uang," tolaknya pura-pura sibuk membersihkan bagian yang jauh dari posisi Dolken.
Kalau tidak ingat di ruangan ini ada CCTV yang langsung ke ponsel Jacob sudah ku habisi kau batin pemuda itu kecewa meski sudah menduga akan mendapat penolakan. Menatap sayu pada bokong Rose yang telah dihajar terlebih dahulu oleh Jacob. Kurang ajar dalam hatinya. "Cis! Sekarang kamu berlagak Rose," ujar Dolken cemberut.
Memang sih masih imut. Seumpama gak ada Jacob tentu sulit bagiku melupakan mu Pak, kata dalam hati Rose. Benar-benar takut pada tatapan Dolken yang seperti mau menerkam tapi gak tau bagaimana cara mengusir nya..akh. "Bantuin dong! Jangan cuma liatin orang kerja," ketus nya.
"Cieh! Gua juga punya kerjaan kali, bye!" Kata Dolken langsung meninggalkan ruangan Direktur.
"Hhaaaaaah." Rose menarik nafas lega. "Syukurlah Alhamdulillah," ucapnya.
*
Dari pukul 07.45wib Rose membersihkan ruangan, 09.45wib Saat ingin duduk santai ia dipanggil ke ruangan Wakil Direktur.
Deg deg deg, spontan jantung nya berdebar karena takut bertemu Maria Lili. Mana Jacob belum datang lagi, aih. Di ruangan itu ada Dolken selain wanita menyeramkan yang duduk melotot di kursi kebesarannya. "Pagi Bu," sapa Rose menunduk hormat.
Teringat tanda merah di leher Jacob, ingin rasanya Maria Lili merobek mulut Rose serta mencabik-cabik kewanitaannya yang telah lancang meniduri suaminya. "Kamu minum obatnya," tanya wanita itu menatap Rose tajam.
Huh, beruntung tadi saat di mobil Mawar mengingatkan tentang pil, sehingga sempat membuang beberapa butir untuk menyesuaikan hari-harinya selama di Resort. "Ada Bu," jawab Rose mengeluarkan dari saku seragamnya.
"Bagus. Kapan kamu seharusnya datang bulan?"
__ADS_1
Kapan Ibu bilang Pak Direktur impoten? Pertanyaan itu urung dilontarkan nya melihat betapa seramnya wajah Maria Lili saat ini. "Saat ke Kalimantan saya baru dapet, Bu. mungkin dua mingguan lagi," jawab Rose bohong.
"Kamu tau dimana Jacob sekarang?"
Aih, benarkah Maria Lili gak tau atau sekedar mengujiku dalam hati Rose. "Semalam terakhir masih di Hotel WJ Bu," jawabnya.
"Kamu!" Tunjuk Wakil Direktur itu ke wajah Rose. "Mulai sekarang jaga jarak dengan suamiku! Jangan coba-coba ngelunjak meski Jacob membelamu," kecamnya.
"Baik Bu," jawab Rose suara bergetar. Jacob please tolong aku dalam hatinya.
"Aku mengawasi kamu sampai datang bulan berikutnya. Akan memanggilmu dua minggu lagi atau jika bulan itu datang sebelum dua minggu segera melapor. Paham!"
Rose bergidik teringat kata Lesty tentang istri kontrak yang mati mengenaskan. "Mengerti Bu," ujarnya hampir tidak kedengaran saking pelannya.
"Keluarlah," titah Maria Lili.
Keluar dari ruangan Wakil Direktur seperti keluar dari lorong yang sempit dan gelap, huh! Rose menarik nafas lega. Di depan pintu ruangan Jacob mbak sekretaris menegurnya. "Apa kata Mary, Rose?"
"Gak apa-apa mbak," jawab Rose.
"Aku tau kamu pergi dengan Jack."
"Pagi Pak Direktur," sapa Mbak Sekretaris tak kuasa menutupi rasa terkejutnya. Rose hanya diam ikut menunduk mengikuti sekretaris.
"Kamu ikut ke ruangan ku," titah Jacob pada Rose.
"Ehm," angguk Rose kembali menunduk. Mengikuti Pak Direktur di belakangnya.
Hah!
Sekretaris tercengang saat kedua bodyguard menunduk hormat pada Rose, mengawalnya berjalan di depan mereka. Hebat sekali pelet perempuan ini bisa mendapat penghormatan setinggi itu padahal baru masuk kerja dalam hatinya. Sepertinya akan ada korban baru seketika bulu kuduk wanita itu berdiri. Bertambah heran saat melihat Jam, Jacob sudah muncul sebelum jam 10. Apa matahari terbit dair Barat?
*
Jacob meletakkan satu bangku di sisi sebelah kiri mejanya. "Kamu duduk disini," katanya pada Rose.
Ha! "Tidak bisakah saya duduk di situ saja." Rose menunjuk Sofa. "Wakil Direktur meminta saya jaga jarak dengan anda Pak," ujarnya.
__ADS_1
"Di ruangan ini aku bosnya atau Wakil Direktur?" Tanya Jacob melotot pada Rose.
Ih! Apa selain bersih-bersih tugasku disuruh ngeliatin dia kerja dalam hati Rose segera duduk dengan canggung. Salah satu Bodyguard meletakkan tiga tumpuk berkas setinggi kepala Rose di atas meja Jacob, jadi sebenarnya ia tidak bisa menikmati wajah tampan Pak Direktur. Syukurlah, kalau gak betapa romantis kerja saling memandang dalam hati Rose tersenyum geli.
"Kamu pisahkan menurut tahun, kemudian bulan lalu urat kan tanggal," kata Jacob.
"Baik Pak Direktur," jawab Rose.
Tok tok tok.
Bodyguard yang meletakkan berkas di meja Jacob jadi seksi sibuk membuka pintu, sementara Tiger duduk manis di sofa mengamati layar Laptop di depannya.
"Pak Direktur mau dibuatkan kopi rasa apa hari ini?" Tanya Sekretaris.
"Nanti saja," geleng Jacob tanpa menoleh.
"Baik Pak."
Rose terpandang Sekretaris yang juga menatapnya dengan raut cemburu serta rasa penasaran.
"Kamu pindahkan semua ke dalam ruangan saya," kata Jacob pelan.
"Ha!" Langkah sekretaris tertahan di pintu.
"Kamu tidak dengar," gumam Jacob tambah pelan.
"Saya akan bantu anda," kata Bodyguards mengajak si sekretaris keluar. Tidak lama ia masuk dengan sekeranjang kopi berbagai varian sekalian satu set teko perebus air.
Rose kagum melihat sikap dingin Jacob pada karyawan perempuan itu. Rasa tak percaya saat membayangkan sisi lainnya yang hangat dan lembut saat bercumbu dengannya. Manahan ngantuk Rose memilah berkas di depannya, sakit mata sakit otak ternyata lebih enak jadi Klining servis biasa. Selesai tugas bisa santai bareng Ema ngobrol ngalor ngidul, hai nasib.
Seterusnya tidak ada dari mereka yang bicara, Rose teringat pesan teman-teman yang ingin ditraktir Pizza. Sekarang 10.55wib sudah buka kali batinnya, dari balik berkas-berkas tangannya diam-diam membuat pesanan lebih awal namun tetap minta diantar 10 menit sebelum jam istirahat 12.45wib.
"Kamu menghubungi pacarmu saat jam kerja," tegur Jacob.
"Hah," Rose kaget. "Tidak Pak," jawabnya cepat. Apa penglihatannya tembus pandang masa di bawah meja bisa kelihatan, dalam hati Rose mengerut kening.
"Siapa yang kamu hubungi?" Tanya Jacob mendongak padanya.
__ADS_1
Rose menantang tatapan pria itu. "Apa saya tidak diperbolehkan punya rahasia?"
***to be continued.